Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Rektor UMM Soroti Pentingnya Ekosistem Belajar dan Kepemimpinan Sekolah dalam Malik Fadjar Bootcamp

Iklan Landscape Smamda
Rektor UMM Soroti Pentingnya Ekosistem Belajar dan Kepemimpinan Sekolah dalam Malik Fadjar Bootcamp
Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. (Istimewa/PWMU.CO)
pwmu.co -

Kualitas pendidikan dinilai tidak akan menguat jika sekolah terus terfokus pada pemenuhan formalitas administrasi namun mengabaikan pembangunan ekosistem pendidikan yang sehat.

Hal tersebut disampaikan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., dalam agenda Malik Fadjar Bootcamp bertajuk ‘Manajemen Kelembagaan Sekolah’ yang diinisiasi oleh Rumah Baca Cerdas (RBC) Abdul Malik Fadjar Institute. Acara ini dihadiri oleh para akademisi dan pengelola sekolah Muhammadiyah se-Malang Raya, Jumat (22/5/2026).

Dalam Stadium Generale tersebut, Nazar, sapaan akrabnya, menyoroti ketimpangan distribusi dan kompetensi guru sebagai salah satu faktor yang memengaruhi mutu pendidikan nasional. Ia menjelaskan bahwa saat ini masih ada tenaga pengajar yang bertugas tidak sesuai dengan bidang keahliannya.

Malik Fadjar Bootcamp
Suasana Malik Fadjar Bootcamp (Istimewa/PWMU.CO)

Di tengah keterbatasan itu, sekolah juga menghadapi tuntutan untuk memenuhi berbagai target administratif yang sering kali tidak selaras dengan esensi peningkatan kualitas belajar siswa. Kondisi ini dinilai dapat memengaruhi kualitas pembelajaran serta kredibilitas lembaga pendidikan di mata publik.

“Kalau guru mengajar tidak sesuai kompetensinya, dampaknya panjang. Mutu sekolah turun, kepercayaan masyarakat ikut turun, dan akhirnya sekolah kehilangan daya saing,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti fenomena birokratisasi pendidikan yang dinilai dapat membatasi ruang gerak institusi pendidikan. Menurutnya, sebagian sekolah kini berfokus pada pengakuan administratif dan pencitraan luar, sehingga mengesampingkan urgensi kepemimpinan sekolah (school leadership). Oleh karena itu, lembaga pendidikan berbasis masyarakat seperti sekolah Muhammadiyah diharapkan tidak sekadar mengikuti pola kerja birokrasi, melainkan berani berinovasi sesuai kebutuhan sosial di sekitarnya.

“Sekolah perlahan berubah menjadi institusi yang sibuk mengejar formalitas, tetapi kehilangan keberanian membaca kebutuhan riil. Kita jangan hanya sibuk selebrasi dan pencitraan. Yang lebih penting adalah bekerja tenang, membangun kualitas secara konsisten, dan memberi kontribusi nyata,” tegasnya.

SMPM 5 Pucang SBY

Selain persoalan sistemik, ia juga menyayangkan adanya stigma yang menempatkan profesi guru sebagai pekerjaan kelas dua. Pandangan tersebut dinilai membuat sebagian generasi muda enggan menjadikan dunia pendidikan sebagai pilihan karier utama.

RBC Abdul Malik Fadjar Institute
Foto bersama Rektor UMM dan peserta Malik Fadjar Bootcamp (Istimewa/PWMU.CO)

Padahal, perkembangan kualitas pendidikan masa depan bergantung pada sejauh mana profesi ini mampu dihargai, baik secara sosial maupun intelektual.

“Jika guru merasa second class, sekolah akan sulit berkembang. Pendidikan membutuhkan orang-orang yang percaya bahwa profesi ini adalah jalan pengabdian sekaligus jalan membangun peradaban,” ungkapnya.

Sebagai pesan penutup, Nazar menegaskan bahwa manajemen kelembagaan sekolah merupakan proses membangun sistem yang berjalan, bukan sekadar urusan mengelola dokumen dan laporan.

Kualitas pendidikan lahir dari konsistensi dalam merawat ekosistem yang sehat antara sekolah, pendidik, siswa, orang tua, dan masyarakat. Lembaga pendidikan yang kuat diharapkan tidak hanya mampu meluluskan siswa dengan nilai akademik tinggi, tetapi juga mencetak karakter untuk menghadapi dinamika perubahan zaman. (*)

Revisi Oleh:
  • Tanwirul Huda - 22/05/2026 15:35
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡