Katarina Sarabiti Teluma, wisudawan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), mengembangkan bakat bernyanyi melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Paduan Suara Nusantara (PSN). Mahasiswa asal Larantuka, Flores, Nusa Tenggara Timur, itu juga meraih sejumlah prestasi tingkat nasional dan internasional selama menempuh pendidikan.
Perjalanan Katarina di Umsida tidak terlepas dari proses adaptasi di lingkungan baru. Ia merantau jauh dari keluarga dan harus menyesuaikan diri dengan kehidupan di Sidoarjo, termasuk menghadapi kendala bahasa karena belum bisa berbahasa Jawa.
Bagi Katarina, keputusan melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi Muhammadiyah juga menjadi pengalaman tersendiri. Ia tumbuh dalam keluarga Katolik yang taat, sedangkan lingkungan kampus yang ditujunya memiliki latar belakang keagamaan berbeda dari keluarganya.
Kini, setelah menyelesaikan pendidikan di Umsida tepat pada hari Ahad (25/10/2026), pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan akademik dan pengembangan dirinya.
Dari Adaptasi hingga Prestasi Paduan Suara
Pada awal kuliah, Katarina sempat khawatir menghadapi lingkungan baru. Ia takut kesulitan mendapatkan teman dan mengalami kendala komunikasi karena belum memahami bahasa Jawa.
“Ekspektasinya itu sebelumnya takut pilih lingkungannya baru, terus takut bahasa Jawa juga. Soalnya saya belum bisa bahasa Jawa sama sekali,” ungkapnya.
Namun, kekhawatiran tersebut berangsur berkurang. Teman-temannya menerima Katarina dengan baik dan membantunya ketika menghadapi kesulitan. Pengalaman itu membuatnya merasa tidak sendirian meskipun tinggal jauh dari keluarga di Flores.
Selain mengikuti perkuliahan, Katarina mengembangkan kegemarannya bernyanyi melalui UKM Paduan Suara Nusantara. Dari kegiatan tersebut, ia meraih sejumlah prestasi di tingkat nasional dan internasional.
“Prestasi ini adalah hasil dari usaha saya yang jauh-jauh dari Flores, agar ketika pulang ada kenangan yang membekas,” tuturnya.
Bagi Katarina, pencapaian tersebut menjadi bagian dari pengalaman selama merantau sekaligus hasil dari upayanya mengembangkan potensi di luar kegiatan akademik.
Dukungan Keluarga untuk Melanjutkan Pendidikan
Keputusan Katarina melanjutkan pendidikan di Umsida sempat menimbulkan pertanyaan di tengah keluarga. Kakaknya, Suster Maria Aurelia PRR, seorang biarawati Katolik, mengungkapkan bahwa keluarga awalnya mempertimbangkan bagaimana Katarina akan menjalani pendidikan di kampus dengan latar belakang keyakinan berbeda.
“Memang kami, khususnya sebagai orang tua, kami bertanya-tanya, apakah bisa diberikan kesempatan untuk masuk di universitas yang pada umumnya kita beda keyakinan,” tutur Suster Maria.
Kekhawatiran keluarga juga berkaitan dengan keputusan Katarina merantau jauh dari rumah. Mereka ingin memastikan Katarina dapat menjalani kehidupan perkuliahan dengan baik di lingkungan yang belum dikenalnya.
Meski demikian, keinginan Katarina untuk melanjutkan pendidikan membuat keluarga memberikan dukungan. Bagi mereka, kesempatan belajar merupakan hal penting yang perlu diperjuangkan.
“Untuk pendidikan itu tidak membeda-bedakan agama dan keyakinan, yang penting hanya ada kemauan dan keinginan, dan kami sangat mendukungnya dengan berdoa,” kata Suster Maria.
Menemukan Jalan Keluar dari Kesulitan
Setelah sekitar empat tahun menjalani pendidikan, Suster Maria melihat Katarina mampu menghadapi berbagai tantangan selama tinggal jauh dari keluarga. Menurutnya, kesediaan Katarina untuk terbuka dan bertanya ketika mengalami kesulitan membantunya menemukan jalan keluar.
“Dalam perjalanan ada kesulitan yang dia temukan, tapi dia tetap membuka hati dan berani untuk bertanya, sehingga setiap kesulitan yang ditemukan itu ada jalan keluarnya bagi dia,” ujarnya.
Pengalaman Katarina selama kuliah menjadi sumber kebahagiaan bagi keluarga. Kekhawatiran yang sempat muncul sebelum keberangkatannya kini berganti dengan rasa syukur karena ia memperoleh kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri.
Suster Maria pun menyampaikan apresiasi kepada keluarga besar Umsida yang telah memberikan ruang bagi adiknya untuk menempuh pendidikan.
“Terima kasih banyak untuk keluarga besar Umsida yang telah memberikan waktu, ruang, dan kesempatan untuk adik kami boleh mengenyam pendidikan di tempat ini,” pungkas Suster Maria. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments