Oleh: Dr Teguh Luhuringbudi MA
Akademisi Approaches to Islamic Studies
KHUTBAH PERTAMA
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الْخَبَائِثَ وَأَحَلَّ الطَّيِّبَاتِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ. أَمَّا بَعْدُ، فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ.
Segala puji bagi Allah yang mengharamkan segala yang kotor dan menghalalkan yang baik. Marilah kita bertakwa kepada Allah dengan sungguh-sungguh (takwa yang bukan hanya hadir di masjid, tetapi juga hadir di layar telepon genggam kita).
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ
Yā ayyuhal-ladzīna āmanū qū anfusakum wa ahlīkum nāran waqūduhan-nāsu wal-ḥijārah.
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS At-Tahrim [66]: 6)
Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah
Ada sebuah pemandangan yang mungkin kita temui di rumah kita sendiri. Seorang anak duduk tenang di kamarnya, tidak keluar rumah, tidak bergaul dengan preman, tidak menyentuh minuman keras. Tetapi di balik layar lima inci itu, ia sedang kehilangan tabungan, kehilangan waktu, dan pelan-pelan kehilangan dirinya. Ia sedang berjudi. Judi hari ini tidak lagi berbentuk meja hijau dan kartu remi; ia berbentuk aplikasi berwarna cerah, bonus pendaftaran, putaran gratis, dan iklan yang menyusup di sela-sela video yang kita tonton bersama keluarga.
Allah menyebut judi dalam satu barisan dengan khamar, dan bukan tanpa alasan. Keduanya sama-sama bekerja dengan cara merampas akal sehat:
إِنَّمَا ٱلْخَمْرُ وَٱلْمَيْسِرُ وَٱلْأَنصَابُ وَٱلْأَزْلَٰمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ ٱلشَّيْطَٰنِ فَٱجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Innamal-khamru wal-maisiru wal-anṣābu wal-azlāmu rijsun min ‘amalisy-syaiṭāni fajtanibūhu la‘allakum tufliḥūn.
“Sesungguhnya khamar, judi, berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah kekejian termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah agar kamu beruntung.” (QS Al-Ma’idah [5]: 90)
Perhatikan satu kata kunci: “fajtanibūhu”, jauhilah. Allah tidak berfirman janganlah kamu mengerjakannya, melainkan jauhilah. Perbedaan ini halus tetapi menentukan. Larangan mengerjakan menyentuh perbuatan; perintah menjauhi menyentuh seluruh lingkar yang mengelilinginya: iklannya, promosinya, situsnya, jaringan pembayarannya, bahkan obrolan yang membuatnya tampak biasa.
Dalam bahasa ushul, inilah sadd adz-dzari‘ah, menutup jalan menuju keharaman, prinsip yang dirinci panjang lebar oleh Ibn Qayyim al-Jauziyyah dalam I‘lam al-Muwaqqi‘in ketika ia menyatakan bahwa segala sarana yang secara dominan mengantar kepada kerusakan menanggung hukum tujuannya.
Rasulullah saw. bahkan menutup pintu itu sejak dari ucapan:
مَنْ قَالَ لِصَاحِبِهِ تَعَالَ أُقَامِرْكَ فَلْيَتَصَدَّقْ
Man qāla li-ṣāḥibihi ta‘āla uqāmirka falyataṣaddaq.
“Barang siapa berkata kepada kawannya, ‘Mari aku berjudi denganmu’, maka hendaklah ia bersedekah.” (HR al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
Sekadar mengajak (belum bertaruh, belum menang, belum kalah) sudah menuntut penebusan berupa sedekah. Betapa seriusnya Islam menjaga jarak dari maisir. Lalu bagaimana dengan masyarakat yang setiap hari dibanjiri ajakan itu dalam bentuk notifikasi?
Jamaah yang Dimuliakan Allah
Persoalan kedua yang lahir beriringan adalah jerat utang konsumtif. Banyak keluarga terjerumus bukan karena serakah, melainkan karena terdesak: biaya sekolah, biaya berobat, modal usaha yang macet. Namun jalan keluar yang ditawarkan layar sering kali adalah jalan yang memperdalam lubang (pinjaman dengan bunga berlipat, denda beruntun, dan penagihan yang mempermalukan). Di sinilah umat perlu diingatkan bahwa Islam tidak melarang utang; Islam melarang utang yang dibangun di atas riba dan eksploitasi kesulitan orang.
وَلَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَٰطِلِ
Wa lā ta’kulū amwālakum bainakum bil-bāṭil.
“Dan janganlah kamu memakan harta sesama kamu dengan jalan yang batil.” (QS Al-Baqarah [2]: 188)
Nabi saw. mengarahkan umatnya pada sumber rezeki yang menenangkan:
مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
Mā akala aḥadun ṭa‘āman qaṭṭu khairan min an ya’kula min ‘amali yadih.
“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri.” (HR al-Bukhari dari al-Miqdam bin Ma‘dikarib)
Hadis ini adalah antitesis sempurna dari logika judi. Judi menjanjikan hasil tanpa kerja; Islam memuliakan kerja meski hasilnya sedikit. Judi membuat rezeki terasa seperti undian; Islam mengajarkan rezeki sebagai buah ikhtiar yang disertai tawakal. Ibn Khaldun dalam Muqaddimah bahkan menempatkan kerja manusia (al-a‘mal al-insaniyyah) sebagai sumber nilai dalam perekonomian; masyarakat yang menggantungkan harapan pada keberuntungan, dalam analisisnya, adalah masyarakat yang sedang kehilangan daya produktifnya.
Dua Kaidah Fikih sebagai Pegangan
لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
Lā ḍarara wa lā ḍirār.
“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR Ibnu Majah dan Ahmad; menjadi kaidah induk dalam al-Asybah wa an-Nazha’ir)
اَلْوَسَائِلُ لَهَا أَحْكَامُ الْمَقَاصِدِ
Al-wasā’ilu lahā aḥkāmul-maqāṣid.
“Sarana memiliki hukum yang sama dengan tujuannya.” (Kaidah turunan sadd adz-dzari‘ah; lihat al-Qarafi, al-Furuq, dan Ibn Qayyim, I‘lam al-Muwaqqi‘in)
مَا حَرُمَ أَخْذُهُ حَرُمَ إِعْطَاؤُهُ
Mā ḥaruma akhdzuhū ḥaruma i‘ṭā’uh.
“Sesuatu yang haram diambil, haram pula diberikan.” (Kaidah fikih; Ibn Nujaim, al-Asybah wa an-Nazha’ir)
Dari dua kaidah ini kita menarik kesimpulan praktis: bukan hanya bermain judi daring yang haram, tetapi juga menyebarkan tautannya, menjadi penyedia rekening penampung, mempromosikannya lewat akun media sosial, atau menerima penghasilan dari iklannya. Semua itu adalah wasilah yang memikul hukum tujuannya.
Jamaah Jumat yang Berbahagia
Lalu apa yang bisa kita lakukan, terutama sebagai keluarga besar Muhammadiyah yang memiliki ribuan sekolah, ranting, dan amal usaha? Setidaknya ada empat langkah. Pertama, pendidikan literasi keuangan dan digital sejak di rumah dan di kelas (anak perlu tahu cara kerja algoritma yang membuat mereka betah, bukan sekadar dilarang. Kedua, pendampingan, bukan penghakiman; mereka yang terjerat umumnya menyembunyikannya karena malu, dan rasa malu yang dibiarkan berubah menjadi keputusasaan). Ketiga, penguatan jaring pengaman ekonomi umat melalui Lazismu, baitul mal, dan koperasi jamaah, agar keluarga yang terdesak punya pintu lain selain pinjaman berbunga. Keempat, khatib, guru, dan mubaligh perlu konsisten menyuarakan ini, sebab kemungkaran yang didiamkan lama-lama berubah menjadi kebiasaan.
وَلْيَخْشَ ٱلَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا۟ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَٰفًا خَافُوا۟ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْيَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا
Walyakhsyal-ladzīna lau tarakū min khalfihim dzurriyyatan ḍi‘āfan khāfū ‘alaihim falyattaqullāha walyaqūlū qaulan sadīdā.
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka keturunan yang lemah, yang mereka khawatir terhadapnya. Maka hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar.” (QS An-Nisa’ [4]: 9)
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَاتَّقُوا اللهَ وَاحْفَظُوْا أَهْلِيْكُمْ.
Jamaah sekalian, rumah adalah benteng pertama. Benteng itu tidak dibangun dari larangan semata, melainkan dari kedekatan. Anak yang merasa didengar di ruang makan tidak akan mencari pelarian di ruang maya. Luangkan waktu menatap wajah anak-anak kita lebih lama daripada kita menatap layar; itu sudah merupakan separuh penjagaan.
Semoga Allah menyelamatkan anak-anak kita dari jerat yang tak terlihat, menggantikan setiap kehilangan dengan rezeki yang berkah, dan menjadikan rumah-rumah kita tempat tumbuhnya generasi yang kuat iman dan kuat akalnya.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا ذُرِّيَّاتِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِيْ أَمْوَالِنَا، وَأَغْنِنَا بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا. عِبَادَ اللهِ، اذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ.






0 Tanggapan
Empty Comments