Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Suara Lapangan yang Sering Terabaikan dalam Kebijakan Pendidikan

Iklan Landscape Smamda
Suara Lapangan yang Sering Terabaikan dalam Kebijakan Pendidikan
Suara Lapangan yang Sering Terabaikan dalam Kebijakan Pendidikan
Oleh : Mohammad Khoirrudin Aamsy, S.Pd Mahasiswa progam study Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang

Di balik berbagai kebijakan pendidikan yang terus diperbarui, ada satu hal yang kerap luput dari perhatian: suara lapangan. Suara guru di ruang kelas, keluhan siswa, serta harapan orang tua sering kali hanya menjadi pelengkap, bukan pertimbangan utama. Padahal, merekalah pihak yang paling merasakan dampak dari setiap kebijakan.

Fenomena ini bukan hal baru. Banyak program pendidikan dirancang secara top-down, sehingga tampak ideal di atas kertas namun gagap saat diterapkan.

Data dari Federasi Serikat Guru Indonesia menunjukkan bahwa guru kerap terbebani administrasi hingga 60% dari waktu kerja mereka. Kondisi ini mengurangi ruang untuk inovasi dalam pembelajaran.

Guru sebagai ujung tombak pendidikan sering dihadapkan pada kurikulum padat dengan sarana terbatas. Berdasarkan data Neraca Pendidikan Daerah (NPD) dari Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, masih banyak sekolah di daerah 3T dalam kondisi kurang layak.

Ketimpangan ini semakin terlihat ketika digitalisasi pendidikan digencarkan, sementara akses listrik dan internet belum merata.

Siswa sebagai subjek utama pendidikan juga jarang dilibatkan dalam evaluasi kebijakan. Padahal, hasil Programme for International Student Assessment 2022 menunjukkan penurunan kemampuan literasi dan numerasi siswa Indonesia.

Ini menjadi indikasi bahwa pendekatan pembelajaran yang seragam belum mampu menjawab kebutuhan beragam siswa.

Keterlibatan orang tua dalam pendidikan juga masih terbatas. Banyak yang hanya terlibat dalam aspek administratif seperti iuran, tanpa ruang untuk menyampaikan aspirasi terkait kurikulum atau lingkungan belajar.

Padahal, peran orang tua sangat penting dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Salah satu akar masalah adalah minimnya asesmen kebutuhan yang partisipatif. Kebijakan sering disusun berdasarkan data administratif atau asumsi, bukan hasil penggalian kebutuhan yang mendalam.

Prinsip Evidence-Based Policy menekankan bahwa kebijakan harus berbasis data valid dan melalui uji publik yang transparan.

Metode seperti FGD, survei berkala, dan observasi langsung dapat menjadi solusi untuk menghadirkan suara lapangan dalam pengambilan keputusan.

Di era transparansi, pendekatan partisipatif bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Kebijakan pendidikan harus bergeser dari model sentralistik menuju pendekatan yang lebih inklusif.

Suara guru, siswa, dan orang tua harus menjadi fondasi utama, bukan sekadar pelengkap.

Keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh konsep besar di tingkat pusat, tetapi oleh relevansi kebijakan dengan realitas di kelas.

Tanpa mendengar mereka yang berada di garis depan, kebijakan pendidikan hanya akan menjadi dokumen tanpa makna.

Revisi Oleh:
  • Satria - 29/04/2026 11:06
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡