Teka-teki tokoh nasional yang dihadirkan dalam Puncak Kesyukuran Dasawarsa ke-4 Pondok Pesantren Al-Ishlah Sendangagung akhirnya terjawab. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, hadir dalam acara yang digelar di lapangan Maidanul Ma’had (MM), Ahad (27/9/2026).
Kehadiran Prof. Abdul Mu’ti disambut penuh ceria oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ishlah, Drs. KH. Muhammad Dawam Saleh. Mengenakan batik, Kiai Dawam tampak berjalan berdampingan dan menggandeng Prof. Mu’ti yang mengenakan batik hitam bermotif emas. Keduanya didampingi KH. Agus Salim Syukran serta jajaran pimpinan pondok lainnya.
Bagi keluarga besar Al-Ishlah, kehadiran tokoh nasional dalam momentum dasawarsa menjadi salah satu tradisi yang terus dijaga.
Kiai Dawam mengungkapkan rasa syukurnya karena Prof. Abdul Mu’ti dapat hadir dalam peringatan Dasawarsa ke-4 Al-Ishlah. Kehadiran tersebut menjadi kali kedua Prof. Mu’ti berkunjung ke Pondok Pesantren Al-Ishlah Sendangagung.
“Alhamdulillah Prof. Abdul Mu’ti bisa datang, beliau hadir di Al-Ishlah Sendangagung ini untuk kali kedua. Kehadiran Pak Menteri asli Kudus ini semoga memberi semangat bagi keluarga besar Al-Ishlah untuk lebih gigih berjuang,” ujar kiai yang berusia 73 tahun ini dengan wajah sumringah.
Kehadiran Mendikdasmen kali ini melanjutkan tradisi Al-Ishlah yang menghadirkan tokoh nasional dalam momentum dasawarsa. Tradisi tersebut menjadi salah satu ikhtiar untuk memberikan motivasi kepada para santri sekaligus memperluas wawasan mereka mengenai kehidupan kebangsaan.
Prof. Abdul Mu’ti juga dikenal dekat dengan lingkungan Al-Ishlah. Selain menjabat sebagai Mendikdasmen, ia merupakan Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Kehadirannya disambut antusias oleh ribuan jamaah, wali santri, alumni, dan warga yang memadati area acara.
Dalam sambutannya, Prof. Mu’ti mengapresiasi perjalanan Pondok Pesantren Al-Ishlah selama 40 tahun.
Salah satu capaian yang menjadi perhatian adalah SMP Muhammadiyah 12 Paciran yang disebut menjadi SMP Muhammadiyah terbesar se-Indonesia dengan 1.200 siswa.
Selain perkembangan lembaga pendidikan, budaya literasi juga menjadi bagian penting dalam perjalanan Al-Ishlah. Momentum Dasawarsa ke-4 ditandai dengan lahirnya 40 judul tulisan karya guru, dosen, dan santri.
Bagi Kiai Dawam, menghadirkan tokoh nasional dalam setiap momentum dasawarsa bukan sekadar seremoni. Kehadiran mereka diharapkan dapat membuka wawasan para santri agar tidak hanya berkutat di lingkungan pondok, tetapi juga mengenal lebih dekat para tokoh bangsa.
Antusiasme keluarga besar Al-Ishlah terlihat sejak pagi. Ribuan orang memadati kompleks pondok untuk mengikuti Puncak Kesyukuran Dasawarsa ke-4.
Sejumlah wali santri bahkan datang dari jauh dan memilih bermalam agar dapat mengikuti rangkaian kegiatan tepat waktu sekaligus merasakan suasana kehidupan malam di Pondok Pesantren Al-Ishlah.
Kehadiran Prof. Abdul Mu’ti semakin menambah semarak Puncak Dasawarsa ke-4 Al-Ishlah Sendangagung. Momentum tersebut sekaligus menjadi bagian dari perjalanan pesantren yang didirikan pada 1986 dan terus berkembang sebagai salah satu pusat pendidikan dan dakwah di kawasan pantura.





0 Tanggapan
Empty Comments