Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Teladan Dua Pemimpin tentang Warisan Terbaik

Iklan Landscape Smamda
Teladan Dua Pemimpin tentang Warisan Terbaik
Oleh : Ima Luthfiningrum Anggota Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Daerah Aisyiyah Sidoarjo, Pengajar Pondok Pesantren Al Fattah Sidoarjo

Sebagai orang tua, jujur saja, apa yang paling sering membuat kita cemas saat memikirkan masa depan anak-anak?

Sebagian besar dari kita mungkin akan menjawab: isi rekening, tabungan pendidikan, atau aset properti yang bisa diwariskan nanti.

Kita sering kali memeras keringat siang dan malam, egois mengumpulkan materi, dengan satu alasan klise: “agar anak-cucu tidak hidup susah.”

Namun, benarkah tumpukan harta menjadi garansi mutlak kebahagiaan dan keselamatan mereka? Sejarah Islam punya sebuah cerita berharga yang rasanya menampar cara pandang kita selama ini.

Dialog Sang Khalifah dan Sang Ulama 

Kisah ini bermula saat Khalifah Al-Mansur baru saja memegang tampuk kekuasaan tertinggi di Kekhilafahan Abbasiyah.

Sadar bahwa kursi jabatan itu panas dan penuh ujian, ia mengundang seorang ulama sekaligus ahli tafsir terkemuka, Muqatil bin Sulaiman.

“Wahai Muqatil, beri aku nasihat,” pinta Sang Khalifah.

Muqatil menatap tajam sang pemimpin, lalu memberikan pilihan menarik:

“Anda ingin mendengar nasihat berdasarkan apa yang pernah aku dengar, atau dari apa yang aku saksikan langsung dengan mata kepalaku sendiri?”

“Tentu saja dari apa yang kamu lihat langsung,” jawab Al-Mansur.

Maka, mengalirlah sebuah kesaksian sejarah yang luar biasa tentang nasib anak-anak dari dua pemimpin besar terdahulu.

Dua Potret Warisan dan Pembalikan Nasib yang Nyata 

Muqatil kemudian membandingkan dua sosok khalifah.

Pertama, Umar bin Abdul Aziz. Siapa yang tidak kenal keadilannya?

Beliau memimpin dengan sangat hati-hati, bahkan menolak menggunakan fasilitas negara untuk urusan pribadi.

Ketika ajal menjemput, beliau hanya meninggalkan harta total 18 dinar saja.

Bayangkan, uang sesedikit itu masih harus dipotong 5 dinar untuk kain kafan dan 4 dinar untuk biaya penguburan.

Sisanya? Hanya 9 dinar yang harus dibagi rata untuk 11 orang anaknya.

Jika dihitung, satu anak bahkan tidak memegang sampai 1 dinar. Secara materi, anak-anak Umar adalah potret anak yatim yang miskin.

Sedangkan potret kedua adalah Hisyam bin Abdul Malik. Khalifah setelahnya ini hidup dalam kemewahan yang luar biasa.

Saat wafat, beliau meninggalkan warisan yang bikin geleng-geleng kepala.

Beliau juga punya 11 anak, tetapi masing-masing anak mendapatkan bagian sebesar 1 juta dinar!

SMPM 5 Pucang SBY

Sebuah angka yang sangat fantastis yang menjamin mereka menjadi miliarder instan.

Waktu terus berjalan, dan takdir memainkan perannya.

Muqatil bin Sulaiman menceritakan _plot twist_ kehidupan yang ia saksikan sendiri di pasar dan jalanan. Sebuah realitas yang di luar dugaan manusia.

“Demi Allah, wahai Amirul Mukminin,” kenang Muqatil dengan suara bergetar.

“Di satu hari yang sama, aku melihat salah seorang anak Umar bin Abdul Aziz yang dulu hampir tak punya warisan uang mampu menyumbangkan 100 ekor kuda perang lengkap dengan senjatanya demi perjuangan di jalan Allah. Sementara di hari yang sama pula, aku melihat dengan mata kepalaku, salah satu anak Hisyam bin Abdul Malik yang dulu menerima sejuta dinar malah mengemis, meminta-minta belas kasihan orang di pasar.”

Bagaimana mungkin anak yang tak dibekali harta justru tumbuh menjadi dermawan yang kaya raya, sementara anak yang diselimuti kemewahan malah jatuh miskin hingga menjadi pengemis?

Kunci Rahasia dan Investasi Iman Orang Tua Modern 

Teka-teki kehidupan ini sebenarnya sudah dijawab sendiri oleh Umar bin Abdul Aziz sesaat sebelum hembusan napas terakhirnya.

Waktu itu, orang-orang terdekatnya bertanya dengan nada cemas, “Apa yang engkau tinggalkan untuk masa depan anak-anakmu?”

Jawaban Umar sangat meneduhkan sekaligus sarat akan prinsip pedagogi Islam yang kuat:

“Aku meninggalkan ketakwaan kepada Allah untuk mereka. Jika anak-anakku tumbuh menjadi orang yang sholeh, maka Allah-lah yang akan langsung menjaga, mendidik, dan menjamin hidup mereka. Tetapi jika mereka menjadi orang yang buruk, aku tidak sudi meninggalkan harta yang hanya mereka pakai sebagai modal bermaksiat kepada Allah”.

Umar bin Abdul Aziz sangat memegang teguh janji Allah. Beliau yakin betul pada konsep jaminan Ilahi.

Baginya, mendidik anak agar takut kepada Allah jauh lebih aman daripada menimbun harta yang belum tentu bisa dikelola dengan benar.

Kisah nyata ini menjadi bahan evaluasi besar bagi kita, para orang tua di era modern. Kita sering terlalu sibuk les sana-sini, menyiapkan asuransi, dan menghitung aset untuk anak, tapi abai membangun jangkar keimanan dan karakter di dalam dada mereka.

Harta yang melimpah, jika jatuh ke tangan anak yang miskin mentalitas agama, justru akan berubah menjadi alat perusak diri.

Sebaliknya, anak yang dibekali dengan ketakwaan, kemandirian, dan integritas moral akan selalu menemukan jalan keluar dalam setiap impitan hidup.

Mereka tahu cara menjemput rezeki yang halal dan tahu bagaimana membelanjakannya dengan berkah.

Warisan terbaik bukanlah apa yang kita simpan di rekening bank atas nama anak-anak kita, melainkan nilai-nilai tauhid yang kita tancapkan di jiwa mereka.

Mari belajar dari Umar bin Abdul Aziz: fokuslah membentuk kesalehan anak, maka biarkan Allah yang menjamin masa depan mereka.Wallahu a’lam bish-shawab.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 29/07/2026 23:32
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu