
PWMU.CO — Dalam rangka memperingati Hari Hipertensi Sedunia, Rumah Sakit Siti Khodijah Muhammadiyah Cabang Sepanjang bersama Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya (FK UM Surabaya) menggelar Workshop Home Blood Pressure Monitoring (HBPM) yang ditujukan kepada para kader kesehatan desa.
Kegiatan yang berlangsung pada Jumat (23/5/2025) ini melibatkan 30 peserta dari kalangan kader desa, dan diprakarsai oleh dokter muda FK UM Surabaya dengan bimbingan dr Muhammad Perdana Airlangga SpJP dan dr Irma Kartikasari SpJP.
Para peserta mendapatkan edukasi langsung mengenai pentingnya pemantauan tekanan darah di rumah sebagai upaya deteksi dini dan pencegahan hipertensi.
Menurut Ahmad Mochtar Jamil SKed, dokter muda FK UM Surabaya yang terlibat langsung dalam kegiatan, tujuan workshop ini adalah untuk meningkatkan pemahaman kader terhadap pentingnya deteksi dini serta pencegahan hipertensi.
“Kami ingin kader tidak hanya paham teori, tapi juga mampu mengedukasi masyarakat secara praktis dan benar,” ujarnya.
Materi disampaikan oleh Azhar Fahri Idrus SKed, yang menjelaskan secara mendalam mengenai hipertensi dan pentingnya Home Blood Pressure Monitoring (HBPM).
Ia memaparkan bahwa HBPM adalah metode mandiri untuk mengukur tekanan darah di rumah, yang dinilai efektif dalam membantu diagnosis, memantau terapi, dan mendeteksi hipertensi terselubung atau sekunder.
Selain menekankan pentingnya penggunaan alat ukur yang tervalidasi, Azhar juga mengajarkan cara pengukuran yang benar.
Peserta diminta duduk dengan posisi rileks, punggung bersandar, kaki menapak lantai tanpa menyilang, dan lengan sejajar dengan jantung. Pengukuran harus dilakukan dalam suasana tenang, minimal dua kali dengan jeda satu menit di antara pengukuran.
Kegiatan ini semakin holistic dengan adanya materi gizi yang disampaikan oleh Sylviana Radina Ramadhani AMd Gz bagian gizi RS Siti Khodijah Sepanjang.
Sylviana turut menyampaikan materi mengenai peran pola makan sehat dalam pengendalian hipertensi.
Sylviana juga memberikan contoh menu harian yang sederhana namun tetap sehat.
Melalui gabungan edukasi medis dan gizi ini, para kader tidak hanya dibekali pengetahuan teoritis, tetapi juga keterampilan praktis yang dapat langsung diterapkan di lapangan.
“Kami berharap para kader dapat menyebarkan pemahaman ini ke lingkungan masing-masing dan mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap tekanan darah dan pola hidup sehat,” tutup Ahmad Mochtar Jamil. (*)
Penulis Rahma Ismayanti Editor Alfain Jalaluddin Ramadlan





0 Tanggapan
Empty Comments