Ketika mendengar istilah birrul walidain, kebanyakan dari kita langsung membayangkan sosok anak yang selalu patuh kepada orang tua. Anak menuruti nasihat mereka, memenuhi permintaan mereka, serta menjaga kehormatan dan nama baik keluarga sebagai wujud nyata bakti kepada orang tua.
Bahkan, dalam banyak keadaan, masyarakat menganggap bahwa menolak atau berbeda pendapat dengan orang tua adalah sesuatu yang tidak pantas dilakukan.
Pandangan tersebut tentu tidak sepenuhnya salah. Islam memang menempatkan bakti kepada orang tua sebagai salah satu amalan yang memiliki kedudukan sangat mulia.
Orang tua telah berkorban sejak membesarkan, mendidik, dan merawat anak, sehingga hal itu menjadi alasan mengapa seorang anak harus memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang, hormat, dan penghargaan.
Ketaatan kepada Orang Tua dalam Bingkai Ketaatan kepada Allah
Namun, ada pertanyaan mendasar yang sering terlewatkan: siapa sebenarnya yang memerintahkan kita untuk berbakti kepada orang tua?
Jawabannya adalah Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Kesadaran inilah yang perlu dipahami dengan baik.
Sebab, ketaatan kepada orang tua tidak berdiri sendiri, melainkan berada dalam bingkai ketaatan kepada Allah.
Karena itu, apabila suatu saat seorang anak menghadapi perintah orang tua yang bertentangan dengan ketentuan syariat, ia tidak wajib menaati perintah tersebut.
Meski demikian, anak tetap harus menyampaikan penolakan itu dengan cara yang santun, penuh hormat, dan tanpa mengurangi sikap baik kepada keduanya.
Berbakti pada masa kini tidak hanya sekadar membersihkan rumah seperti menyapu dan mengepel lantai. Lebih dari itu juga mencakup perbedaan pandangan atau bahkan ideologi orang tua.
Tantangannya muncul ketika orang tua memaksakan ideologi atau pemahamannya kepada anak, padahal anak mengetahui bahwa ideologi dan pemahaman tersebut menyimpang dari syariat dan berbahaya bagi kehidupan.
Jika mencermati lebih dalam, persoalan ini tidak muncul begitu saja. Perubahan zaman membawa tantangan baru dalam hubungan antara anak dan orang tua.
Antara Hormat, Perbedaan, dan Keteguhan Prinsip
Dahulu, orang memperoleh informasi dari lingkungan sekitar, tokoh agama, atau buku-buku tertentu. Kini, masyarakat mengakses berbagai informasi hanya melalui telepon genggam dalam hitungan detik.
Orang tua pun ikut menjadi bagian dari perubahan tersebut. Mereka menerima beragam nasihat, potongan video, kutipan motivasi, hingga opini yang beredar bebas di media sosial.
Sayangnya, tidak semua informasi itu dapat dipertanggungjawabkan. Tidak sedikit informasi dengan kemasan yang seolah-olah sebagai kebenaran, padahal bertentangan dengan nilai-nilai agama maupun akal sehat.
Keadaan ini sering memunculkan perbedaan pandangan di dalam keluarga.
Hal ini bukan karena orang tua tidak menyayangi anaknya atau sebaliknya, melainkan karena setiap orang memiliki latar belakang pengalaman dan kemampuan menyaring informasi yang berbeda.
Ketika bekal ilmu agama dan sikap kritis tidak berjalan beriringan, seseorang akan kesulitan membedakan mana yang benar dan mana yang keliru.
Dalam situasi seperti ini, seorang anak perlu bersikap bijaksana.
Ia tidak boleh tergesa-gesa membenarkan segala sesuatu hanya karena berasal dari orang yang ia hormati, tetapi ia juga tidak boleh bersikap kasar, meremehkan, atau merasa paling benar di hadapan orang tua.
Al-Qur’an memberikan teladan yang sangat indah melalui kisah Nabi Ibrahim a.s.
Pada masa itu, masyarakat tenggelam dalam kesyirikan dan penyembahan berhala.
Bahkan, ayah Nabi Ibrahim sendiri membuat dan memperjualbelikan berhala tersebut.
Namun, Nabi Ibrahim tidak serta-merta mengikuti keyakinan ayahnya atas nama bakti.
Beliau menolak kesyirikan itu, tetapi tetap menjaga adab dalam berbicara dan bersikap.
Sikap ini menunjukkan bahwa mempertahankan prinsip kebenaran tidak harus diwujudkan dengan kemarahan dan permusuhan.
Dari kisah tersebut, kita belajar bahwa birrul walidain bukanlah ketaatan tanpa batas.
Ketaatan kepada orang tua berada dalam koridor ketaatan kepada Allah. Ketika orang tua memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan syariat, seorang anak tidak wajib mengikutinya.
Akan tetapi, anak tetap harus melakukan penolakan itu dengan cara yang santun, penuh penghormatan, dan tanpa menyakiti hati mereka.
Menjaga adab ketika berbeda pendapat justru menjadi bukti kedewasaan seorang anak dalam memahami ajaran agamanya.
Di sisi lain, bakti kepada orang tua tidak boleh dipersempit hanya pada menaati perintah mereka atau memenuhi kebutuhan materi.
Banyak bentuk bakti yang sering luput dari perhatian. Anak yang mendengarkan cerita dan keluh kesah orang tua, meluangkan waktu untuk menemani di tengah kesibukan, membantu pekerjaan mereka, berbicara dengan tutur kata yang lembut, mendoakan mereka dalam setiap kesempatan, hingga menjaga nama baik keluarga, semuanya termasuk bagian dari birrul walidain.
Tidak sedikit orang tua yang sebenarnya lebih merindukan perhatian dan kehadiran anak-anaknya daripada pemberian materi.
Pada akhirnya, bakti kepada orang tua adalah tentang menjaga keseimbangan antara iman dan adab.
Seorang Muslim harus tetap teguh memegang prinsip agama, sekaligus terus menghormati dan memuliakan kedua orang tuanya.
Kecintaan kepada orang tua tidak boleh membuat seseorang mengorbankan keyakinan yang ia yakini benar, sebagaimana semangat menjaga kebenaran juga tidak boleh menjadikannya anak yang kasar dan kehilangan rasa hormat.
Di tengah era yang penuh fitnah, derasnya arus informasi, serta berbagai kebingungan yang menyertainya, kemampuan untuk tetap berbuat baik kepada orang tua tanpa meninggalkan tuntunan agama merupakan salah satu wujud birrul walidain yang paling nyata.
Dengan demikian, bakti bukan sekadar selalu berkata “iya”, melainkan menghadirkan cinta, penghormatan, dan kebijaksanaan dalam setiap sikap kepada mereka.***





0 Tanggapan
Empty Comments