Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Wujud Cinta Budaya, Spemutu Rayakan Hari Batik dengan Cara Sederhana

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Wujud Cinta Budaya, Spemutu Rayakan Hari Batik dengan Cara Sederhana
Kesederhanaan peringatan Hari Batik Nasional di SMP Muhammadiyah 1 Gresik (Spemutu) pada Jumat (2/10/2026). Foto: Beny Syah.
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
pwmu.co -

Tak perlu panggung megah, perlombaan, atau perayaan yang meriah untuk menunjukkan kecintaan terhadap budaya bangsa.

Di SMP Muhammadiyah 1 Gresik (Spemutu), Hari Batik Nasional diperingati dengan cara sederhana, tetapi sarat makna: mengenakan batik bersama-sama.

Jumat (2/10/2026), suasana Spemutu tampak berbeda. Siswa, guru, dan tenaga kependidikan hadir dengan balutan batik dalam beragam motif dan warna. Batik yang biasanya hadir pada hari-hari tertentu, pagi itu menjadi bagian dari wajah sekolah.

Kesederhanaan tersebut menjadi cara Spemutu memperingati Hari Batik Nasional sekaligus menumbuhkan rasa memiliki, bangga, dan cinta terhadap budaya Indonesia.

Bukan Motif Semata

Bagi Spemutu, batik bukan sekadar kain bermotif yang dikenakan sebagai seragam. Di balik setiap motif terdapat cerita, kreativitas, tradisi, dan perjalanan panjang budaya Indonesia.

Karena itu, mengenakan batik menjadi salah satu cara sederhana untuk menjaga agar warisan budaya tersebut tetap dekat dengan generasi muda.

Kepala Spemutu, Rosyidul Arifibillah SPi SPd MPd mengatakan bahwa peringatan Hari Batik tidak harus selalu diwujudkan melalui kegiatan besar.

“Kami ingin anak-anak memahami bahwa mencintai budaya bisa dimulai dari hal yang sederhana. Hari ini kita memakai batik bersama-sama. Di balik itu ada rasa memiliki, rasa bangga, dan rasa cinta terhadap budaya Indonesia” ujarnya.

Menurut Rosyidul, sekolah memiliki posisi strategis dalam mengenalkan dan menanamkan kecintaan terhadap budaya kepada generasi muda. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi pengalaman yang membekas bagi siswa.

“Ketika anak-anak terbiasa melihat, mengenakan, dan menghargai batik, harapannya batik tidak hanya mereka kenal sebagai materi pembelajaran, tetapi menjadi bagian dari kehidupan dan identitas mereka sebagai generasi Indonesia” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Urusan Kurikulum Spemutu, Tri Wahyuningsih SPd memandang peringatan Hari Batik sebagai kesempatan untuk menghadirkan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan siswa.

Menurutnya, pendidikan budaya tidak selalu harus berlangsung di dalam ruang kelas. Ketika siswa mengenakan batik, kemudian mengetahui alasan dan nilai di baliknya, proses belajar tentang budaya sebenarnya sedang berlangsung.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

“Anak-anak belajar bahwa budaya tidak hanya ada di buku. Budaya juga ada di sekitar kita dan bisa kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memakai batik dan merasa bangga mengenakannya, mereka belajar menghargai identitas bangsa” ungkapnya.

Perkuat Akar Budaya

Tri menilai, kebiasaan sederhana semacam itu penting bagi generasi muda yang tumbuh di tengah derasnya perkembangan teknologi dan budaya global.

“Harapannya, anak-anak tetap memiliki akar budaya yang kuat. Mereka boleh memiliki wawasan global, tetapi tetap mengenal, menghargai, dan mencintai budaya sendiri” jelasnya.

Pagi itu, motif batik hadir dalam beragam bentuk. Ada yang didominasi warna gelap, terang, maupun kombinasi motif yang beraneka ragam.

Perbedaan motif tersebut justru menghadirkan satu kesamaan: kebanggaan mengenakan batik sebagai bagian dari budaya Indonesia.

Tidak ada seremoni khusus yang berlebihan. Tidak pula ada kemeriahan yang menjadi tujuan utama. Spemutu memilih menghadirkan Hari Batik melalui kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan seluruh warga sekolah.

Pesannya pun sederhana: kalau ingin budaya tetap hidup, maka budaya harus terus dikenakan, dikenal, dan dicintai.

Dari lingkungan sekolah, semangat itu ditanamkan. Dari selembar kain batik yang dikenakan pada Jumat pagi, tumbuh kesadaran bahwa warisan budaya bukan hanya sesuatu yang perlu dikenang, tetapi juga perlu dirawat dan dibanggakan.

Hari Batik di Spemutu akhirnya bukan sekadar tentang pakaian yang dikenakan sehari. Ia menjadi pengingat bahwa kecintaan terhadap Indonesia dapat dimulai dari sesuatu yang sangat dekat, dari apa yang kita pakai, kita kenal, dan kita banggakan.

SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu