Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Wakil Ketua PWM Jatim: Puasa Berkualitas Fondasi Islam Berkemajuan

Iklan Landscape Smamda
Wakil Ketua PWM Jatim: Puasa Berkualitas Fondasi Islam Berkemajuan
Wakil Ketua PWM Jatim Dr. Sulthon Amien menyampaikan tausiyah di Kajian Ahad Pagi KH. Ahmad Dahlan edisi khusus di Masjid At-Taqwa Kota Batu. Foto: Istimewa
pwmu.co -

Menyambut datangnya Bulan Suci Ramadan 1448 H, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Batu kembali menggelar Kajian Ahad Pagi K.H. Ahmad Dahlan edisi khusus.

Kegiatan yang berlangsung pada Ahad (8/2/2026), bertepatan dengan 20 Syakban 1447 H, ini dipusatkan di Masjid At-Taqwa Kota Batu dan dihadiri jamaah dari berbagai unsur persyarikatan serta masyarakat umum.

Mengusung tema “Ramadan Mubarok: Menguatkan Karakter Islam Berkemajuan melalui Ibadah yang Berkualitas”, kajian menghadirkan Wakil Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim, Dr. Sulthon Amien, MM, sebagai pemateri utama.

Sejak pagi, suasana masjid tampak penuh dengan jamaah yang antusias mengikuti pemaparan materi sebagai bekal menyongsong Ramadan.

Dalam ceramahnya, Sulthon Amien menegaskan, Muhammadiyah hadir sebagai representasi Islam moderat yang berlandaskan ilmu pengetahuan. Menurutnya, semangat beragama harus berjalan seiring dengan pemahaman yang rasional dan ilmiah.

“Beragama tidak cukup hanya dengan semangat. Harus ada ilmu yang membimbingnya. Dengan ilmu, praktik keberagamaan kita menjadi rasional, terukur, dan berdampak positif,” ujarnya.

Dia menjelaskan bahwa salah satu ciri Islam berkemajuan adalah keberanian melakukan ijtihad berbasis sains dan metodologi yang kuat.

Contoh konkret yang ia sampaikan adalah lahirnya Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), yang digagas sebagai solusi atas perbedaan penanggalan Islam di berbagai negara.

KHGT mengusung prinsip satu hari satu tanggal untuk seluruh dunia dengan mengacu pada satu zona waktu (satu matlak).

Konsep ini, menurutnya, merupakan bentuk kesungguhan umat Islam dalam membangun sistem waktu yang seragam secara global, dengan pendekatan astronomi modern.

Selain itu, Muhammadiyah juga dikenal dengan ketepatan dalam penentuan arah kiblat yang dihitung secara presisi, yakni sekitar 22 derajat dari arah barat ke utara untuk wilayah Indonesia tertentu.

Ketelitian ini menunjukkan bahwa Islam tidak bertentangan dengan sains, bahkan mendorong pemanfaatan ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan umat.

“Islam itu mencerahkan. Islam itu berkemajuan. Dan kemajuan itu tidak mungkin tanpa ilmu. Maka mari beragama dengan ilmu,” tegasnya di hadapan jamaah.

Memasuki pembahasan utama tentang Ramadan, Dr. Sulthon mengajak jamaah kembali kepada firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 183 yang menyebutkan bahwa puasa diwajibkan agar umat Islam menjadi pribadi yang bertakwa.

Dia menekankan bahwa takwa bukan sekadar rajin menjalankan ibadah ritual, tetapi juga tercermin dalam perilaku sosial dan akhlak sehari-hari.

Ramadan, menurutnya, adalah momentum muhasabah—waktu terbaik untuk melakukan koreksi diri, memperbaiki hubungan dengan Allah sekaligus dengan sesama manusia.

“Takwa itu bukan hanya soal hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga hubungan horizontal dengan manusia. Orang yang berpuasa harus lebih jujur, lebih sabar, lebih peduli,” ungkapnya.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Dia mengingatkan bahwa kualitas puasa tidak diukur dari sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan dari perubahan karakter yang terjadi setelah Ramadan usai.

Puasa yang berkualitas akan melahirkan pribadi yang disiplin, empatik, serta mampu mengendalikan diri.

Menariknya, dalam kajian tersebut Dr. Sulthon juga mengaitkan puasa Ramadan dengan konsep intermittent fasting dalam dunia kesehatan modern.

Dia menjelaskan bahwa metode ini mengatur pola makan dengan periode puasa dan makan secara bergantian, yang dalam banyak penelitian terbukti memiliki manfaat fisiologis.

Secara alami, puasa Ramadan merupakan bentuk intermittent fasting karena terdapat pembatasan waktu makan hanya pada malam hari, sementara siang hari tubuh berada dalam kondisi berpuasa.

Pola ini membantu menurunkan kadar insulin, meningkatkan sensitivitas insulin, serta mendorong tubuh memanfaatkan lemak sebagai sumber energi.

“Allah memerintahkan puasa bukan hanya untuk kepentingan spiritual, tetapi juga membawa hikmah kesehatan. Ketika dijalankan dengan benar, puasa menjadi terapi fisik sekaligus spiritual,” jelasnya.

Namun demikian, ia mengingatkan agar puasa tidak justru berubah menjadi ajang balas dendam makan saat berbuka. Pola makan yang berlebihan akan menghilangkan manfaat kesehatan yang seharusnya diperoleh.

Kajian Ahad Pagi edisi khusus ini menjadi pengingat bahwa Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum transformasi diri.

Islam berkemajuan, sebagaimana ditekankan Sulthon, menuntut umatnya untuk beribadah secara berkualitas—memahami dalilnya, menghayati maknanya, dan merasakan dampaknya dalam kehidupan nyata.

Melalui kegiatan ini, PDM Kota Batu berharap jamaah dapat menyongsong Ramadan dengan kesiapan spiritual, intelektual, dan fisik.

Ibadah puasa yang dijalankan dengan ilmu dan kesadaran diharapkan mampu melahirkan karakter muslim yang tangguh, moderat, dan berkemajuan.

Kajian ditutup dengan doa bersama agar Ramadan 1448 H menjadi bulan yang membawa keberkahan dan perubahan nyata bagi pribadi, keluarga, dan masyarakat.

Dengan semangat “Puasa Berkualitas, Islam Berkemajuan”, jamaah meninggalkan Masjid At-Taqwa pagi itu dengan bekal pemahaman yang lebih utuh—bahwa ibadah dan ilmu bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan satu kesatuan dalam perjalanan menuju takwa. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 08/02/2026 13:16
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡