Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Selamat Datang di Era Literasi Instan: Saat TikTok Mengalahkan Buku dan Google

Iklan Landscape Smamda
Selamat Datang di Era Literasi Instan: Saat TikTok Mengalahkan Buku dan Google
Oleh : Agus Triyono Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta

“Coba cek di TikTok atau Instagram”

Kalimat itu kini muncul begitu saja di tengah diskusi kelas. Ringan, spontan, namun menyimpan perubahan besar. Dulu, refleks kita adalah “Googling saja” atau “buka situs resminya.” Kini, bagi banyak mahasiswa, mesin pencari terasa seperti gudang arsip—lengkap, tetapi dingin dan tidak selalu menarik.

Hari ini, mencari informasi bukan lagi sekadar membaca teks panjang. Meskipun mesin pencari telah menghadirkan fitur ringkasan, hal itu belum sepenuhnya menjawab kebutuhan pengguna. Orang ingin melihat, mendengar, dan merasakan—bukan hanya mengetahui. Mereka menginginkan pengalaman.

Video pendek menghadirkan kesan “hadir langsung”: ada wajah, ekspresi, suara, bahkan emosi. Di situlah kepercayaan sering kali tumbuh. Bagi banyak orang, apa yang tampak di layar terasa lebih nyata dibandingkan informasi dalam bentuk teks di halaman web.

Sebaliknya, teks sering dianggap terlalu rapi, terlalu terstruktur, bahkan terasa kaku. Tak heran jika banyak orang beralih ke media sosial, mencari sesuatu yang lebih hidup—pengalaman, cerita, dan kesan yang terasa jujur. Mereka ingin melihat proses yang tidak selalu sempurna, mendengar cerita kegagalan, dan menyaksikan ekspresi yang autentik.

Namun di titik ini, muncul pertanyaan penting: ketika yang terlihat menjadi ukuran kebenaran, masih adakah ruang untuk memeriksa lebih dalam?

Literasi Instan dan Risiko Dangkalnya Pemahaman

Di sinilah tantangan literasi kita hari ini. Ketika visual menjadi dominan, kita berisiko berhenti di permukaan. Kita merasa cepat tahu, padahal belum tentu benar-benar memahami.

Kebiasaan memeriksa, membandingkan, dan menguji informasi perlahan tergeser oleh budaya scroll lalu percaya.

Kita mulai terbiasa dengan pengetahuan instan—cepat, menarik, tetapi dangkal. Ibarat makanan cepat saji: mengenyangkan rasa penasaran, tetapi miskin gizi pemikiran. Kita mengetahui banyak hal secara terpotong-potong, namun kesulitan merangkainya menjadi pemahaman yang utuh.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, kita berpotensi menjadi masyarakat yang reaktif: cepat bereaksi, mudah terpancing, tetapi kurang reflektif. Kita tahu apa yang terjadi, tetapi kehilangan ketajaman untuk bertanya “mengapa” dan “bagaimana”.

SMPM 5 Pucang SBY

Lalu, apakah visual harus ditolak? Tentu tidak.

Yang dibutuhkan bukan penolakan, melainkan keseimbangan. Video pendek dapat menjadi pintu masuk—pemantik rasa ingin tahu. Namun, kita tidak boleh berhenti di sana.

Informasi penting perlu dilihat dari berbagai sisi. Harus dicek ulang, dibandingkan, dan ditelusuri ke sumber yang lebih lengkap. Kembali ke dokumen asli, membaca konteks, serta membuka perspektif lain adalah bagian dari tanggung jawab sebagai konsumen informasi.

Di tengah banjir informasi, kemampuan verifikasi menjadi kunci. Bukan hanya agar tidak salah, tetapi agar tetap waras dalam memahami dunia.

Masalah kita hari ini bukan karena kekurangan informasi, melainkan karena jumlahnya yang terlalu melimpah.

Pada akhirnya, membaca bukan sekadar aktivitas memahami teks. Ia adalah sikap: tidak terburu-buru percaya, berani bertanya lebih jauh, dan tekun memahami secara utuh.

Di tengah derasnya arus visual, yang perlu kita jaga bukan hanya kebiasaan membaca, tetapi juga kedalaman berpikir. Jangan sampai kita merasa paling paham hanya karena melakukan scroll singkat.

Sebab di situlah martabat kita sebagai manusia komunikasi dipertahankan.

Revisi Oleh:
  • Satria - 22/04/2026 12:55
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu