Terbaik bagi Keluarganya
Pembahasan kemudian mengingatkan pentingnya menjadikan keluarga sebagai tempat pertama untuk mempraktikkan akhlak mulia.
Rasulullah saw bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
Khairukum khairukum li-ahlihi wa ana khairukum li-ahli.
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR Tirmidzi).
Menurut Ahmad, Hadis ini memberikan pesan penting bahwa keberhasilan seseorang dalam berdakwah tidak boleh hanya diukur dari kemampuannya berbicara di hadapan banyak orang.
“Kebaikan juga harus terlihat dari bagaimana ia memperlakukan istri, anak-anak, dan seluruh anggota keluarganya,” ujarnya.
Keluarga merupakan lingkungan terdekat sekaligus tempat pertama untuk membuktikan kualitas akhlak seseorang.
Dengan demikian, seorang dai ideal bukan hanya pandai menyampaikan ajaran Islam, tetapi juga mampu menghadirkan nilai-nilai Islam melalui sikap, perkataan, dan perbuatannya di tengah keluarga maupun masyarakat.
Jangan Hanya Mengatakan, tetapi Harus Melakukan
Keteladanan dalam berdakwah juga berkaitan erat dengan kesesuaian antara perkataan dan perbuatan.
Allah SWT memberikan peringatan dalam QS As-Saff ayat 2:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?”
Menurut Ahmad, ayat ini menjadi pengingat agar seorang Muslim tidak berhenti pada ucapan dan ajakan, tetapi juga berusaha melaksanakan apa yang disampaikannya.
“Dalam konteks dakwah, seorang dai harus terlebih dahulu berusaha menjadi contoh dari nilai-nilai yang diajarkannya. Ketika mengajak orang lain berbuat baik, dia pun harus berusaha melakukan kebaikan,” katanya.
Allah SWT juga memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar dan mengerjakan kebajikan melalui QS Hud ayat 11:
إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ
“Kecuali orang-orang yang sabar dan mengerjakan kebajikan, mereka memperoleh ampunan dan pahala yang besar.”
Pesan kesabaran dan amal saleh ini menjadi bekal penting dalam menjalankan dakwah. Sebab, perjalanan dakwah tidak selalu mudah. Dibutuhkan kesabaran, keteguhan, keikhlasan, serta konsistensi untuk terus mengajak kepada kebaikan.
Melalui kajian ini, jamaah diajak memahami bahwa mempelajari Sirah Nabawiyah seharusnya tidak berhenti pada pengetahuan tentang sejarah kehidupan Rasulullah saw.
Sejarah Nabi harus menjadi realitas yang hidup dalam keseharian. Ia harus membantu umat Islam mengambil keputusan, menghadapi persoalan, membangun keluarga, memperlakukan sesama, serta menjalankan perjuangan dakwah. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments