RRI Surabaya membuka peluang kolaborasi dengan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Kota Surabaya dalam bidang riset, produksi konten, jurnalistik, dan pengembangan kapasitas anak muda. Peluang tersebut dibahas dalam silaturahmi AMM yang terdiri atas Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM), Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM), dan Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) ke Kantor RRI Surabaya, Jumat (11/9/2026).
Rombongan AMM terdiri atas Abraham Adimukti, Wakil Sekretaris PDPM, Muhammad Tanwirul Huda, Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan PC IMM Kota Surabaya, Muhammad Roichan Choiron, Ketua Bidang Hikmah Politik dan Kebijakan Publik (HPKP), Anas Febriyanto, Ketua Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman, serta Annisa Fitria Rahma, Ketua Umum PD IPM Kota Surabaya.
Mereka diterima langsung oleh Unggul Supriyadi, S.Sos., M.Si., Kepala RRI Kota Surabaya. Pertemuan tersebut berlangsung dalam momentum Hari Radio Nasional sekaligus Hari Lahir Radio Republik Indonesia.
Dalam pertemuan tersebut, Unggul menyampaikan bahwa RRI membutuhkan perspektif dari pihak luar untuk melihat perkembangan program dan pola komunikasi dengan masyarakat. Menurutnya, mahasiswa memiliki potensi untuk memberikan masukan melalui penelitian.
“Teman-teman IMM ini jago riset. Barangkali nanti teman-teman IMM bisa bikin riset berkaitan dengan radio. Nah itu nanti silakan kolaborasi dengan RRI,” ujar Unggul.
Ia mengatakan hasil penelitian mahasiswa dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam pengembangan program RRI.
“Dari hasil riset yang dilakukan teman-teman IMM itu nanti menjadi referensi dan rekomendasi program dari kami,” lanjutnya.
Unggul menjelaskan, masukan dari pihak luar diperlukan karena pengelola media dapat mengalami keterbatasan ketika menilai program yang mereka buat sendiri. Perspektif akademisi dan anak muda, menurutnya, dapat membantu melihat bagian yang perlu diperbaiki sekaligus memberikan alternatif penyelesaian.
“Kalau orang yang melihat orang lain kan bisa mengkritisi,” katanya.
Selain riset, Unggul membuka peluang keterlibatan anak muda dalam produksi konten dan kegiatan RRI. Menurutnya, kelompok muda tetap menjadi bagian dari audiens yang perlu dilayani meskipun karakter dan pola konsumsinya berbeda dengan pendengar dari kelompok usia lainnya.
“Kita terbuka oleh teman-teman muda,” ujarnya.
Peluang kolaborasi yang dibicarakan tidak hanya berkaitan dengan riset. Unggul juga menyebut kegiatan seperti public speaking dan penulisan jurnalistik sebagai bentuk kegiatan yang dapat dikembangkan bersama.
“Misalnya nanti dari AMM bikin acara public speaking atau penulisan jurnalistik, silakan untuk dikolaborasikan,” ungkapnya.
Menurut Unggul, keterlibatan anak muda juga berkaitan dengan perubahan pola konsumsi media. Radio saat ini tidak hanya didengarkan melalui perangkat radio konvensional, tetapi kontennya dapat didistribusikan melalui berbagai platform digital.
Perubahan tersebut membuat pengelola radio perlu menyesuaikan cara mengemas pesan dengan karakter audiens. Unggul mengatakan pesan yang disampaikan melalui radio maupun podcast dapat memiliki substansi yang sama, tetapi cara penyampaiannya berbeda.
“Tipnya ibaratnya barang. Sebenarnya pesan yang dibawakan mungkin sama, cuman kemasannya kan beda. Orang membawakan podcast pasti ada pesan, cuman dibawa santai,” ujarnya.
Ia menambahkan, penyesuaian tersebut tidak selalu berarti mengubah pesan yang disampaikan.
“Jadi saya kira kemasannya aja sih, packaging-nya aja,” lanjutnya.
Di sisi lain, radio masih memiliki fungsi bagi masyarakat yang menghadapi keterbatasan akses internet. Unggul menyebut radio sebagai teknologi yang murah dan mudah digunakan. Media tersebut juga dapat menjadi salah satu alternatif komunikasi ketika infrastruktur internet mengalami gangguan.
“Radio merupakan teknologi yang paling murah dan paling mudah. Memang perkembangannya terus bergerak,” ujar Unggul.
Perspektif mengenai pendengar radio juga disampaikan Abraham Adimukti. Ia mengatakan generasi muda masih dapat mendengarkan radio dalam kondisi tertentu, misalnya ketika berada di kendaraan atau ketika akses internet terbatas.
Sementara itu, Muhammad Tanwirul Huda melihat radio masih memiliki pendengar di sejumlah wilayah perdesaan. Namun, menurutnya, kelompok pendengar tersebut lebih banyak berasal dari kalangan usia tua.
“Kalau di desa-desa itu masih ada yang mendengarkan radio, tetapi kebanyakan memang orang-orang yang sudah tua,” kata Tanwirul.
Pengamatan tersebut menjadi salah satu pembahasan mengenai tantangan radio dalam menjangkau kelompok usia muda. Bagi RRI, keterlibatan anak muda dapat menjadi ruang untuk memperoleh perspektif mengenai perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengakses informasi dan hiburan.
Selain menjadi ruang belajar, keterlibatan dalam kegiatan media juga dinilai dapat memberikan pengalaman bagi anggota AMM. Abraham mengatakan pengalaman tersebut dapat menjadi portofolio, terutama bagi anak muda yang ingin mengembangkan karier di bidang media.
“Portfolio ini penting bagi kami, kalau portfolio sering bekerja sama di RRI atau sering siaran itu kan jadi portfolio yang akhirnya teman-teman dapat nilai plus dari situ ketika ingin terjun ke dunia kerja khususnya bidang media,” ujarnya.
Dengan demikian, pembahasan dalam silaturahmi tersebut mencakup sejumlah peluang kegiatan, mulai dari riset mengenai radio, produksi konten, penulisan jurnalistik, hingga public speaking. Pembicaraan tersebut mempertemukan kebutuhan RRI terhadap perspektif anak muda dengan bidang kegiatan yang dimiliki AMM Kota Surabaya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments