Jejak sejarah Muhammadiyah di Yogyakarta menyimpan potensi besar untuk dikembangkan menjadi jaringan wisata edukasi. Mulai dari Langgar Kidoel, rumah Kiai Ahmad Dahlan, makam Nyai Siti Walidah, hingga makam Kiai Dahlan di Karangkajen dan Museum Muhammadiyah di Universitas Ahmad Dahlan (UAD).
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, mendorong agar berbagai situs bersejarah tersebut diintegrasikan dalam satu jaringan wisata edukasi.
“Langkah ini diharapkan dapat memperkenalkan sejarah dan perjuangan Muhammadiyah,” kepada masyarakat secara lebih luas sekaligus memudahkan wisatawan mengunjungi tempat-tempat bersejarah tersebut,” katanya.
Gagasan itu disampaikan Haedar dalam Silaturahmi Nasional (Silatnas) Lembaga Pengembangan Ekonomi, Kewirausahaan, dan Pariwisata (LPEK) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (24/10/2026).
Menurut Haedar, sejarah Muhammadiyah tidak cukup hanya dikenal melalui buku dan cerita. Jejak perjuangan para pendirinya juga perlu dihadirkan melalui pengalaman berkunjung langsung ke lokasi-lokasi bersejarah.
“Karena itu, makam Kiai Ahmad Dahlan di Kampung Karangkajen dan makam Nyai Siti Walidah di kawasan Kauman perlu dihubungkan dalam satu paket wisata edukasi,” ujarnya.
Paket tersebut dapat mencakup rumah Kiai Dahlan, Langgar Kidoel, serta sejumlah situs lain yang berkaitan dengan sejarah awal Muhammadiyah.
Ziarah untuk Mengambil Inspirasi
Haedar menegaskan, kunjungan ke makam para tokoh Muhammadiyah semestinya menjadi sarana mengenang perjuangan, mengambil inspirasi, dan mendoakan mereka yang telah wafat.
Dalam pandangan Muhammadiyah, ziarah kubur bukan sesuatu yang harus ditakuti atau dijauhi. Namun, pelaksanaannya harus tetap memperhatikan adab dan tuntunan akidah Islam.
Ia mengingatkan agar peziarah tidak meminta sesuatu kepada penghuni makam, apalagi mengharapkan kekayaan atau pertolongan dari orang yang telah meninggal.
“Tolong di makam jangan meminta-minta. Meminta cepet kaya. Itu namanya menyalahi akidah Muhammadiyah. Tapi ke makamnya Nyai Walidah ke belakang Masjid Agung. Ke makam Kiai Dahlan di Kampung Karangkajen itu untuk ambil inspirasi, dan paling tidak mendoakan ke yang ada di situ,” kata Haedar.
Dengan pemahaman tersebut, kunjungan ke makam para tokoh Muhammadiyah diharapkan tidak berhenti sebagai aktivitas ziarah, tetapi juga menjadi kesempatan mempelajari nilai-nilai perjuangan yang mereka wariskan.
Wisata Terintegrasi, Menghindari Broker
Selain membawa nilai edukasi, integrasi situs-situs bersejarah Muhammadiyah juga berpotensi mempermudah wisatawan dalam menyusun perjalanan.
Selama ini, orang yang datang ke Yogyakarta untuk mengenal sejarah Muhammadiyah perlu mengetahui sendiri lokasi-lokasi yang hendak dikunjungi.
Jaringan wisata edukasi diharapkan dapat menghubungkan berbagai destinasi tersebut dalam satu sistem yang lebih terarah.
“Ketika ke Jogja kan itu pusat-pusat Muhammadiyah mana saja dan pusat-pusat wisata kunjungan. Jika itu dibikin jaringan yang baru, mereka tidak perlu cari lagi lembaga penghubung atau broker,” tuturnya.
Gagasan tersebut membuka peluang bagi Muhammadiyah untuk mengelola potensi wisata sejarahnya secara lebih terorganisasi.
Situs-situs yang selama ini dikunjungi secara terpisah dapat dipromosikan sebagai satu kesatuan perjalanan yang menawarkan pengalaman sejarah, edukasi, dan pengenalan gerakan Islam berkemajuan.
Museum Jangan Hanya Jadi Tempat Berfoto
Pengembangan wisata edukasi Muhammadiyah juga perlu diikuti upaya menghidupkan fungsi museum.
Haedar menyoroti kecenderungan pengunjung museum yang datang untuk berfoto, tetapi belum tentu memahami pesan sejarah yang ingin disampaikan.
“Padahal, museum bukan sekadar tempat menyimpan benda bersejarah atau menyediakan latar untuk berfoto. Museum semestinya menjadi ruang belajar yang membantu pengunjung memahami perjalanan sejarah, gagasan, dan kontribusi Muhammadiyah bagi masyarakat,” papar dia.
Karena itu, Museum Muhammadiyah di Kampus 4 UAD perlu dikembangkan agar semakin menarik bagi pengunjung, terutama warga Muhammadiyah sendiri.
Haedar mengakui, minat warga Muhammadiyah untuk berkunjung ke museum maupun perpustakaan masih relatif rendah. Kondisi ini menjadi tantangan yang perlu dijawab melalui pendekatan yang lebih dekat dengan kebiasaan masyarakat.
Salah satu cara yang dapat ditempuh ialah menyediakan sudut-sudut foto yang menarik dan layak dibagikan di media sosial. Strategi tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan museum kepada masyarakat yang sebelumnya belum tertarik berkunjung.
“Jadi tapi lama-kelamaan ya ke museum, kan gitu. Lama-kelamaan itu bisa ke museum. Jadi itu bisa dimanfaatkan,” katanya.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu mengubah ketertarikan awal terhadap spot foto menjadi minat untuk mengenal koleksi dan memahami pesan yang disampaikan museum.
Dengan demikian, pengembangan wisata sejarah Muhammadiyah tidak hanya berkaitan dengan penambahan jumlah kunjungan.
Lebih dari itu, wisata edukasi perlu menjadi sarana untuk merawat ingatan kolektif tentang perjuangan pendiri Muhammadiyah, mengenalkan nilai-nilai gerakan kepada generasi muda, dan menjadikan warisan sejarah sebagai sumber inspirasi bagi kehidupan masa kini. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments