Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menegaskan pentingnya menjaga ketahanan mental, keikhlasan niat, serta kebanggaan yang sehat dalam mengarungi dinamika berorganisasi dan berdakwah. Pesan krusial tersebut disampaikan oleh Ketua PP Muhammadiyah Bidang Tarjih dan Tajdid, Dr. KH. Saad Ibrahim, M.A., saat menyampaikan ceramah utama dalam Kajian Ahad Pagi Pencerah di SD Muhammadiyah 15 Surabaya, Jalan Raya Mastrip No. 174, Surabaya, pada Ahad (25/10/2026) pagi.
“…kalau pas lagi kalah, jangan sampai semangat kita malah kendor. Begitu juga kalau lagi menang, jangan terus jumawa atau pamer kesombongan yang malah bikin hancur semangat perjuangan kita,” tutur Saad di hadapan jamaah.
Mengangkat topik bertajuk “Mengelola Authentic Pride dalam Bermuhammadiyah” dengan pijakan Surah Ali Imran ayat 139, Saad mengulas mendalam komparasi sejarah Perang Badar dan Perang Uhud. Ia memaparkan betapa Perang Badar menjadi titik krusial penentu masa depan tauhid, di mana Rasulullah SAW memohon kemenangan secara khusyuk agar peradaban Islam tetap berlanjut di muka bumi. Sebaliknya, Perang Uhud memberikan pelajaran pahit akibat goyahnya kedisiplinan pasukan pemanah yang tergiur harta rampasan perang, hingga mengakibatkan gugurnya 70 syuhada termasuk Hamzah bin Abdul Muthalib.
Menurut Saad, dinamika pasang surut sejarah perang tersebut mencerminkan fenomena perjuangan organisasi masa kini. Penyimpangan niat akibat godaan keduniawian akan mendatangkan kekalahan dan ujian berat, namun kegagalan di masa lalu tidak boleh membuat warga persyarikatan patah semangat.
“kalau kalah jangan memudarkan semangat kita, dan ketika menang jangan terlalu menunjukkan kesombongan yang bisa menghancurkan semangat kita,” ujar Saad di hadapan ratusan jamaah yang memadati lokasi.
Ia menjelaskan bahwa konsekuensi logis dari keimanan adalah pencapaian kemenangan hakiki di akhir proses kehidupan, yaitu ridha Allah dan surga. Mengutip sudut pandang psikologi, Saad membedakan kebanggaan menjadi dua bentuk, yakni hubristic pride (kebanggaan semu yang berorientasi pada kesombongan dan ego) serta authentic pride (kebanggaan otentik yang lahir dari prestasi, kerja keras, dan keyakinan tauhid).
“Jangan pernah niat cari nama atau cari kemuliaan di Muhammadiyah. Niatnya harus diluruskan, karena kemuliaan yang sejati itu cuma ada di sisi Allah,” tegas Saad memungkas tausiyahnya.
Ia mendorong warga Muhammadiyah untuk membuang jauh sifat hubristic pride dan membangun authentic pride melalui pembuktian amal nyata. Saad mencontohkan bagaimana pengelolaan dana perjuangan yang didasari keyakinan dapat berkembang pesat secara eksponensial, seperti kapital lima juta rupiah yang mampu bertumbuh menjadi lima miliar rupiah dalam satu tahun untuk membangun fasilitas Islamic Center di Madiun. Kendall demikian, ia mengingatkan agar tidak ada satu pun pengurus atau kader yang meniatkan diri mencari posisi atau penghormatan pribadi di dalam persyarikatan.
“Jangan pernah mencari kemuliaan itu di Muhammadiyah, karena kemuliaan itu yang benar adalah di sisi Allah,” tegas Saad memungkas pemaparannya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments