Menimbang Dampak Sosial, Budaya, dan Lingkungan
Dari perspektif sosial, pariwisata menghadirkan dua sisi. Pariwisata membuka lapangan kerja bagi masyarakat setempat. Pemandu, pengrajin, petani, dan pedagang ikut memperoleh manfaat.
Namun, pariwisata juga dapat memicu komodifikasi budaya. Pengelola dapat mengubah ritual menjadi pertunjukan. Mereka terkadang menyesuaikan tradisi dengan selera pasar. Akibatnya, tradisi berisiko kehilangan makna aslinya.
Para peneliti budaya menyebut gejala tersebut sebagai pengosongan makna. Pengelola wisata perlu mewaspadai gejala tersebut. Terutama ketika mereka mengusung nilai-nilai agama.
Dari perspektif sains, lingkungan memiliki batas daya dukung. Para ahli lingkungan mengenalkan konsep daya dukung kawasan. Konsep tersebut menunjukkan batas toleransi jumlah pengunjung. Ekosistem dapat rusak ketika pengunjung melampaui batas.
Transportasi wisata juga menghasilkan emisi karbon. Penerbangan dan perjalanan darat menyumbang emisi tersebut. Sampah wisata juga menumpuk di pantai dan pegunungan.
Al-Qur’an telah mengingatkan manusia tentang kerusakan lingkungan. Kerusakan darat dan laut terjadi akibat ulah manusia (QS. Ar-Rum: 41). Allah juga melarang manusia membuat kerusakan. Larangan tersebut berlaku setelah Allah memperbaiki bumi (QS. Al-A’raf: 56).
Majelis Tarjih telah menunjukkan kepedulian terhadap persoalan ekologis. Gagasan fikih air menjadi salah satu contohnya. Gagasan tersebut menjawab tantangan krisis air.
Semangat ekologis tersebut dapat menjangkau pengelolaan wisata. Pengelola perlu membatasi jumlah kunjungan secara proporsional. Mereka juga harus mengelola limbah dengan baik. Selain itu, mereka wajib melindungi sumber daya alam. Semua langkah tersebut mencerminkan tanggung jawab manusia. Manusia memikul amanah Allah untuk menjaga bumi.
Peluang Muhammadiyah Mengembangkan Wisata Berkemajuan
Muhammadiyah memiliki modal kelembagaan yang cukup besar. Persyarikatan memiliki perguruan tinggi dan rumah sakit. Muhammadiyah juga mengelola sekolah dan hotel. Jaringan cabangnya tersebar di seluruh Nusantara.
Modal tersebut membuka peluang pengembangan wisata edukasi. Muhammadiyah juga dapat mengembangkan wisata sejarah pergerakan. Desa wisata berbasis pemberdayaan masyarakat juga layak dikembangkan.
Kampung Kauman di Yogyakarta menjadi salah satu contohnya. Tempat tersebut menyimpan sejarah kelahiran Muhammadiyah. Pengelola dapat mengembangkan wisata sejarah secara edukatif. Mereka tetap perlu menjaga prinsip-prinsip Persyarikatan.
Pengembangan wisata harus berpegang pada prinsip Muhammadiyah. Persyarikatan menjaga kemurnian tauhid dan rujukan keagamaan. Al-Qur’an dan Sunnah menjadi landasan utama.
Muhammadiyah juga perlu terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
Manhaj tarjih menyediakan tiga pendekatan penting: 1) bayani memastikan kita tidak melangkahi teks; 2. burhani mengharuskan kita menggunakan data sahih, dan; 3. irfani menumbuhkan syukur dan kerendahan hati.
Ketiga pendekatan tersebut dapat mengawal pengembangan wisata. Wisatawan tidak hanya mengejar kesenangan dan keuntungan. Mereka juga perlu menjaga nilai spiritual dan kemanusiaan.
Menjadikan Perjalanan sebagai Amanah
Fikih pariwisata tidak harus bermula dari larangan. Kita perlu memulainya dengan kesadaran tentang amanah. Perjalanan melibatkan waktu, harta, tubuh, dan lingkungan. Kita juga berinteraksi dengan sesama manusia. Semua itu merupakan titipan yang harus dijaga.
Kita dapat menikmati wisata tanpa merasa bersalah. Syaratnya, kita meluruskan niat dan menjaga perilaku. Kita juga harus menghindari dampak yang merugikan. Jangan sampai perjalanan merugikan manusia dan lingkungan.
Sudah saatnya Munas Tarjih mempertimbangkan tuntunan pariwisata. Tuntunan tersebut perlu memadukan dalil, data, dan kearifan lokal. Dengan begitu, umat Islam memiliki pedoman lebih jelas. Mereka dapat menghadapi perkembangan destinasi dan industri wisata.
Sebab, perjalanan bermakna bukan sekadar menghasilkan foto. Perjalanan seharusnya membawa pelajaran dan kesadaran. Wisata yang baik juga menumbuhkan tanggung jawab. Kita pulang membawa pengalaman, bukan sekadar kenangan.






0 Tanggapan
Empty Comments