Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tersandung Filosofi Sandal di Depan Musala MI Megah

Iklan Landscape Smamda
Tersandung Filosofi Sandal di Depan Musala MI Megah
Tersandung Filosofi Sandal di Depan Musala MI Megah. (Diah Kusumaningrum/PWMU.CO)

Langkah menuju musala untuk mengikuti muroja’ah, Kamis (24/9/2026) pagi, tiba-tiba tertahan. Bukan karena ada yang menghalangi jalan. Bukan pula karena terlambat.

Mata justru tertarik pada pemandangan sederhana di depan musala MI Muhammadiyah Education Gedeg Al Hafidz (MI Megah): deretan sandal dan sepatu yang tertata secara alami. Ada yang berpasangan, ada yang berjauhan. Beragam warna, bentuk, ukuran, dan posisi.

Sederhana. Tetapi ternyata menyimpan cerita.

Pemandangan yang sekilas biasa itu justru menghadirkan sebuah pertanyaan: Mengapa sandal yang hanya bertugas menemani kaki bisa mengajarkan begitu banyak hal tentang kehidupan?

Sandal Tak Pernah Memilih Jalan

Sandal tidak pernah bertanya akan dibawa ke mana. Ia hanya mengikuti langkah pemiliknya.

Ke masjid, ke sekolah, ke pasar, ke rumah teman, atau bahkan ke tempat yang tidak pernah direncanakan sebelumnya.

Begitu pula manusia.

Kita tidak selalu bisa memilih semua jalan yang harus dilalui. Ada jalan yang sudah direncanakan, ada pula jalan yang tiba-tiba terbuka di hadapan kita. Yang bisa kita pilih adalah bagaimana cara melangkahinya.

Berbeda, tetapi Sama-sama Melangkah

Perhatikan sandal-sandal itu. Tidak ada yang benar-benar sama. Ada yang sederhana. Ada yang terlihat kokoh. Ada yang warnanya mencolok. Ada pula yang nyaris tidak menarik perhatian.

Bukankah manusia juga demikian?

Setiap anak memiliki kemampuan, karakter, kecepatan belajar, dan kelebihan yang berbeda.

Karena itu, pendidikan tidak seharusnya hanya mengajarkan anak untuk menjadi seperti orang lain. Pendidikan juga perlu membantu mereka menemukan potensi dan jalan terbaiknya sendiri.

Tidak perlu iri pada langkah orang lain. Sebab setiap orang memiliki perjalanan masing-masing.

Ada yang Berpasangan, Ada yang Berjauhan

Sandal biasanya hadir berpasangan. Namun di depan musala, ada yang pasangannya berdekatan dan ada pula yang terpisah beberapa langkah.

Begitulah kehidupan.

Ada orang yang sejak awal berjalan bersama kita. Ada yang menemani dalam waktu yang panjang. Ada pula yang hanya singgah sebentar, kemudian melanjutkan perjalanan ke arah berbeda.

Berpisah bukan selalu berarti kehilangan.

Terkadang, itu adalah bagian dari perjalanan menuju tujuan masing-masing.

Tidak Semua yang Berantakan Itu Buruk

Susunan sandal di depan musala juga tidak seperti etalase toko. Tidak semuanya lurus. Tidak semuanya menghadap arah yang sama. Namun, semuanya memiliki fungsi.

Di sinilah kehidupan kembali mengajarkan sesuatu: Tidak semua yang terlihat berantakan berarti tidak berarti.

Hidup pun demikian. Rencana yang tidak berjalan bukan berarti kehidupan gagal. Jalan yang berbelok bukan berarti perjalanan selesai.

SMPM 5 Pucang SBY

Kadang kita memang harus melewati ketidakteraturan untuk menemukan arah yang lebih tepat.

Yang Sederhana Pun Bisa Membawa Jauh

Ada sandal sederhana yang mungkin sudah berkali-kali digunakan.

Ada sepatu yang tampak lebih kokoh. Namun, keduanya mempunyai tujuan yang sama: membantu pemiliknya melangkah.

Begitu pula manusia. Jangan pernah meremehkan diri hanya karena merasa tidak memiliki sesuatu yang dimiliki orang lain.

Sebab perjalanan panjang tidak selalu ditentukan oleh seberapa mewah bekal yang kita punya. Yang lebih penting adalah kemauan untuk terus berjalan.

Semakin Tinggi, Semakin Rendah Hati

Ada satu pelajaran menarik dari sandal. Ia selalu berada di bawah kaki. Seolah-olah mengingatkan manusia bahwa setinggi apa pun ia melangkah, tetap harus memiliki pijakan.

Semakin tinggi pencapaian seseorang, semestinya semakin kuat pula kerendahan hatinya. Sebab pada akhirnya, kaki tetap berpijak di tanah.

Prestasi boleh tinggi. Ilmu boleh luas. Kedudukan boleh meningkat. Tetapi hati tetap harus rendah.

Dari Sandal, Menuju Muroja’ah

Menariknya, renungan ini muncul bukan dari buku motivasi atau seminar. Ia muncul sembari menuju muroja’ah.

Dari sandal-sandal yang ditinggalkan sejenak di depan musala. Dari benda sederhana yang setiap hari mungkin dilewati tanpa pernah diperhatikan.

Mungkin inilah salah satu cara Allah mengajarkan kita: bahwa pelajaran tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar.

Kadang ia datang melalui sesuatu yang sangat sederhana. Sandal mengajarkan tentang perbedaan.

Sepasang sandal mengajarkan kebersamaan. Sandal yang berjauhan mengajarkan perpisahan.

Sandal yang sederhana mengajarkan kesyukuran. Dan sandal yang berada di bawah kaki mengajarkan kerendahan hati.

Lalu, ketika langkah kembali diteruskan menuju musala untuk muroja’ah, ada satu pesan yang terasa begitu kuat:

“Jangan sibuk menghitung langkah orang lain. Pastikan sandal kita tetap terpasang dan kaki kita terus melangkah.”

Karena hidup bukan tentang siapa yang memiliki sandal paling bagus. Hidup adalah tentang siapa yang tetap mau berjalan, meskipun jalannya tidak selalu mudah.

Dan dari depan musala MI Megah, pagi itu seolah ada pesan sederhana yang tertinggal:

“Tidak semua yang berserakan berarti tidak berarti. Kadang, dari langkah-langkah yang tampak berantakan, justru sedang terbentuk sebuah perjalanan yang indah.”

Setiap kaki punya langkah. Setiap langkah punya cerita. Dan setiap cerita selalu menyimpan pelajaran.(*)

Revisi Oleh:
  • Zahrah Khairani Karim - 26/09/2026 09:32
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu