Tawaf Pertama di Baitullah: Air Mata, Doa, dan Subuh di Masjidil Haram
Begitu tiba di hotel, agenda pertama jamaah KBIHU Jabal Nur adalah melaksanakan tawaf qudum atau tawaf kedatangan. Namun sesuai arahan syarikat, pelaksanaan tawaf tidak langsung dilakukan karena seluruh jamaah diminta beristirahat terlebih dahulu setelah perjalanan panjang dari Indonesia menuju Tanah Suci.
Perjalanan sekitar 11 jam di pesawat ditambah hampir dua jam perjalanan darat dari Jeddah menuju Makkah benar-benar menguras tenaga.
Saya pun langsung beristirahat di kamar hotel dengan tetap mengenakan kain ihram. Sore hingga malam hari digunakan untuk tidur dan memulihkan kondisi tubuh.
Awalnya tawaf direncanakan dilaksanakan pukul 22.00 waktu Arab Saudi. Seluruh jamaah sudah bersiap sejak malam hari. Namun ternyata ada penundaan karena beberapa jalan mulai ditutup dan sejumlah terminal bus sudah tidak beroperasi normal akibat persiapan puncak haji.
Menembus Macet Dini Hari Menuju Masjidil Haram
Sekitar pukul 23.00 jamaah sudah berkumpul di lobby hotel. Namun seperti biasa dalam musim haji, jadwal sering berubah.
Bus baru benar-benar berangkat sekitar pukul 01.00 dini hari.
Yang mengejutkan, suasana jalanan Makkah ternyata masih sangat padat meskipun sudah lewat tengah malam. Bus beberapa kali berhenti cukup lama karena kemacetan.
Bus yang kami tumpangi menuju Terminal Kudai. Dari sana jamaah berpindah kendaraan menuju Terminal Ajyad. Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju area Masjid al-Haram.
Kami masuk melalui area bawah Abraj Al Bait Towers lalu naik tangga di antara WC 3 dan WC 4 yang langsung menghadap ke Babul Fath.
Saya dan istri bersama beberapa jamaah lain kemudian berjalan memasuki pelataran Masjidil Haram.
Ternyata posisi kami berada di lantai dua sehingga harus turun lagi menuju pelataran bawah tempat jamaah melakukan tawaf.
Dan di situlah…
Untuk pertama kalinya mata ini melihat Ka’bah secara langsung.
Saat Pertama Kali Melihat Ka’bah
Sulit menjelaskan perasaan saat itu.
Ka’bah berdiri megah di tengah lautan manusia. Hati bergetar. Mata terasa panas. Campuran haru, syukur, bahagia, dan rasa tidak percaya menyatu menjadi satu.
Kami mencari posisi lampu hijau, tanda garis lurus dengan Hajar al-Aswad sebagai titik awal tawaf.
Begitu posisi lurus, kami pun memulai tawaf sambil mengucapkan:
_Bismillahi Allahu Akbar._
Putaran demi putaran dilakukan sambil berdoa dan berdzikir. Ketika melewati Multazam, jamaah memanjatkan doa-doa terbaiknya.
Setelah melewati Hijr Ismail dan tiba di Rukun Yamani, kami membaca doa yang diajarkan Rasulullah:
_Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzaban nar._
Pemandangan di sekitar Ka’bah begitu luar biasa. Jamaah dari berbagai bangsa berkumpul dalam satu tujuan. Ada yang berwajah Asia, Afrika, Arab, India, hingga Eropa.
Bahasa mereka berbeda-beda, tetapi isi doanya sama: memohon ampunan, keberkahan, dan keselamatan dunia akhirat.
Tawaf, Zamzam, dan Subuh Pertama di Masjidil Haram
Di beberapa titik terlihat jamaah perempuan salat di area pelataran tawaf, di belakang Maqam Ibrahim. Para askar atau petugas keamanan berdiri di dekat mereka untuk menjaga agar tidak tersenggol jamaah yang sedang tawaf.
Tawaf di pelataran bawah ternyata cukup menguras tenaga. Semakin dekat ke Ka’bah, arus jamaah semakin padat dan dorongan manusia terasa sangat kuat. Karena itu saya memilih jalur yang agak ke luar agar lebih leluasa berjalan.
Meski begitu, suasana dini hari itu sebenarnya tidak terlalu penuh dibanding waktu-waktu puncak. Mungkin sebagian jamaah haji sudah menyelesaikan tawaf lebih awal.
Yang menarik, jamaah laki-laki hampir semuanya seragam mengenakan dua helai kain ihram putih. Sementara jamaah perempuan tampil dengan berbagai warna pakaian dari putih hingga warna-warna cerah.
Ada pula yang melakukan tawaf sambil live streaming menggunakan telepon genggam.
Sekitar satu jam kemudian tawaf selesai.
Kami menuju belakang Maqam Ibrahim untuk minum air zamzam lalu melaksanakan shalat sunnah. Setelah beristirahat sejenak, ternyata waktu Subuh sudah semakin dekat.
Tinggal sekitar 14 menit menjelang adzan, jamaah mulai membentuk shaf-shaf shalat di pelataran Ka’bah. Para jamaah yang sebelumnya tawaf mulai berhenti dan menyusun barisan.
Saya mendapatkan posisi shaf di belakang Hijr Ismail, kira-kira di barisan ketujuh atau kedelapan dari depan.
Dan itulah salat Subuh berjamaah pertama yang saya ikuti di Masjidil Haram.
Suaranya begitu menggugah.
Bacaan imam saat itu menceritakan perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk memanggil manusia melaksanakan haji di Baitullah.
Rasanya sangat mengharukan.
Kami berdiri dalam suasana yang sulit dijelaskan: bahagia, haru, syukur, lelah, dan penuh harapan bercampur menjadi satu di depan Ka’bah.





0 Tanggapan
Empty Comments