Bertambah usia adalah kepastian. Namun, merasa sudah tidak berguna bukan sesuatu yang harus diterima begitu saja.
Pesan itu disampaikan dr. Tjatur Prijambodo, M.Kes, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), dalam kajian yang mengajak jamaah melihat usia lanjut dari sisi yang lebih luas.
Tjatur mengawali pembahasan dengan pertanyaan sederhana: tua itu takdir atau ikhtiar?
Menurutnya, keduanya memiliki ruang masing-masing. Penuaan biologis merupakan sunatullah. Tubuh manusia akan mengalami perubahan seiring bertambahnya usia. Namun, bagaimana seseorang menjalani usia tersebut masih bisa diikhtiarkan.
Dia mengaitkannya dengan Surat Ar-Rum ayat 54 yang menggambarkan perjalanan manusia dari keadaan lemah, kemudian menjadi kuat, lalu kembali mengalami kelemahan.
“Orang itu pasti akan mengalami penuaan dalam konteks sel-sel secara biologis. Itu sunatullah,” ujar dr. Tjatur seperti dilansir di kanal Youtube Masjid Al-Iklash Deltasari..
Tjatur kemudian memberikan gambaran tentang dua orang yang sama-sama berusia 60 tahun. Keduanya mungkin memiliki kondisi kesehatan yang relatif sama. Sama-sama mengalami diabetes atau hipertensi.
“Namun, cara menjalani kehidupan bisa berbeda. Salah satunya masih aktif di masjid, mengikuti kegiatan kampung, menghadiri rapat, berolahraga, dan bersosialisasi. Sementara yang lain lebih banyak berdiam diri di rumah. Ia merasa sudah tua, tidak sehat, dan tidak lagi banyak memiliki manfaat bagi orang lain,” jabarnya.
Menurut Tjatur, perbedaan tersebut menunjukkan bahwa bertambahnya usia tidak otomatis membuat seseorang berhenti aktif.
“Tidak semua orang yang bertambah usianya atau bertambah tua kemudian bertambah bijak,” katanya.
Karena itu, selain perubahan biologis, ada hal lain yang perlu diperhatikan, yakni kondisi psikologis seseorang ketika memasuki usia lanjut.
Salah satu hal yang disoroti Tjatur adalah sindrom kekosongan atau emptiness syndrome.
Dia menjelaskan, kondisi tersebut ditandai dengan perasaan kosong, kesepian, merasa sendirian, merasa tidak lagi memiliki teman, hingga merasa dirinya sudah tidak bermanfaat.
Jika dibiarkan, perasaan tersebut dapat membuat seseorang semakin menarik diri dari lingkungan sosial.
“Merasa kesepian, merasa sendiri karena memang tidak bersosialisasi,” jelasnya.
Menurut Tjatur, orang yang semakin jarang berinteraksi dengan lingkungan berisiko semakin terjebak dalam pikiran negatif tentang dirinya sendiri.
Karena itu, usia lanjut tidak semestinya menjadi alasan untuk berhenti bersosialisasi. Justru pada fase tersebut, seseorang perlu tetap menjaga hubungan dengan orang lain.
Silaturahim Menjaga Seseorang Tetap Terhubung
Tjatur mengajak jamaah memperbanyak silaturahim. Salah satu bentuknya adalah salat berjamaah.
Selain ibadah, salat berjamaah membuat seseorang bertemu dan berinteraksi dengan orang lain. Demikian pula dengan menghadiri kajian, mengikuti rapat, dan terlibat dalam kegiatan masyarakat.
“Kalau ada kesempatan untuk salat berjamaah, salatlah berjamaah. Kalau ada kesempatan untuk silaturahim, rapat hadiri, ada kajian-kajian datangi,” pesannya.
Dengan tetap terhubung dengan lingkungan, seseorang tidak mudah merasa sendirian atau kehilangan peran.
Pesan ini menjadi penting terutama bagi mereka yang mulai memasuki usia lanjut. Jangan sampai rumah menjadi satu-satunya tempat beraktivitas hanya karena merasa usia sudah tidak memungkinkan untuk terlibat dalam berbagai kegiatan.
Tetap Mengaji dan Terus Bergerak
Selain silaturahim, Tjatur mengajak jamaah tetap mengaji. Menurutnya, aktivitas membaca dan mempelajari Al-Qur’an perlu terus dijaga. Targetnya dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
Jika mampu, satu juz sehari. Jika belum, satu juz dalam sepekan. Yang terpenting adalah menjaga kebiasaan agar tidak berhenti belajar.
“Pokoknya kudu one day one juz,” ujarnya.
Aktivitas fisik juga tidak boleh ditinggalkan. Dr. Tjatur menganjurkan olahraga sederhana, salah satunya berjalan kaki dengan tempo lebih cepat selama sekitar 30 menit, setidaknya tiga kali dalam sepekan.
Usia bertambah bukan alasan untuk berhenti bergerak. Tubuh memang mengalami perubahan, tetapi tetap perlu dirawat dan digunakan untuk aktivitas yang bermanfaat.
Mengatur Pola Makan
Tjatur juga mengingatkan pentingnya mengatur pola makan. Dia mengutip Surat Al-A’raf ayat 31 tentang anjuran makan dan minum tanpa berlebihan.
Menurutnya, pola makan perlu diperhatikan terutama ketika usia semakin bertambah. Dalam kajian tersebut, ia secara khusus mengingatkan jamaah berusia 50 tahun ke atas untuk menghindari konsumsi minuman manis.
Pesannya adalah menjaga keseimbangan dan tidak berlebihan dalam mengonsumsi makanan maupun minuman.
Di atas semua ikhtiar tersebut, Tjatur menempatkan kedekatan kepada Allah sebagai hal utama. Dia mengingatkan Surat Adz-Dzariyat ayat 56 tentang tujuan penciptaan manusia dan jin untuk beribadah kepada Allah.
“Selalu atau semakin mendekatkan diri dengan Allah. Itu kunci utamanya,” tuturnya.
Bertambahnya usia, menurut dia, semestinya menjadi kesempatan untuk menata kembali niat dan memperbanyak amal.
Karena itu, seseorang tidak perlu melihat usia lanjut hanya sebagai masa ketika kemampuan fisik semakin berkurang.
Ada sisi lain yang justru dapat semakin kuat: pengalaman, kematangan, kesempatan beribadah, dan kemampuan memberi manfaat kepada orang lain.
Tjatur menegaskan, penuaan biologis merupakan bagian dari sunatullah. Hal itu tidak bisa dihindari.
Namun, seseorang masih memiliki ruang untuk menjaga kondisi psikologisnya agar tidak larut dalam perasaan negatif dan kehilangan semangat.
“Silakan biologis selnya, biologis penuaannya jalan, tetapi semangatnya, perasaannya itu tetap seperti di puncak usia tadi,” katanya.
Dengan demikian, usia 60 atau 70 tahun tidak harus menjadi alasan untuk berhenti berkegiatan.
Tetaplah bersilaturahim. Tetap mengaji. Tetap bergerak. Tetap menjaga pola makan. Dan semakin mendekat kepada Allah. Sebab, yang bertambah bersama usia bukan hanya angka.
Ada kesempatan untuk semakin matang, semakin bermanfaat, dan semakin dekat kepada Sang Pencipta.
“Tua adalah sunatullah. Tetap bermanfaat adalah ikhtiar,” tutup dia. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments