Ada banyak cara santri mengungkapkan rasa hormat dan cintanya kepada guru yang selama ini membimbing serta mendidiknya di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan, Jawa Timur.
Salah satunya dilakukan Rafaha Meru, santri kelas XII yang mengikuti prosesi pelepasan pada Sabtu (9/5/2026). Ia memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan rasa terima kasih kepada para guru. Dengan tangannya sendiri, ia melukis wajah guru dan kiai Ponpes Al-Ishlah, lalu menyerahkannya pada momen penuh haru tersebut.
Santri asal Pakal Surabaya itu mengaku sengaja melukis dua gurunya, yakni Drs. KH. Muhammad Dawam Saleh selaku pengasuh Ponpes Al-Ishlah dan Ustadz Gondo Waloyo, guru Sejarah Kebudayaan Islam. Keduanya dinilai menjadi sosok yang menginspirasi dan memotivasi semangat belajarnya.
“Saya bercita-cita menjadi anak saleh. Saya sangat terkesan dengan orang-orang yang mendidik saya hingga lulus. Karena itu, saya ingin memberikan hadiah sebagai bentuk balas jasa kepada para guru yang telah mendidik kami dengan penuh kesabaran. Guru-guru di Al-Ishlah adalah orang-orang yang mengorbankan tenaga dan waktu untuk mengajar dengan ikhlas,” ungkap putra pasangan Eri Triyanto dan Puji Asiyah tersebut.
Usai menyerahkan lukisan, Rafaha juga menuliskan pesan haru melalui WhatsApp.
“Banyak ustadz di MA Al-Ishlah Sendangagung yang menginspirasi saya. Saya ingin mengungkapkan rasa hormat dan cinta ini, tetapi waktu terasa begitu cepat berlalu. Hari ini saya harus kembali ke Surabaya dan meninggalkan kampung damai yang penuh kenangan. Terima kasih guruku, terima kasih Al-Ishlah,” tulisnya.
Rafaha mengaku mulai gemar melukis sejak duduk di bangku kelas III SD. Ketertarikannya pada dunia lukis berawal dari hobinya menonton film animasi, kemudian mencoba menggambar berbagai karakter yang ia sukai.
Sejak saat itu, ia sering mengekspresikan isi hatinya melalui lukisan. Saat merasa suntuk atau emosional, ia melampiaskannya dengan menggambar. Bahkan ketika mengagumi seseorang, ia menuangkannya dalam bentuk lukisan.
“Saya sangat terkesan dengan kehidupan di Pondok Al-Ishlah. Di kampung damai ini saya dibentuk menjadi pribadi yang disiplin terhadap waktu, taat menjalankan syariat agama, dan ikhlas dalam melakukan pekerjaan apa pun tanpa mengharapkan imbalan,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments