“Aku bisa, Alhamdulillah”
Seruan Nino Zaidan Emir Wiyanto terdengar di tengah suasana kelas Sains Club SD Muhammadiyah 16 Surabaya, Selasa (15/9/2026). Bukan karena memenangkan sebuah perlombaan, melainkan karena roket sederhana yang dibuatnya berhasil berfungsi.
Sore itu, ruang ekstrakurikuler berubah menjadi arena eksperimen. Gelas kertas, karet gelang, kertas origami, tusuk gigi, lem, dan gunting berserakan di meja siswa. Dari bahan sederhana tersebut, anak-anak mencoba membuat roket yang dapat meluncur.
Setelah pembelajaran reguler berakhir pukul 13.45 WIB, siswa menuju kelas ekstrakurikuler sesuai pilihan masing-masing. Sekolah Kreatif Baratajaya, sebutan akrab SD Muhammadiyah 16 Surabaya, memang memberikan ruang kepada siswa untuk mengembangkan minat dan potensinya melalui beragam kegiatan.
“Setiap siswa dapat memilih ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan potensinya,” ujar Ira Nurmasari, ST., S.Pd., bagian Kesiswaan Sekolah Kreatif Baratajaya.
Ira menjelaskan, kegiatan ekstrakurikuler berlangsung setiap Selasa dan Rabu. Sementara Sabtu digunakan untuk pembinaan khusus.
“Jadi anak-anak mempunyai ruang untuk mengembangkan apa yang menjadi minat dan potensinya,” katanya.
Di kelas Sains Club, kegiatan diawali dengan doa bersama yang dipimpin guru pendamping, Mega Desi Ambarwati, S.Pd. Setelah itu, Mega mengecek kehadiran sekaligus memastikan bahan yang dibawa siswa.
“Bahan-bahannya sudah lengkap semua?” tanya Mega.
Siswa kemudian menunjukkan perlengkapan yang telah disiapkan. Mereka menggunakan dua gelas kertas, dua lembar kertas origami, lem kertas, dua karet gelang, dua tusuk gigi, dan gunting.
Setelah semua siap, Resti Kusfatul Khasanah, S.Si., guru pembina Sains Club, mulai memberikan instruksi.
“Silakan lubangi setiap ujung gelas dengan tusuk sate. Lubangnya sampai tembus,” jelas Resti.
Siswa memperhatikan dengan saksama.
“Setelah itu kalian pasangkan karet gelang seperti yang saya contohkan,” lanjutnya.
Tangannya kemudian memperagakan tahapan pembuatan roket. Siswa mengikuti satu per satu. Ada yang langsung berhasil memasang, tetapi ada pula yang harus mengulang karena posisi bagian roket belum tepat.
Bagi siswa, proses tersebut terasa seperti bermain. Mereka sibuk membuat, mencoba, dan kemudian menguji hasil karya sendiri.
“Sudah jadi belum?”
“Coba punyaku!”
“Punyaku bisa!”
Percakapan antarsiswa terdengar bersahutan ketika mereka mulai melakukan uji coba.
Resti menjelaskan, roket sederhana tersebut memanfaatkan gaya pegas sebagai pemicu peluncuran. Konsep yang biasanya dijelaskan secara teoritis. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments