Semangat membangun budaya pendidikan yang berkelanjutan tidak hanya datang dari lingkungan sekolah. Wali murid SD Muhammadiyah 16 Surabaya turut mengambil peran melalui Parent Lighthouse Team (PLhT) atau Komite Sekolah. Kolaborasi tersebut terlihat dalam rapat persiapan seminar parenting bersama Teacher Lighthouse Team (TLhT) di perpustakaan sekolah, Rabu (9/9/2026).
Rapat yang dimulai pukul 09.00 WIB itu menjadi ruang konsolidasi antara orang tua dan guru untuk mematangkan pelaksanaan seminar parenting bertema “The Family The Leader”. Kegiatan tersebut direncanakan berlangsung pada 26 September 2026 di Asecc Tower Universitas Airlangga (Unair).
Rapat dibuka oleh Resti Kusfatul Khasanah, S.Si. Dalam penyampaiannya, Resti menjelaskan sejumlah persiapan yang perlu dimatangkan oleh panitia, mulai dari konsep kegiatan hingga pembagian tugas antara PLhT dan TLhT.
“Kita ingin seminar parenting ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi ruang bagi orang tua untuk mendapatkan penguatan dalam mendampingi tumbuh kembang dan karakter anak,” ujar Resti.
Ia berharap keterlibatan orang tua dalam kegiatan tersebut semakin kuat. Menurutnya, keberhasilan program sekolah juga membutuhkan dukungan dan kesinambungan budaya yang dibangun di lingkungan keluarga.
“Karena itu, kami berharap wali murid bisa ikut bergerak dan mengajak wali murid lainnya. Acara ini untuk kita, dari kita, dan manfaatnya juga kembali kepada keluarga,” tambahnya.
Pentingnya Kesinambungan dalam Pembelajaran Karakter
Ketua Tim Inovasi Pengembangan Sekolah (TIPS), Heru Tjahyono, menekankan pentingnya kesinambungan pembelajaran karakter antara sekolah dan rumah. Menurutnya, penerapan konsep Leader in Me akan lebih kuat apabila kebiasaan positif yang dibangun siswa di sekolah juga diterapkan dalam kehidupan keluarga.
“Kurikulum Leader in Me akan semakin produktif bilamana kebiasaan yang dibangun dari sekolah juga berlanjut menjadi budaya di rumah,” kata Heru.
Ia menilai orang tua memiliki posisi strategis dalam memastikan nilai-nilai kepemimpinan tidak berhenti di lingkungan sekolah.
“Anak tidak hanya belajar ketika berada di kelas. Mereka juga belajar dari kebiasaan yang mereka lihat dan lakukan di rumah,” ujarnya.
Sementara itu, Leader of TLhT Maulana Muhammad, S.Pd, memberikan penjelasan mengenai pembagian peran dalam implementasi Leader in Me di sekolah.
“Untuk melancarkan implementasi kurikulum Leader in Me, sekolah membentuk beberapa tim. Dari unsur guru dan karyawan dibentuk Teacher Lighthouse Team atau TLhT,” jelas Maulana.
“Sedangkan dari unsur wali murid ada Parent Lighthouse Team atau PLhT. Dari komunitas siswa juga terbentuk Student Lighthouse Team atau SLhT yang sering disebut IPM KIDS,” lanjutnya.
Menurut Maulana, penggunaan istilah tersebut bukan sekadar perubahan nama organisasi. Setiap tim memiliki fungsi dan tanggung jawab dalam membangun budaya kepemimpinan secara bersama-sama.
“Istilah baru ini untuk memudahkan kita dalam implementasi kurikulum Leader in Me. Tujuannya adalah menciptakan budaya belajar yang dapat mengantarkan anak didik menjadi pribadi sesuai visi dan misi sekolah, yaitu mencetak pribadi yang berkarakter,” tuturnya.
Dalam rapat tersebut, Ketua Komite sekaligus Leader of PLhT, Anda Marzudinta, turut menyampaikan sejumlah alternatif tempat yang dapat digunakan untuk seminar parenting. Setelah melalui pembahasan, Asecc Tower Unair dinilai menjadi salah satu lokasi yang representatif untuk kegiatan tersebut.
“Kita ingin tempat yang nyaman dan representatif agar orang tua bisa mengikuti kegiatan dengan suasana yang baik,” ujar Anda.
Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan laporan perkembangan dari masing-masing panitia. Resti memberikan kesempatan kepada panitia dari TLhT maupun PLhT untuk menyampaikan progres bidang masing-masing, sekaligus mengevaluasi sejumlah persiapan yang masih perlu ditindaklanjuti.
Budaya Kolaborasi
Heru juga mengajak seluruh panitia membangun rasa memiliki terhadap setiap kegiatan sekolah. Ia berharap keterlibatan orang tua tidak berhenti pada kehadiran saat acara, tetapi berkembang menjadi budaya kolaborasi.
“Harapannya orang tua berperan aktif dalam menyukseskan acara. Kita bangun budaya, setiap event dari kita untuk kita. Dengan demikian, kita bisa menikmati acara tersebut,” kata Heru.
Ia secara khusus mengajak wali murid untuk menggerakkan orang tua lainnya agar turut berpartisipasi dalam seminar parenting.
“Seminar parenting ini memang untuk parent. Jadi silakan menikmati acaranya dengan menggerakkan wali murid yang lain,” tambahnya.
Selain membahas seminar parenting, Heru juga menyinggung pentingnya mendengarkan suara siswa dalam proses pendidikan. Menurutnya, keterlibatan siswa menjadi bagian penting dalam membangun karakter dan budaya sekolah.
“Mengakomodasi kemauan siswa untuk membangun karakter dapat melalui student voice. Suara mereka akan menjadi parameter keberhasilan pendidikan bagi siswa, sepanjang keinginan itu bermanfaat,” jelas Heru.
Kolaborasi PLhT dan TLhT tersebut menjadi bagian dari upaya SD Muhammadiyah 16 Surabaya membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya bertumpu pada sekolah. Melalui keterlibatan guru, orang tua, dan siswa, budaya kepemimpinan diharapkan tumbuh secara konsisten dan menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments