Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mulai menyiapkan Sustainability Center sebagai pusat penguatan agenda keberlanjutan kampus. Untuk mematangkan konsep tersebut, UMY belajar tata kelola kampus berkelanjutan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.
Pembelajaran itu dilakukan Badan Perencanaan dan Reputasi Global (BPRG) UMY melalui kunjungan benchmarking ke ITS pada Senin (31/8/2026) lalu. Delegasi UMY dipimpin Dr. Mega Hidayati, S.Ag., S.S., M.A., sedangkan ITS dipimpin Prof. Dr. Ir. Umi Laili Yuhana, S.Kom., M.Sc., CRP.
Benchmarking tersebut tidak sekadar membahas program lingkungan. UMY mempelajari bagaimana agenda keberlanjutan diintegrasikan ke dalam tata kelola universitas, sistem berbasis data, teknologi, serta indikator kinerja.
ITS menjadi salah satu rujukan karena telah mengembangkan program Smart Eco Campus sejak 2011. Program tersebut memadukan teknologi, ilmu pengetahuan, dan pengelolaan lingkungan melalui efisiensi energi, energi terbarukan, urban farming, pengelolaan air, ruang terbuka hijau, hingga pengelolaan sampah.
“Kami ingin melihat bagaimana keberlanjutan tidak hanya dijalankan sebagai program, tetapi menjadi bagian dari tata kelola universitas yang didukung oleh sistem, data, teknologi, dan indikator yang jelas,” ujar Mega, Jumat (4/9/2026.
Menurut dia, praktik yang diterapkan ITS akan menjadi referensi untuk kemudian disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik UMY.
Salah satu praktik yang menarik perhatian delegasi UMY adalah Eco Urban Farming di lingkungan ITS. Pemanfaatan lahan kampus tersebut tidak hanya ditujukan untuk pertanian organik, tetapi juga menjadi sarana edukasi dan penelitian.
Bagi UMY, praktik tersebut menunjukkan bahwa ruang kampus dapat memiliki fungsi ekologis sekaligus akademik. Urban farming dapat menjadi ruang pembelajaran bagi sivitas akademika sekaligus mendukung pengembangan ketahanan pangan lokal.
UMY juga mempelajari pengelolaan sampah ITS yang menerapkan prinsip reduce, reuse, recycle (3R). Praktiknya antara lain pengurangan material sekali pakai, pemilahan sampah, pengelolaan limbah elektronik, dan pengembangan bank sampah.
Yang tidak kalah penting, pengelolaan sampah tersebut terhubung dengan pelaporan capaian SDGs. Dengan demikian, program keberlanjutan tidak berhenti pada aktivitas, tetapi dapat dipantau dan diukur hasilnya
Aspek lain yang menjadi perhatian UMY adalah pemanfaatan data untuk mengukur kinerja keberlanjutan.
ITS memiliki sistem pemantauan energi rendah karbon yang digunakan untuk mencatat pemanfaatan energi di lingkungan kampus. Data tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi konsumsi energi, mengevaluasi efisiensi, dan menjadi dasar pengambilan kebijakan.
Pendekatan berbasis data ini dinilai penting dalam pengembangan Sustainability Center UMY.
“Keberlanjutan membutuhkan proses yang terukur. Karena itu, kami melihat pentingnya membangun sistem data dan dashboard yang dapat membantu universitas memantau capaian, mengevaluasi program, serta menentukan kebijakan berdasarkan kondisi yang aktual,” jelas Mega.
Selain energi, UMY juga mempelajari pengelolaan data vegetasi dan ruang terbuka hijau. Aspek tersebut berkaitan dengan keseimbangan lingkungan, sistem hidrologi, iklim mikro, dan kualitas lingkungan kampus.
Sustainability Center UMY Akan Integrasikan Berbagai Agenda
Hasil benchmarking akan menjadi bahan dalam merancang Sustainability Center UMY. Pusat ini diarahkan bukan sekadar menjadi wadah koordinasi, tetapi juga menjadi penghubung berbagai agenda keberlanjutan di lingkungan universitas.
Fungsinya antara lain mengintegrasikan data dan indikator kinerja, mengoordinasikan pelaporan capaian SDGs, serta mendukung penyusunan kebijakan keberlanjutan.
Mega menegaskan, pengembangan pusat tersebut membutuhkan pendekatan lintas bidang. Agenda keberlanjutan tidak dapat berjalan sendiri-sendiri antara program lingkungan, pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Karena itu, UMY juga mengkaji penguatan sistem informasi keberlanjutan dan pengembangan dashboard universitas. Sistem tersebut diharapkan dapat membantu memantau capaian secara lebih terukur.
Praktik yang dipelajari dari ITS akan dipetakan lebih lanjut untuk menentukan aspek yang dapat diadaptasi. Penyesuaian tetap dilakukan berdasarkan karakteristik dan kebutuhan UMY.
Kunjungan benchmarking sekaligus membuka peluang kolaborasi antara UMY dan ITS dalam pengembangan kampus berkelanjutan.
Pertukaran pengetahuan dan pengalaman dinilai dapat mempercepat pengembangan sistem keberlanjutan perguruan tinggi, terutama dalam pemanfaatan teknologi, pengelolaan lingkungan, dan pengukuran capaian berbasis data.
“Kami berharap benchmarking ini menjadi langkah awal untuk membangun Sustainability Center UMY yang mampu menghubungkan berbagai inisiatif keberlanjutan di universitas,” kata Mega.
Dengan Sustainability Center, UMY menargetkan agenda keberlanjutan tidak hanya menjadi kumpulan program lingkungan, tetapi terintegrasi dalam tata kelola, pengambilan kebijakan, pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya UMY memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) secara lebih terarah dan terukur. (*)
Foto: BPRG UMY





0 Tanggapan
Empty Comments