Persoalan air keruh yang digunakan warga mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 162 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan solusi berbasis potensi lokal. Di Dusun Bulurejo, Desa Tumpakrejo, Kabupaten Malang, mahasiswa membangun sistem filter air dengan memanfaatkan sejumlah material penyaring, termasuk arang batok kelapa produksi warga setempat.
Program tersebut dilaksanakan selama Agustus 2026 setelah mahasiswa melakukan observasi terhadap kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat. Dari pemetaan itu, mahasiswa menemukan dua sumber air yang digunakan warga masih dalam kondisi keruh.
Ketua KKN Kelompok 162 UMM, Aryanusa Ega Prasetya, mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan utama yang kemudian mereka prioritaskan.
“Dua sumber air yang digunakan warga kondisinya masih kotor. Jadi kami memasang filter dari sumber air menuju tandon warga. Setelah dari tandon, air baru disalurkan ke rumah-rumah,” kata Aryanusa, Kamis (20/8/2026).
Filter dirancang dan dibuat secara mandiri oleh mahasiswa. Sistem penyaringan menggunakan beberapa lapisan material, yakni pasir silika, kasa filter air, gravel atau batu kerikil, arang, manganese greensand, dan zeolit.
Material tersebut disusun berlapis untuk menyaring air sebelum masuk ke tandon. Setelah melalui proses filtrasi, air ditampung di tandon dan selanjutnya dialirkan ke rumah-rumah warga.
Hasil penyaringan menunjukkan perubahan kondisi air yang sebelumnya keruh menjadi lebih jernih setelah melewati rangkaian filter.
Yang menarik, salah satu material utama dalam sistem tersebut berasal dari lingkungan sekitar. Arang yang digunakan merupakan arang batok kelapa yang diproduksi dan dijual oleh warga Bulurejo.
“Arangnya dari potensi warga. Kebetulan di sini banyak pohon kelapa dan ada warga yang menjual arang dari batok kelapa. Kami mendapatkannya dari warga,” ujar Aryanusa.
Pemanfaatan arang batok kelapa tidak hanya menjadi bagian dari solusi penyaringan air, tetapi juga memperkuat keterlibatan masyarakat dalam program KKN. Mahasiswa memanfaatkan sumber daya yang tersedia di desa sekaligus melibatkan warga dalam penyediaan material.
Pembuatan filter air dibiayai secara mandiri oleh KKN Kelompok 162. Sejumlah material lainnya diperoleh melalui bantuan warga sehingga program tersebut berjalan melalui kolaborasi mahasiswa dan masyarakat.

Tak Hanya Air, Garap Pertanian
Potensi lokal juga menjadi pijakan mahasiswa dalam mengembangkan program di sektor pertanian. KKN Kelompok 162 membuat pestisida nabati dengan memanfaatkan daun pepaya.
Mahasiswa juga memproduksi pupuk organik cair (POC) dari sejumlah bahan yang mudah ditemukan di rumah tangga, seperti limbah dapur, air cucian beras, daun, dan EM4.
Program tersebut diarahkan untuk mendorong pemanfaatan bahan yang tersedia di lingkungan warga menjadi produk yang dapat mendukung aktivitas pertanian.
Selain bidang lingkungan dan pertanian, mahasiswa KKN Kelompok 162 menjalankan program edukasi bagi anak-anak.
Sosialisasi anti-perundungan atau anti-bullying dan anti-dehidrasi digelar di tiga sekolah, yakni SD 08 Tumpakrejo, SD 02 Tumpakrejo, dan SD 09 Tumpakrejo.
Mahasiswa juga membuka Posko Cerdas sebagai ruang bimbingan belajar bagi anak-anak sekitar. Kegiatan berlangsung setiap pukul 18.00 dengan materi Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, IPA, dan IPS. Setiap Jumat, kegiatan dilengkapi dengan pembelajaran mengaji.
Kepala Dusun Bulurejo, Karyadi, mengapresiasi berbagai program yang dijalankan mahasiswa. Menurutnya, pembangunan filter air menjadi salah satu program yang langsung menjawab kebutuhan warga.
Ia berharap fasilitas tersebut dapat terus dimanfaatkan sekaligus dirawat masyarakat setelah mahasiswa menyelesaikan program KKN.
Program KKN Kelompok 162 menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan desa tidak selalu membutuhkan teknologi yang rumit. Dengan membaca kebutuhan warga dan mengoptimalkan potensi yang tersedia, sumber daya lokal dapat diolah menjadi solusi yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments