Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Merawat Budaya Kritis di Muhammadiyah itu Penting!

Iklan Landscape Smamda
Merawat Budaya Kritis di Muhammadiyah itu Penting!
Oleh : Ahmad Fathullah, M.Pd Kepala LKSA Muhammadiyah Semampir

Dalam banyak kesempatan, kita sering mendengar pernyataan —yang tentunya sangat akrab dalam kultur Muhammadiyah:

Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.”

Pernyataan ini menjadi kalimat yang sangat indah, atau bahkan sakral.

Pada pernyataan tersebut menyimpan pesan tegas tentang keikhlasan, pengabdian, dan keteguhan hati.

Sayangnya, mungkin karena terlalu seringnya pernyataan itu terucapkan, sehingga kadang menjadi kehilangan makna sesungguhnya, dan justru menjadi ‘senjata’ yang keliru dalam penerapannya.

Salah satu penyalahgunaan serius dari “slogan sakral” itu adalah untuk mengancam atau menciptakan ketakutan untuk berpikiran kritis.

Misalnya, ketika memunculkan pertanyaan kritis dari kalangan kader —terkait laporan keuangan, sistem kerja, transparansi program atau efektivitas kepemimpinan di internal persyarikatan—, tidak jarang kemudian memperoleh respon yang negatif.

“Kamu kurang ikhlas”, “Kamu kok perhitungan?”, atau “Muhammadiyah itu ladang amal, bukan tempat cari dunia”.

Padahal, justru karena Muhammadiyah merupakan ladang amal, pengelolaan organisasi ini wajib secara jujur, terbuka, dan profesional.

Ikhlas tidak berarti anti-kritik, melainkan keberanian untuk memperbaiki.

“Gerakan Pembaruan” sebagai jantung Muhammadiyah tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari keberanian mengoreksi kebiasaan lama yang buruk.

Sesungguhnya salah satu kekuatan dan kekhasan Muhammadiyah berdiri adalah karena Kiai Haji Ahmad Dahlan berani melawan arus, bukan ikut atau bahkan terbawa arus.

Pertanyaan kritis dari kader —seperti soal program yang stagnan atau tidak berjalan, soal pengalokasian anggaran, soal rotasi posisi kepemimpinan yang hanya diisi orang itu-itu saja, atau soal kurang adanya transparansi laporan— bukan cerminan dari tanda kurang ikhlas dalam berMuhammadiyah, tapi merupakan wujud kepedulian terhadap Persyarikatan.

Kritik adalah cara kader menjaga agar organisasi tidak terjebak dalam zona nyaman dan tradisi yang mandek.

SMPM 5 Pucang SBY

Ketika narasi “Jangan Mencari Hidup di Muhammadiyah” disalahgunakan untuk membungkam suara kritis, ada beberapa efek samping yang merusak:

  • Normalisasi (menganganggap wajar) budaya tidak profesional: Program yang berantakan, rapat yang molor, dan laporan yang minim dianggap wajar dengan dalih “amal jariyah”.
  • Hilangnya ruang partisipasi kader muda: Anak muda sering dianggap terlalu vokal, kritis, atau “kurang hormat”, padahal niat mereka adalah memperbaiki tata kelola organisasi.
  • Menganggap kritik sebagai ancaman: Orang yang mempertanyakan sistem justru dianggap ancaman, padahal lembaga yang sehat seharusnya mengundang dan merespons kritik, bukan menghindarinya.

Penting untuk dipahami, ketika sikap dan pikiran kritik dibungkam, maka organisasi hanya akan berjalan dengan logika “kesan baik”, bukan “kinerja baik”.

Padahal dalam ajaran Islam, akuntabilitas menjadi bagian dari ibadah. Nabi SAW mengajarkan untuk menjunjung tinggi amanah (tanggung jawab), ketepatan (menepati janji), dan kejujuran —bukan sekadar niat baik.

Standar kehidupan organisasi yang sehat dan normal akan tercermin dari: 1) laporan keuangan rapi, 2) program ada parameter, 3) transparansi kebijakan, 4) evaluasi dilakukan rutin, dan 5) menghargai kritik sebagai kontribusi, bukan gangguan.

Selain keikhlasan, Muhammadiyah membutuhkan tata manajemen yang baik dan moral keberanian yang kokoh agar mampu bertahan hidup.

Kiai Ahmad Dahlan tidak pernah mengajarkan pasrah pada kemapanan dan keadaan.

Beliau justru menentang jika ada orang yang menyalahgunakan kata “ikhlas” untuk melindungi sikap malas, anti transparansi, atau alergi kritik.

Kalimat beliau adalah ajakan: “Hidup-hidupilah Muhammadiyah” —Bangun! Majukan! Koreksi yang salah! Perbaiki yang lemah!

Dan “Jangan mencari hidup di Muhammadiyah” —Jangan jadikan jabatan sebagai perisai pelindung untuk tidak mau evaluasi diri.

Jika Muhammadiyah ingin maju dan dimajukan, suara-suara kritis harus dinilai sebagai aset berharga. Jangan dibenci dan jangan dimusuhi.

Biarkan para kader berbicara kritis dan lantang, karena itu tanda Muhammadiyah hidup.

Kematian organisasi justru terjadi ketika para pengikutnya hanyalah kumpulan orang-orang bisu ketika ada hal yang tidak baik, dan hanya mengangguk-angguk.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡