
Mendikdasmen RI, Prof Dr Abdul Mu’ti MEd saat mengisi Pengajian Pembinaan Dosen dan Tenaga Kependidikan UM Surabaya, Selasa (10/06/2025). (Danar Trivasya Fikri/PWMU.CO).
PWMU.CO – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof Dr Abdul Mu’ti MEd hadir dalam Pembinaan Dosen dan Tenaga Kependidikan Universitas Muhammadiyah Surabaya, Selasa (10/06/2025).
Acara ini berlangsung bersamaan dengan Launching Center for Impactful Innovation (CII) Universitas Muhammadiyah Surabaya. Lebih lanjut, agenda tersebut bertempat di At-Tauhid Tower lantai 12 UM Surabaya sejak pukul 13.45 WIB.
Apa saja pesan Abdul Mu’ti bagi civitas academica UM Surabaya tersebut?
3 Jenis tajdid di Kampus
Dalam kesempatan Pengajian Pembinaan, Abdul Mu’ti membawakan tema “Mewujudkan Partisipasi Semesta untuk Pendidikan Bermutu”.
Pada permulaan ceramahnya, Prof Mu’ti menyebut bahwa gerakan inovasi sudah merupakan DNA pada diri Muhammadiyah. Dalam tubuh Muhammadiyah, inovasi disebut juga sebagai Tajdid yang sekaligus merupakan salah satu ruh dari gerakan Muhammadiyah.
Lebih lanjut, ia juga menyebut bahwa dalam konteks pendidikan di perguruan tinggi, terdapat 3 jenis gerakan tajdid. Antara lain:
- Tajdidun fil Fikri: pembaharuan keilmuan
- Tajdidun fil Fiqhi: pembaharuan keagamaan
- Tajdidun fil Harokah: pembaharuan gerakan
“Tidak boleh business as usual, harus ada inovasi-inovasi. Gagasan baru yang membuat Muhammadiyah tetap punya relevansi” terang Prof Mu’ti. Bahkan, lanjutnya, Muhammadiyah bisa ketinggalan dari kemajuan jika mengalami irrelevansi atau tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman.
Di samping itu, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini juga menyinggung terkait Gerakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar Muhammadiyah.
Menurutnya, saat ini tidak sedikit orang yang menyindir Muhammadiyah hanya dominan di salah satu aspek. Namun sesungguhnya, gerakan tersebut adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Ia memberi contoh, jika mengajak anak untuk rajin belajar, maka ajakan itu sekaligus melarangnya untuk berbuat malas. Dan begitu juga sebaliknya.
Selain itu, ia juga menerangkan bahwa arti Makruf adalah sesuatu yang sesuai dengan ilmu atau akal. Sedangkan Munkar bermakna asing, atau nukr. “Atau Foreign dalam bahasa Inggris” ujarnya.
“Sehingga Amar Makruf Nahi Munkar adalah Gerakan Ilmu. Atau di Kemendikdasmen disebut gerakan literasi. Jika orang melek ilmu, akhlaq-nya jadi baik” tegas Mu’ti.
Inovasi itu Mudah, Asalkan…
Di sisi lain, Rektor UM Surabaya, Dr Mundakir dalam sambutannya berujar bahwa peresmian CII di kampusnya sebagai respons kebijakan Kemendiktisaintek tentang program kampus berdampak.
Di sisi lain, Mundakir juga tidak menampik bahwa Pendidikan Dasar dan Menengah menjadi landasan siswa sebelum melangkah menuju Perguruan Tinggi.
“Keberadaan pendidikan dasar dan menengah adalah pondasi perguruan tinggi untuk berakselerasi, berpartisipasi aktif. Supaya civitas akademika bisa berkontribusi” tuturnya.
“Kami di UM Surabaya, akan melaunching Center for Impactful Innovation. Dengan salah satu klusternya adalah platform edukasi digital” terang Mundakir.
Di sisi lain, Perwakilan BPH UMS, Dr H M Sulthon Amin MM, menuturkan jika inovasi itu sejatinya mudah.
“Kami sejak awal mencanangkan bahwa inovasi selalu mudah, jika orang itu ingin berubah lebih baik. Jika orang itu mindsetnya mengikuti perkembangan zaman” tegas Wakil Ketua PWM Jawa Timur itu.
“Kami selalu mengingatkan bahwa Muhammadiyah Surabaya dan sekitarnya itu besar” terang Sulthon. Maka, lanjutnya, keberadaan UM Surabaya harus bermanfaat, untuk sekolah, RS, panti, dan AUM lainnya.
Terakhir, Sulthon berharap agar kehadiran Mendikdasmen Prof Mu’ti dapat membawa kebaikan bagi UM Surabaya. “Semoga kedatangan prof Muti membawa keberkahan untuk Unmuh Surabaya” harapnya.
Penulis Danar Trivasya Fikri, Editor Azrohal Hasan





0 Tanggapan
Empty Comments