Gagasan besar kembali bergulir di jantung dunia Islam. Arab Saudi dan Turki tengah mematangkan rencana pembangunan jalur kereta lintas negara yang akan menghubungkan Jeddah hingga Istanbul, melintasi kota-kota suci Mekkah dan Madinah.
Lebih dari sekadar proyek infrastruktur, jalur ini membawa harapan besar: menghidupkan kembali konektivitas peradaban Islam yang pernah berjaya.
Menghubungkan Kota Suci dan Pusat Peradaban
Rencana tersebut saat ini masih dalam tahap studi kelayakan yang ditargetkan rampung pada akhir 2026. Meski belum masuk tahap konstruksi, arah proyek sudah jelas, yakni menghubungkan pusat spiritual umat Islam dengan pusat sejarah peradaban Islam di Istanbul.
Jalur ini juga dirancang melintasi Yordania dan Suriah, menjadikannya koridor darat strategis yang menghubungkan kawasan Teluk hingga Eropa.
Menteri Transportasi Arab Saudi, Saleh Al-Jasser, menegaskan bahwa proyek ini bukan hanya soal transportasi.
“Jalur ini akan meningkatkan integrasi regional, mendukung perdagangan, dan mengembangkan sistem transportasi darat yang berkelanjutan antarnegara,” ujarnya dilansir dari inilah.com, Ahad (3/5/2026).
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa proyek ini diarahkan untuk memperkuat hubungan antarnegara Muslim sekaligus membuka jalur perdagangan baru yang lebih efisien.
Poros Baru Logistik Dunia Islam
Jalur kereta ini diproyeksikan menjadi penghubung strategis dari Jeddah, melintasi Mekkah dan Madinah, kemudian menuju Yordania, Suriah, hingga Istanbul.
Kehadiran jalur ini akan memperkuat posisi Arab Saudi sebagai pusat logistik global. Distribusi barang dan mobilitas manusia diharapkan menjadi jauh lebih cepat dan efisien.
Saat ini, Arab Saudi telah memiliki jaringan logistik terintegrasi, termasuk jalur rel hingga perbatasan Yordania melalui Al-Haditha. Kapasitas pelabuhannya pun mampu menangani lebih dari 17 juta kontainer per tahun.
Tahap awal proyek difokuskan pada penguatan jaringan rel di Turki, Suriah, dan Yordania sebagai tulang punggung konektivitas.
Pada awal April, Menteri Transportasi Turki Abdulkadir Uraloglu melakukan pertemuan trilateral bersama Suriah dan Yordania di Amman. Pertemuan tersebut menghasilkan nota kerja sama untuk memperkuat konektivitas kawasan dan memperlancar arus perdagangan.
Menghidupkan Kembali Warisan Jalur Hijaz
Ambisi besar ini sejatinya bukan hal baru. Lebih dari satu abad lalu, dunia Islam telah memiliki proyek serupa yang menjadi simbol persatuan: Kereta Api Hijaz.
Pada awal abad ke-20, Sultan Abdülhamid II dari Kekaisaran Utsmani menggagas pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan Istanbul dengan Hijaz.
Tujuannya jelas, memudahkan perjalanan haji, memperkuat keamanan wilayah, serta meningkatkan konektivitas antarwilayah.
Sebelum jalur ini dibangun, perjalanan dari Istanbul ke Madinah dapat memakan waktu hingga dua bulan menggunakan karavan unta, penuh risiko dan tantangan.
Kehadiran kereta api mengubah segalanya. Perjalanan tersebut dapat ditempuh hanya dalam waktu sekitar 72 jam.
Pembangunan dimulai pada tahun 1900 dari Damaskus dan berhasil mencapai Madinah pada 1908 dengan panjang jalur lebih dari 1.400 kilometer.

Simbol Persatuan Dunia Islam
Salah satu hal paling menarik dari Kereta Api Hijaz adalah sumber pendanaannya.
Proyek ini didukung oleh donasi umat Islam dari berbagai penjuru dunia, mulai dari Maroko, Mesir, India, hingga Afrika Selatan. Bahkan non-Muslim dan masyarakat Eropa turut berkontribusi.
Semangat kolektif tersebut menjadikan Kereta Api Hijaz sebagai simbol persatuan umat Islam yang sulit ditandingi.
Selain mempermudah ibadah haji, jalur ini juga mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah yang dilaluinya serta memperkuat mobilitas pasukan dan logistik.
Terhenti oleh Perang, Bangkit Kembali oleh Harapan
Sayangnya, kejayaan tersebut tidak bertahan lama. Perang Dunia I menghentikan operasional Kereta Api Hijaz. Banyak jalur rusak akibat konflik dan sabotase, hingga akhirnya proyek besar itu terhenti.
Kini, lebih dari satu abad kemudian, semangat yang sama kembali dihidupkan dalam wajah baru yang lebih modern dan ambisius.
Rencana jalur Jeddah–Istanbul menjadi seperti kelanjutan dari mimpi lama yang sempat terputus oleh sejarah.
Menanti Realisasi Proyek Raksasa
Meski menjanjikan dampak besar, proyek ini masih berada dalam tahap awal. Detail terkait rute pasti, pembiayaan, dan jadwal pembangunan belum diumumkan.
Tantangan geopolitik kawasan juga menjadi faktor penting yang akan menentukan realisasinya.
Namun jika berhasil diwujudkan, jalur ini berpotensi menjadi salah satu proyek infrastruktur terbesar di kawasan.
Bukan hanya menghubungkan kota-kota suci dan pusat ekonomi, tetapi juga membangun kembali jembatan peradaban dunia Islam.
Pada akhirnya, rel kereta bukan sekadar besi yang membentang di atas tanah. Ia adalah simbol perjalanan panjang sebuah peradaban—dari masa lalu yang gemilang menuju masa depan yang penuh harapan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments