Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Penjahat Berkedok Iman

Iklan Landscape Smamda
Penjahat Berkedok Iman
Moh.Helman Sueb, Pembina Pesantren Muhammadiyah Babat-Lamongan ( Hilman Sueb /PWMU.CO )
Oleh : Moh.Helman Sueb Pembina Pesantren Muhammadiyah Babat,Lamongan.

Dunia dihuni oleh bermacam-macam karakter manusia. Ada yang baik, tetapi ada juga yang jahat.

Banyak manusia yang berbuat jahat tanpa merasa dirinya jahat, apalagi merasa berdosa. Kebiasaan inilah yang membuat perilaku tersebut tidak mudah hilang dari dirinya.

Kejahatan yang telah mendarah daging pada diri seseorang dapat diakibatkan oleh kebiasaan yang telah lama dilakukan. Pada akhirnya, perilaku tersebut dapat merambah berbagai persoalan kehidupan, baik ekonomi, sosial, maupun politik.

Kejahatan Itu Menyusup

Kejahatan yang dilakukan seseorang dapat menyusup melalui kepura-puraan yang dijadikan pembalut kejahatannya. Kepura-puraan itu dapat berwujud tindakan yang seolah-olah menunjukkan simpati, kemanisan lisan, dan sebagainya.

Pada hakikatnya, tindakan tersebut menyimpang dan sesat, tetapi dirasakan sebagai perbuatan yang baik. Inilah orang yang merugi. Sebagaimana ditunjukkan Allah Subhaanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya, Surat Al-Kahfi ayat 103, dengan suatu pertanyaan:

“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”

Selanjutnya diterangkan pula siapa orang-orang yang merugi itu dalam Surah Al-Kahfi ayat 104:

“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”

Begitulah perasaan orang yang berbuat jahat dan merugikan diri sendiri maupun orang lain, tetapi perbuatannya dirasakan sebagai suatu kebaikan.

Orang-orang yang seperti inilah yang suka bergerombol atau mengajak orang lain untuk memerintahkan kejahatan dan mencegah yang ma’ruf.

Mengapa Seseorang Membungkus Kejahatan dengan Kebaikan?

Dalam kenyataan kehidupan, kita tidak tahu persis mengapa seseorang membungkus kejahatan dengan kebaikan. Menurut logika akal, tak seorang pun yang ingin kejahatannya diketahui orang lain. Sebab, jika diketahui, hal itu dapat membahayakan atau membuat malu dirinya.

SMPM 5 Pucang SBY

Di samping itu, dapat juga karena godaan dunia. Seseorang mengejarnya tanpa memperhitungkan halal dan haram.

Orang yang jahat dapat pula membungkus kejahatan orang lain, misalnya dengan membela orang yang salah menggunakan kepandaian yang dimiliki. Ketika kejahatan seseorang diketahui, pada umumnya mereka merasa malu karena jati dirinya diketahui orang lain.

Dalam peribahasa Indonesia disebutkan:

“Sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga.”

Betapa mahir atau pandainya seseorang menyembunyikan perbuatan jahat, buruk, atau bohong, akhirnya perbuatan tersebut akan diketahui juga atau mengalami kegagalan.

Menjauhi Perbuatan Jahat

Allah Subhaanahu wa Ta’ala tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan atau kemaksiatan (Al-Qoshosh: 77).

Karena itu, kehidupan harus dijalani dengan kesadaran bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi. Kebaikan tidak semestinya hanya menjadi tampilan luar, sementara di baliknya terdapat niat dan tindakan yang merugikan orang lain.

Semoga kita dijauhkan dari perbuatan jahat atas kekuasaan Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Revisi Oleh:
  • Satria - 23/09/2026 19:09
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu