Muhammadiyah terus melakukan aksi layanan kemanusiaan bagi penyintas gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga 3 September 2026, Muhammadiyah tercatat telah melayani 7.225 penyintas melalui berbagai klaster layanan yang digerakkan Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) atau Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC) bersama Lazismu.
Gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang melanda tujuh kabupaten di NTT pada 15 Agustus 2026 langsung direspons Muhammadiyah dengan memobilisasi sumber daya dari berbagai daerah.
Melalui pilar kemanusiaan yang digawangi MDMC dan Lazismu, respons awal dilakukan dengan berkoordinasi dengan pihak setempat serta mendirikan Pos Koordinasi Wilayah di Klinik Muhammadiyah Ende, Jalan Mahoni, Kelurahan Kota Ratu, Kecamatan Ende Utara, Kabupaten Ende.
Pos Koordinasi Wilayah tersebut berperan dalam merencanakan dan mengevaluasi aksi layanan kemanusiaan. Hingga saat ini, Muhammadiyah telah mendirikan tujuh Pos Koordinasi Daerah di tujuh kabupaten serta 10 Pos Pelayanan di masing-masing kabupaten terdampak.
Dalam penyaluran bantuan kemanusiaan melalui program Indonesia Siaga, terdapat tiga klaster layanan prioritas relawan di lapangan, yakni layanan kesehatan, layanan nonkesehatan, dan layanan logistik.
Pada klaster kesehatan, layanan dilakukan melalui Emergency Medical Team (EMT) Type-1 Fixed dan EMT Mobile. Layanan tersebut telah menjangkau 2.215 perempuan dan 1.487 laki-laki penyintas gempa bumi.
EMT Type-1 Fixed yang terdiri dari 50 personel diturunkan untuk mendirikan rumah sakit lapangan di Puskesmas Dampek, Manggarai Timur, yang mengalami kerusakan akibat gempa bumi.
Tim EMT dengan standar WHO tersebut diturunkan bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI dan bertugas selama 30 hari sejak 17 Agustus 2026.
Selain EMT Type-1 Fixed, layanan kesehatan dilakukan melalui EMT Mobile yang menyasar lokasi-lokasi pengungsian yang tidak terjangkau. Tim ini diturunkan dari berbagai Rumah Sakit Muhammadiyah-Aisyiyah di Indonesia.
Hingga 3 September 2026, EMT Muhammadiyah tercatat telah menangani penyintas yang terdiri atas 85 pasien bayi, 229 pasien balita, 266 pasien anak, 150 pasien remaja, 2.173 pasien dewasa, 22 pasien ibu hamil, dan 799 pasien lansia.
Berdasarkan hasil pemeriksaan di rumah sakit lapangan, diagnosis yang paling banyak ditemukan di antaranya 437 penyintas mengalami infeksi saluran pernapasan, 372 penyintas mengalami nyeri otot dan pegal-pegal, 233 penyintas mengalami hipertensi, 186 penyintas mengalami gejala rasa tidak nyaman atau nyeri di bagian sekitar perut, serta 153 penyintas mengalami sakit kepala dan nyeri leher hingga tengkuk.
Sementara itu, pada klaster nonkesehatan, layanan dapur umum yang didirikan telah melayani sebanyak 1.750 jiwa. Muhammadiyah juga mendirikan sanitasi dan menyediakan air bersih di dua titik serta memberikan layanan psikososial kepada 1.773 jiwa.
Aksi layanan kemanusiaan Muhammadiyah juga didukung penggalangan dana melalui Lazismu.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Surat Edaran Nomor 18/EDR/I.0/H/2026 tanggal 20 Agustus 2026 menginstruksikan seluruh masjid melakukan penggalangan dana Infak Salat Jumat untuk bantuan kemanusiaan bencana gempa bumi di NTT.
Penggalangan tersebut dilaksanakan pada Jumat, 21 Agustus 2026. Hingga 3 September 2026, dana yang terhimpun tercatat sebesar Rp6.099.163.820. Dari jumlah tersebut, sebesar Rp3.455.958.814 telah disalurkan untuk mendukung aksi layanan kemanusiaan Muhammadiyah.
Direktur Utama Lazismu, Barry Adhitya, mengatakan penyaluran dana donasi dan Infak Salat Jumat masih akan terus dilakukan untuk melanjutkan respons serta tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi.
Selain layanan kesehatan dan nonkesehatan, aksi kemanusiaan Muhammadiyah juga diperkuat dengan penyaluran berbagai bantuan logistik.
Bantuan tersebut meliputi mobil dapur umum, mobil taktis, 500 paket family kit, 600 paket school kit, 1.440 kaleng Rendangmu, serta terpal sepanjang 500 meter.
Dukungan logistik pengobatan juga diberikan oleh tim medis atau EMT Mobile dari masing-masing Rumah Sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah yang bertugas di wilayah terdampak.
Lazismu menyampaikan apresiasi kepada seluruh relawan dan donatur yang mendukung aksi kemanusiaan tersebut.
“Kami apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh relawan Muhammadiyah di lapangan atas kerja-kerja kemanusiaan dan tentu terima kasih kepada donatur dan jamaah salat Jumat atas kepercayaannya sehingga aksi layanan kemanusiaan Muhammadiyah kepada penyintas bencana di NTT dapat terus dilanjutkan”, kata Barry Adhitya, Direktur Utama Lazismu, pada Jum’at (4/9/2026).
Lazismu akan terus memantau dan mengevaluasi program Indonesia Siaga di NTT agar dana yang dihimpun dari masyarakat dapat dioptimalkan untuk masa pemulihan pascagempa bumi.
Program tersebut juga akan dilanjutkan, Insya Allah, hingga tahap rehabilitasi dan rekonstruksi untuk membangun ketangguhan masyarakat.
Masyarakat dapat mendukung aksi layanan Muhammadiyah merespons gempa bumi di NTT melalui donasi.lazismu.org/bantuanbencana dan mengikuti perkembangan informasi melalui lazismu.org/dashboardresponntt.





0 Tanggapan
Empty Comments