Mush’ab bin Umair, Profil Dai Ideal Zaman Rasulullah
Salah satu pembahasan menarik dalam kajian tersebut adalah sosok Mush’ab bin Umair ra yang menjadi contoh dai ideal pada masa Rasulullah saw.
Mush’ab bin Umair mendapatkan kepercayaan menjalankan tugas dakwah di Madinah. Tugas ini sangat penting karena jarak antara Makkah dan Madinah cukup jauh.
“Orang yang ditunjuk harus mampu menjadi rujukan utama ilmu agama bagi kaum Muslimin di Madinah,” ungkap Ahmad.
Karena itu, imbuh dia, tugas tersebut tidak mungkin diberikan kepada seseorang yang baru mengenal Islam atau belum menguasai wahyu yang telah diturunkan.
Mush’ab bin Umair memenuhi kriteria tersebut. Ia termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam dan telah menghafal seluruh Al-Qur’an yang diturunkan pada masa itu. Ia juga memiliki pengetahuan tentang sebab-sebab turunnya ayat serta penjelasan Rasulullah saw terhadap wahyu.
“Selain bekal keilmuan, Mush’ab juga memiliki karakter yang mendukung keberhasilan dakwah,” ujar Ahmad.
Pertama, memiliki karakter dan penampilan yang menarik. Mush’ab bin Umair dikenal sebagai pemuda yang tampan dan berwajah menawan. Penampilan yang baik dapat menjadi pintu masuk untuk membangun hubungan dan menyentuh hati manusia.
Kedua, cerdas dan memiliki kemampuan komunikasi yang luar biasa. Dia pandai membawa diri, mampu berkomunikasi dengan baik, serta memiliki tutur kata yang lembut. Sikapnya tenang dan tidak mudah tersulut emosi.
Ketiga, memiliki kesabaran dan kasih sayang. Dalam menjalankan dakwah, seorang dai membutuhkan kesabaran dan tidak boleh mudah bosan mencoba. Ia harus mampu memahami manusia dan menjadi perantara sampainya kebaikan.
Keempat, berasal dari keluarga kaya. Latar belakang keluarga Mush’ab bin Umair menjadi salah satu faktor yang memperkuat pengaruhnya.
Kondisi tersebut memberikan pelajaran bahwa agama dapat disampaikan oleh siapa saja, termasuk mereka yang memiliki kedudukan sosial dan ekonomi yang baik.
Kelima, memiliki nasab yang mulia. Mush’ab berasal dari salah satu keluarga Quraisy yang terhormat, yaitu Bani Abd ad-Dar.
“Keluarga ini dikenal sebagai salah satu keluarga terkemuka yang memegang kunci Ka’bah dan mewariskannya secara turun-temurun,” papar Ahmad.
Berbagai karakter tersebut memperlihatkan bahwa seorang dai ideal tidak hanya membutuhkan keluasan ilmu agama, tetapi juga kecerdasan, kemampuan komunikasi, kesabaran, kepribadian yang baik, serta kemampuan membangun pengaruh positif di tengah masyarakat.
Rasulullah, Teladan Sepanjang Zaman
Allah SWT menegaskan kedudukan Rasulullah sebagai teladan terbaik melalui firman-Nya:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا
“Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS Al-Ahzab: 21).
“Ayat ini mengingatkan bahwa mempelajari kehidupan Rasulullah semestinya melahirkan perubahan sikap dan perilaku. Keteladanan beliau tidak cukup hanya dikagumi, tetapi harus diikuti dalam kehidupan pribadi, keluarga, bermasyarakat, dan berdakwah,” jelas Ahmad.
Allah SWT juga menggambarkan betapa besar perhatian dan kasih sayang Rasulullah kepada umatnya dalam QS At-Taubah ayat 128.
لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
“Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, dia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin.”
Ayat tersebut memperlihatkan karakter mulia Rasulullah saw. Beliau tidak hanya menyampaikan ajaran Islam, tetapi juga memiliki empati mendalam terhadap keadaan umatnya.
Penderitaan umat menjadi perhatian beliau, sementara keselamatan dan kebaikan mereka menjadi harapan besar dalam dakwahnya.
Dakwah Dimulai dari Keteladanan dalam Keluarga
Salah satu kisah menarik yang disampaikan dalam kajian adalah keteladanan Buya Hamka, tokoh Muhammadiyah yang dikenal produktif menghasilkan karya tulis, termasuk buku-buku keislaman, novel, dan tafsir Al-Qur’an.
Dituturkan Ahmad, dalam kisah yang disampaikan, diceritakan seorang pria Muslim menikah dengan perempuan beragama Kristen. Keluarga besar istrinya juga beragama Kristen.
Meskipun memiliki keyakinan berbeda, sang suami memperlihatkan sikap yang baik. Setiap kali istrinya pergi ke gereja, ia selalu mengantar dan menjemputnya tepat waktu.
Di rumah, pria tersebut juga sering meletakkan buku-buku karya Buya Hamka. Tanpa diduga, buku-buku itu menarik perhatian istrinya. Sang istri mulai membacanya. Kebiasaan tersebut kemudian diikuti oleh ibu mertua dan anggota keluarga lainnya.
“Dari kebiasaan membaca itulah mereka mulai mengenal dan memahami Islam. Dalam kisah tersebut, akhirnya sang istri menjadi Muslimah, disusul ibu mertua dan anggota keluarga lainnya yang juga memeluk Islam,” ujar Ahmad.
Kisah ini memberikan pelajaran bahwa dakwah tidak selalu harus dilakukan melalui ceramah atau nasihat secara langsung. Sikap santun, kesabaran, perhatian, karya tulis, dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari juga dapat menjadi jalan sampainya hidayah.
Dakwah yang menyentuh hati sering kali justru lahir dari perilaku baik yang dirasakan langsung oleh orang-orang di sekitar kita.






0 Tanggapan
Empty Comments