Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Silaturahmi AMM Surabaya ke RRI Bahas Eksistensi Radio di Tengah Perubahan Media

Iklan Landscape Smamda
Silaturahmi AMM Surabaya ke RRI Bahas Eksistensi Radio di Tengah Perubahan Media
AMM Surabaya bersilaturahmi ke RRI membahas tantangan radio dan strategi menjangkau generasi muda melalui berbagai platform digital (Istimewa/PWMU.CO)
pwmu.co -

Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Kota Surabaya yang terdiri atas Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM), Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM), dan Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) bersilaturahmi ke Kantor Radio Republik Indonesia (RRI) Surabaya, Jumat (11/9/2026).

Rombongan AMM terdiri atas Abraham Adimukti, Wakil Sekretaris PDPM, Muhammad Tanwirul Huda, Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan (RPK) PC IMM Kota Surabaya, Muhammad Roichan Choiron, Ketua Bidang Hikmah Politik dan Kebijakan Publik (HPKP), Anas Febriyanto, Ketua Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman, serta Annisa Fitria Rahma, Ketua Umum PD IPM Kota Surabaya.

Silahturahmi ini diterima langsung oleh Unggul Supriyadi, S.Sos., M.Si., Kepala RRI Kota Surabaya dalam momentum Hari Radio Nasional dan Hari Lahir Radio Republik Indonesia. Salah satu pembahasan yang muncul adalah perubahan pola masyarakat dalam mengakses informasi dan hiburan, terutama di kalangan generasi muda.

Unggul menjelaskan, perkembangan teknologi membuat radio tidak lagi hanya mengandalkan pemancar dan studio. Produksi serta distribusi konten kini dapat dilakukan melalui berbagai platform digital.

“Ibaratnya barang. Sebenarnya pesan yang dibawakan mungkin sama, cuman kemasannya saja beda. Orang membawakan podcast pasti ada pesan, cuman dibawa santai,” ujarnya.

Menurutnya, perubahan tersebut membuat radio perlu menyesuaikan cara penyampaian pesan dengan kebiasaan audiens. Podcast, media sosial, dan platform digital menjadi bagian dari perubahan pola konsumsi media yang perlu diperhatikan pengelola radio.

“Jadi saya kira kemasannya aja sih, packaging-nya aja,” lanjutnya.

Unggul juga menyampaikan bahwa RRI telah mengembangkan distribusi konten melalui platform digital. Podcast RRI, misalnya, telah tersedia di Spotify dan dikelompokkan dalam berbagai kategori. Produksi konten dilakukan oleh satuan kerja RRI di berbagai daerah untuk kemudian didistribusikan melalui platform tersebut.

Perubahan pola konsumsi media juga terlihat dari semakin banyaknya masyarakat yang mengakses informasi dan hiburan melalui YouTube, Instagram, dan TikTok. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi radio untuk mempertahankan pendengar, terutama dari kelompok usia muda.

Meski demikian, Unggul menilai radio masih memiliki fungsi yang tidak sepenuhnya dapat digantikan media berbasis internet. Masyarakat di wilayah yang belum memiliki akses internet tetap membutuhkan media informasi yang murah dan mudah digunakan.

“Radio merupakan teknologi yang paling murah dan paling mudah. Memang perkembangannya terus bergerak,” ujar Unggul.

Ia menambahkan, radio juga dapat menjadi salah satu alternatif komunikasi ketika infrastruktur internet mengalami gangguan. Dalam kondisi tertentu, radio dapat digunakan ketika jaringan komunikasi, Base Transceiver Station (BTS), atau akses internet tidak tersedia.

SMPM 5 Pucang SBY

Karena itu, menurut Unggul, perkembangan radio tidak selalu berarti meninggalkan bentuk konvensionalnya. Radio perlu mempertahankan fungsi pelayanan informasi sekaligus menyesuaikan saluran distribusinya dengan perkembangan teknologi.

Dalam pertemuan tersebut, Abraham Adimukti juga menyampaikan bahwa radio masih didengarkan oleh sebagian generasi muda, meskipun pola penggunaannya tidak lagi seperti sebelumnya. Menurutnya, anak muda masih dapat kembali mendengarkan radio ketika berada di kendaraan atau ketika akses internet terbatas.

Hal serupa disampaikan Tanwirul Huda. Ia melihat radio masih memiliki pendengar di sejumlah wilayah perdesaan, meskipun kelompok pendengarnya relatif berasal dari kalangan usia lebih tua.

“Kalau di desa-desa itu masih ada yang mendengarkan radio, tetapi kebanyakan memang orang-orang yang sudah tua,” kata Tanwirul.

Menurut Huda, kondisi tersebut menunjukkan bahwa radio masih memiliki ruang di tengah perubahan pola konsumsi media. Namun, karakteristik pendengar yang berbeda perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan bentuk dan cara penyampaian konten.

Pertemuan AMM dan RRI juga membahas perlunya pendekatan yang lebih dekat dengan anak muda. Menurut Unggul, kelompok usia muda tetap perlu dilayani meskipun jumlah pendengarnya tidak sebesar kelompok usia lainnya.

“Walaupun segmen pendengarnya sedikit tetap kita layanin,” ujarnya.

Ia menilai salah satu cara menjangkau anak muda adalah menyesuaikan kemasan program tanpa harus menghilangkan pesan yang ingin disampaikan. Pendekatan tersebut dapat dilakukan melalui program yang menggunakan bahasa lebih santai dan dekat dengan karakter audiens muda.

Silaturahmi tersebut menjadi ruang bagi AMM Surabaya dan RRI untuk bertukar pandangan mengenai perkembangan media serta posisi radio di tengah perubahan teknologi. Pertemuan juga membuka peluang pembahasan lebih lanjut mengenai program yang dapat melibatkan generasi muda. (*)

Revisi Oleh:
  • Tanwirul Huda - 11/09/2026 16:57
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu