Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Meraih Ketenangan Hakiki: Sakinah, Tuma’ninah, dan Mutmainah

Iklan Landscape Smamda
Meraih Ketenangan Hakiki: Sakinah, Tuma’ninah, dan Mutmainah
Oleh : Abdul Hafid Mahasiswa STIT Muhammadiyah Bojonegoro

​Ketenangan pada zaman ini menjadi barang antik yang sulit ditemukan. Banyak orang mencari ketenangan lewat materi atau hiburan. Namun hanya menemukan ketenangan semu yang cepat pudar.

Landasan utama manusia untuk meraih ketenangan adalah menjadi pribadi yang ulul albab (orang yang berakal). Dalam Surah Ali ‘Imran ayat 191, Allah menggambarkan mereka sebagai orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring, serta memikirkan penciptaan alam semesta.

​Hubungan antara hati yang berzikir dan otak yang berpikir akan melahirkan kesadaran bahwa tidak ada satu pun ciptaan Allah yang sia-sia. Kesadaran menjadi pintu masuk menuju ketenangan yang hakiki.

Dalam Islam terdapat sebuah konsep ketenangan yang berlapis. Konsep ini menjadi tingkatan kualitas jiwa manusia untuk bersikap tenang dalam merespons kehidupan yang sering disebut dengan sakinah, tuma’ninah, dan mutmainah.

Pertama, sakinah itu seperti sebuah jangkar. Prof Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah memberikan sebuah analogi yang indah. Sakinah itu bagaikan jangkar kapal. Ketika badai masalah menghantam, kapal itu pasti akan terombang-ambing dengan hebat. Namun tidak akan hanyut terbawa arus karena ada sakinah yang menahannya.

​Sakinah sering kali bersifat situasional dan kolektif. Ustadz Adi Hidayat mengaitkan hal ini dengan Surah Al-Fath ayat 4: “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada)”.

Sakinah merupakan anugerah dari Allah yang menunjukkan bahwa ketenangan di level ini tidak bisa diusahakan hanya dengan logika. Melainkan harus meminta melalui ketaatan kepada-Nya. Dalam konteks rumah tangga, sakinah berarti kemampuan pasangan untuk saling meneduhkan.

Sakinah diturunkan bukan untuk menghilangkan masalahnya, melainkan untuk memperluas hati orang yang sedang menghadapinya. Ketika hati merasa tenang dan lapang, masalah sebesar apa pun akan terlihat kecil.

Allah memberikan solusi meraih ketenangan sebagaimana firmannya dalam QS Ar-Ra’d ayat 28. Yang artinya, ​“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”​Ayat ini menegaskan bahwa untuk meraih ketenangan sejati adalah dengan cara berzikir kepada Allah. Ini sebagai obat saat jiwa sedang menghadapi ujian kehidupan.

Kedua, tuma’ninah merupakan jeda yang berkualitas. Jika sakinah adalah respons terhadap tekanan eksternal, maka tuma’ninah adalah ketenangan yang bersifat prosedural serta fisik-psikis.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Dalam kajian fikih, tuma’ninah merupakan salah satu rukun salat. Yaitu sebuah jeda di mana seluruh anggota badan berhenti sejenak. Tanpa jeda ketenangan ini, salat diibaratkan seperti ayam yang sedang mematuk makanan cepat dan tidak sah.

​Secara spiritual, tuma’ninah adalah cara untuk meraih energi dari ibadah. Jika salat dilakukan dengan terburu-buru, energi zikir tidak meresap ke dalam hati. Imam Ghazali memandang tuma’ninah akan muncul dari kekhusyukan, rasa tenang setelah kebutuhan terpenuhi.

Ibarat orang kelaparan yang akhirnya makan, rasa syukur dan tenang setelah kenyang itulah tuma’ninah. Jika dikaitkan dengan dunia kerja, maka tuma’ninah adalah istirahat untuk memulihkan tenaga sebelum kembali berjuang.

Ketiga, mutmainah menjadi puncak kesehatan jiwa. Level tertinggi dari ketenangan adalah nafsul mutmainah (jiwa yang tenang). Ibnu Katsir menjelaskan bahwa mutmainah adalah jiwa yang tidak ragu dengan janji Allah, tidak goyah dengan cobaan, dan tidak rakus dengan dunia. Ini adalah kondisi di mana keinginan hamba telah sejalan dengan kehendak Allah.

​Jika sakinah adalah obat dan tuma’ninah adalah istirahat, maka mutmainah adalah kondisi tubuh yang sehat. Tidak ada lagi pertarungan batin antara hawa nafsu dan iman. Karakteristik jiwa ini bersifat permanen, ia tenang bukan karena situasinya nyaman. Namun karena sumber ketenangannya berasal dari diri sendiri yang terhubung dengan nilai-nilai Ilahi.

Dalam Surah Al-Fajr ayat 27-30, ini adalah jiwa yang kelak akan dipanggil dengan lembut: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”

​Dengan memahami tiga konsep ketenangan ini, membantu untuk mengidentifikasi kondisi hati kita. Ketika sedang menghadapi konflik mendadak, kita butuh sakinah sebagai obat. Saat ibadah terasa hampa, kita butuh tuma’ninah sebagai waktu istirahat dan mengisi ulang energi spiritual. Tujuan kita adalah mendidik jiwa untuk mencapai predikat mutmainah, sebuah ketenangan jiwa paripurna yang membawa kedamaian di dunia dan akhirat.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 29/04/2026 08:49
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡