Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Merawat Akal dalam Islam: Mengapa Menjaganya Menjadi Kunci Keimanan dan Ilmu?

Iklan Landscape Smamda
Merawat Akal dalam Islam: Mengapa Menjaganya Menjadi Kunci Keimanan dan Ilmu?
Foto: Istimewa
Oleh : Dr. Ajang Kusmana Staf Pengajar AIK UMM

Mulianya manusia terletak pada akal karena karunia ini membedakannya dari makhluk lain, menjadi alat pembeda benar dan salah, serta landasan dalam mengemban tanggung jawab moral.

Fungsi Utama Akal

• Membedakan nilai: Memilah kebaikan dari keburukan.

• Menerima ilmu: Menyerap pengetahuan dan kebenaran.

• Dasar tanggung jawab: Menjadi syarat sah beban hukum (taklif).

Batas dan Arahan

• Butuh bimbingan: Akal perlu dituntun oleh ajaran agama atau wahyu.

• Tidak mutlak: Ada wilayah gaib yang tidak mampu dijangkau logika murni.

Merawat dan memelihara akal (hifzhul ‘aql) adalah bagian penting dari hifdzul khomsah (lima prinsip dasar kemaslahatan hukum Islam atau al-kulliyatu al-khamsah). Prinsip ini bertujuan menjaga akal manusia dari kerusakan agar dapat berfungsi dengan baik untuk memahami kebenaran.

1. Wahab bin Munabbih rahimahullah mengatakan:

قرأت في بعض ما أنزل الله تعالى إن الشيطان لم يكابد شيئا أشد عليه من مؤمن عاقل

“𝘈ku baca pada sebagian apa yang diturunan Allah SWT bahwa tidak ada yang lebih membuat setan menderita dibanding muknin yang berakal.”

Pernyataan tersebut bermakna bahwa orang beriman yang menggunakan akal sehat dan ilmunya adalah ancaman terbesar bagi setan, karena mereka:

• Sulit ditipu oleh tipu daya atau godaan jahat.

• Tahu ilmu agama sehingga bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

• Cepat sadar dan bertaubat jika berbuat salah

SMPM 5 Pucang SBY

Beliau juga berkata :

وإن الرجلين ليستويان في البر ويكون بينهما في الفضل كما بين المشرق والمغرب بالعقل وما عبد الله بشيء أفضل من العقل

“𝘋𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘬𝘪-𝘭𝘢𝘬𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘢𝘥𝘢𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘮𝘶𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘳𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘶𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘭.”

Pernyataan tersebut bermakna bahwa kualitas amal kebaikan seseorang sangat ditentukan oleh tingkat kebijaksanaan akalnya, di mana akal yang lurus membuat derajat keutamaan manusia menjadi sangat jauh berbeda bagaikan jarak antara timur dan barat.

2. Muadz bin Jabal radhiyallahu’anhu berkata :

لو أن العاقل أصبح وأمسى وله ذنوب بعدد الرمل كان وشيكا بالنجاة والتخلص منها ولو أن الجاهل أصبح وأمسى وله من الحسنات وأعمال البر عدد الرمل لكان وشيكا أن لا يسلم له منها مثقال ذرة قيل وكيف ذلك قال إن العاقل إذا زل تدارك ذلك بالتوبة والعقل الذي رزقه والجاهل بمنزله الذي يبني ويهدم فيأتيه من جهله ما يفسد صالح عمله

“𝘚𝘦𝘢𝘯𝘥𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘨𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘰𝘳𝘦 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘫𝘶𝘮𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘴𝘪𝘳 𝘯𝘪𝘴𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵𝘪 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢. 𝘚𝘦𝘢𝘯𝘥𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘰𝘳𝘦 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘮𝘢𝘭 𝘴𝘩𝘢𝘭𝘪𝘩 𝘴𝘦𝘫𝘶𝘮𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘴𝘪𝘳 𝘯𝘪𝘴𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘸𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘢𝘵𝘰𝘮.

Lalu ada orang bertanya : “𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶?” 𝘉𝘦𝘭𝘪𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣: “𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘣𝘢𝘪𝘬𝘪 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘶𝘣𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘻𝘬𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘚𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘯𝘤𝘶𝘳𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘦𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘬 𝘢𝘮𝘢𝘭 𝘴𝘩𝘢𝘭𝘪𝘩𝘯𝘺𝘢.”

3. Hasan al Bashri rahimahullah berkata :

لا يتم دين الرجل حتى يتم عقله وما أودع الله امرأ عقلا إلا استنقذه به يوما

“𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘶𝘳𝘯𝘢 𝘢𝘨𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘶𝘳𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘵𝘪𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘵𝘶.”

Pernyataan tersebut merupakan atsar (ucapan) dari seorang tabi’in besar bernama Al-Hasan al-Bashri, yang bermakna bahwa akal yang sehat dan lurus adalah alat utama untuk memahami ajaran agama secara benar serta menuntun manusia pada keselamatan.
Korelasi Akal dan Agama: Agama tidak bisa dijalankan secara utuh dan benar tanpa fungsi akal yang sehat. Akal adalah syarat (manath) taklif atau beban hukum agama diberikan kepada seseorang.

Fungsi Penyelamatan: Karunia akal yang dititipkan Allah SWT kepada manusia berfungsi sebagai penuntun untuk membedakan benar dan salah, sehingga kelak ia bisa menyelamatkan dirinya dari keburukan di dunia dan siksa di akhirat.

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 26/07/2026 19:14
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu