Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Merintis Prodi Kedokteran Keluarga Layanan Primer di UMS

Iklan Landscape Smamda
Merintis Prodi Kedokteran Keluarga Layanan Primer di UMS
Merintis Prodi Kedokteran Keluarga Layanan Primer
pwmu.co -

Malam itu, ruang kerja Yusuf Alam Romadhon belum benar-benar sunyi. Tumpukan dokumen masih terbuka, layar laptop terus menyala, sementara waktu terasa bergerak lebih cepat dari biasanya.

Bersama sekretarisnya, Dr. dr. Anika Candrasari, M.Kes., Sp.KKLP., FISPH., FISCM., dirinya berupaya menuntaskan satu target besar: pemberkasan Program Studi Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta.

“September 2025 itu harus selesai,” kenang Yusuf saat ditemui awal Mei.

Tidak ada pilihan selain lembur. Hari-hari panjang berubah menjadi rutinitas dengan energi yang dipaksa tetap menyala di tengah keterbatasan tim. Saat itu, jumlah dokter spesialis dalam bidang tersebut di UMS masih sangat minim.

“Artinya, hampir seluruh proses, mulai dari menyusun kurikulum, memenuhi syarat administratif, hingga mencari tenaga pengajar tambahan, dituntaskan sebagian dokter yang diamanahi ibu dekan fakultas,” kata Kaprodi Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer Program Pendidikan Dokter Spesialis UMS itu.

Kedisiplinan dan ketepatan waktu telah menjadi bagian dari perjalanan hidup Yusuf sejak kecil. Subuh bukan sekadar waktu ibadah, tetapi juga waktu belajar bagi dirinya dan saudara-saudaranya.

Pendidikan agama, kebiasaan membaca, hingga kedisiplinan sehari-hari ditanamkan langsung oleh sang ayah.

“Bapak saya ingin anak-anaknya tidak gagal dalam pendidikan seperti beliau yang hanya seorang petani desa,” ujar Yusuf.

Sebagai anak ketiga dari lima bersaudara, Yusuf tumbuh dalam lingkungan yang penuh semangat pendidikan. Dua kakaknya lebih dahulu menjadi dokter dan menjadi inspirasi tersendiri bagi dirinya.

“Ada proses melihat lalu meniru dan memahami kakak-kakak saya. Akhirnya, ada keinginan menjadi dokter juga. Seperti ikhtiar, dari bapak yang petani, anak-anaknya alhamdulillah jadi dokter dan insinyur,” imbuh pria kelahiran Nganjuk itu.

Setelah lulus SMA, Yusuf melanjutkan pendidikan kedokteran di Universitas Sebelas Maret Surakarta hingga meraih gelar doktor di bidang kedokteran.

Titik balik pandangannya terhadap dunia medis terjadi ketika dirinya menjalani masa coass di salah satu rumah sakit besar. Saat itu, Yusuf melihat langsung kerasnya dunia spesialis dengan jam kerja panjang dan tekanan tinggi.

Di titik tersebut, dirinya mulai tertarik menekuni jalur akademisi sekaligus mendalami kedokteran keluarga layanan primer.

Ketika pemerintah mulai mengakui kedokteran keluarga sebagai bagian dari pendidikan dokter spesialis, Yusuf termasuk generasi awal yang memperoleh gelar Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer (Sp.KKLP).

“Jadi saat itu memperoleh gelarnya melalui mekanisme rekognisi pembelajaran lampau (RPL). Berdasarkan pengalaman praktik dan rekam jejak akademik,” jelasnya.

Sejak 2020, Yusuf telah mengantongi Surat Tanda Registrasi (STR) sebagai dokter spesialis kedokteran keluarga layanan primer.

Peran Yusuf di Fakultas Kedokteran UMS dapat dikatakan cukup besar. Saat bergabung pada awal 2000-an, kondisi kampus masih jauh dari stabil. Sistem pendidikan belum terintegrasi, sementara banyak dokter datang dan pergi.

“Menjadi dosen saat itu bukan pilihan menarik bagi banyak dokter,” kata Yusuf.

Namun dirinya memilih bertahan. Ia mengambil peran penting dalam membangun sistem pendidikan, termasuk ketika menjabat Ketua Program Studi S1 Kedokteran saat FK UMS bertransformasi dari kurikulum konvensional menuju sistem blok terintegrasi.

Proses tersebut tidak mudah. Yusuf dan tim harus belajar ke berbagai kampus, berdiskusi hingga larut malam, bahkan “nyantri” demi memahami sistem baru tersebut.

Bersama istrinya, dr. Yuni Prastyo Kurniati, Sp.PA., M.M., Yusuf menjadi bagian dari tim perintis FK UMS. Kala itu, Fakultas Kedokteran masih menjadi satu dengan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) UMS di Kampus 1 Pabelan, sebelum berpindah ke Kampus 3 Penumping dan kini berkembang megah di Kampus 4 Gonilan.

SMPM 5 Pucang SBY

Perjalanan panjang tersebut mencapai momentum penting ketika gagasan spesialis kedokteran keluarga mulai mendapat pengakuan nasional sekitar 2019–2020, bersamaan dengan Yusuf yang berhasil memperoleh STR spesialis.

Momentum itu diperkuat dengan kebijakan pemerintah yang mendorong percepatan jumlah dokter spesialis, khususnya di layanan primer. Bahkan, regulasi terbaru mengharuskan setiap puskesmas memiliki dokter spesialis di bidang ini.

Melihat kebutuhan tersebut, UMS bergerak cepat. Yusuf menjadi bagian inti dari tim perintis program.

“Awalnya kami hanya dua orang seperti yang saya katakan sebelumnya. Perlahan, tim mulai berkembang,” ujarnya.

Tim kemudian mulai mencari tenaga pengajar tambahan, menyusun kurikulum, hingga memastikan program siap berjalan.

“Kini, program PPDS Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer UMS siap menyambut mahasiswa baru Agustus mendatang. Dengan masa pendidikan tujuh semester seperti spesialis lainnya,” imbuh Yusuf.

Menurut Yusuf, yang membedakan spesialis kedokteran keluarga layanan primer dengan spesialis lain adalah pendekatannya yang menyeluruh.

Jika spesialis lain fokus pada organ atau penyakit tertentu, maka dokter layanan primer melihat pasien secara utuh—termasuk keluarga, lingkungan, hingga kebiasaan hidupnya.

Dirinya mencontohkan bahwa penyakit kronis seperti diabetes tidak cukup ditangani hanya dengan obat. Perubahan perilaku justru menjadi faktor utama.

Dokter layanan primer tidak hanya memberi resep, tetapi juga mendampingi pasien memahami dirinya sendiri.

“Kadang pasien itu butuh ditenangkan dulu, bukan langsung diberi obat, atau paling buruk ada yang bertanya berapa lama dirinya bertahan, justru diberi jawaban jujur yang tak sesuai dengan kesiapan penerimaan pasien,” ujarnya.

Dalam praktiknya, Yusuf menjelaskan bahwa pasien kerap mengalami tahapan respons psikologis terhadap diagnosis penyakit. Salah satunya dikenal melalui model Kubler-Ross.

“Fase awal biasanya adalah denial atau penyangkalan, ketika pasien belum percaya dengan kondisi yang dialaminya. Tidak jarang muncul respons seperti merasa salah diagnosis atau menganggap penyakitnya tidak serius,” jelas Yusuf.

Setelah itu, pasien dapat memasuki fase anger, bargaining, depression, hingga akhirnya mencapai tahap acceptance.

Bagi Yusuf, memahami tahapan tersebut menjadi kunci penting dalam layanan primer karena proses pengobatan tidak hanya menyentuh aspek medis, tetapi juga sisi kemanusiaan pasien secara utuh.

Pendekatan ini pula yang diajarkan dalam pendidikan. Mahasiswa dilatih melakukan konseling, komunikasi terapeutik, hingga intervensi berbasis keluarga.

Dengan puluhan ribu puskesmas di Indonesia, kebutuhan dokter spesialis layanan primer dinilai masih sangat besar. Yusuf menilai penguatan layanan primer akan membuat sistem kesehatan lebih efisien dan berdampak luas.

Dirinya juga menyinggung perbandingan angka harapan hidup di beberapa negara sebagai gambaran pentingnya layanan primer.

“Setelah diriset, ini bukan semata-mata ditentukan oleh kecanggihan rumah sakit atau teknologi medis, tetapi sangat dipengaruhi oleh kuatnya sistem layanan kesehatan primer. Makanya Pak Menteri Kesehatan menggerakkan kami ini, dan melihat peluang besar bagi masa depan layanan kesehatan di Indonesia,” tutupya.

Merintis Prodi Kedokteran Keluarga Layanan Primer
Merintis Prodi Kedokteran Keluarga Layanan Primer, (Desain: Salsabila Kamila Wardah)
Revisi Oleh:
  • Satria - 08/05/2026 21:41
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡