Namanya sangat khas Indonesia. Agus Santoso. Kesehariannya punya tanggung jawab besar. Jamaah Masjid Bahagia ini punya tugas penting. Sebagai penjaga kelestarian sumur Jobong. Sebuah sumur yang dibangun pada zaman Majapahit.
Ba’da Maghrib itu, malam belum begitu pekat (10/06/2026). PWMU.CO bersekesampatan untuk langsung menilik sumur yang begitu beken di Surabaya. Sumur Jobong, yang terletak di tengah-tengah pemukiman. Pandean Gang I Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng, Surabaya.
“Sumur ini ditemukan saat ada perbaikan selokan oleh Pemerintah Kota Surabaya. Sebab, dulu kawasan ini termasuk langganan banjir,” jelas Agus Santoso tentang awal penemuan sumur Jobong. Saat pekerja sedang menggali tanah, sekop seorang pekerja bernama Gandhi tiba-tiba seperti menghantam benda keras.
“Saya pun langsung berteriak meminta ke pekerja untuk berhenti. Pak, stop. Stop dulu. Kok ini ada batu bata yang berjajar-jajar. Mungkin di bawahnya ada benda yang penting,” lanjut Agus Santoso yang saat itu ditunjuk sebagai pengawas proyek.
Katanya, peristiwa itu terjadi pada Rabu Wage, 31 Oktober 2018, pukul 18.20 WIB. Tepat setelah salat Maghrib.
“Kok bisa tahu persis jam penemuannya?” tanya PWMU.CO. Tanpa banyak bicara, dia pun langsung mempraktikkan apa yang dilakukan 8 tahun silam. Mundur lima langkah ke arah barat, dan menengok rumahnya yang terbuka.

“Saya tahu jamnya ya karena setelah penemuan itu, saya langsung mundur. Dan, melihat jam dinding yang ada dalam rumah,” jelas pria yang sejak 2024 itu diangkat sebagai Juru Pelihara Sumur Jobong. Juru pelihara, jika dianalogkan ke zaman dulu, tugasnya sama seperti juru kunci.
Proyek pun dihentikan. Patahan bata bata besar diangkat. Bata itu setebal kurang lebih 8 cm dengan panjang 35 cm dan lebar 20-25 cm. Susunan bata ini sangat rapi, tidak berantakan seperti patahan bata pada umumnya.
Setelah semua batu bata diangkat, tampak sebagian bibir sumur yang terlihat seperti huruf C. Penggalian dilanjutkan, hingga bentuk cincin utuh sumur itu terlihat.
Penemuan itu kemudian dilaporkan ke berbagai institusi untuk ditindaklanjuti dengan penelitian ilmiah. Para sejarawan hingga arkeolog turun ke gang yang juga lokasi SD Muhammadiyah Surabaya 1924-1928 itu. Hingga akhirnya, penelitian ilmiah menunjukkan jika sumur itu adalah peninggalan zaman Kerajaan Majapahit.
Penduduk Asli Surabaya yang Masih Bertahan
Bersamaan dengan penemuan Sumur Jobong, juga ditemukan sejumlah tulang-belulang yang tercecer di sekitar bibir sumur. Awalnya, temuan itu warnanya cokelat kehitaman. Barulah setelah dicuci, terlihat wujud tulang-tulangnya.

Di kemudian hari, tulang-tulang itu diteliti Tim Cagar Budaya dari Universitas Airlangga dengan dikirim ke Australian National University. Hasil uji karbon menunjukkan salah satu fragmen tulang manusia itu menunjuk pada rentang tahun 1430-1608 Masehi. Tulang di Sumur Jobong juga diidentifikasi milik 5 individu. 4 orang dewasa dan 1 bayi.
“Penelitian kemudian dilanjutkan dengan uji DNA tulang-tulang itu dengan warga setempat. Ada dua warga yang diambil air liurnya, yang salah satunya adalah bapak saya,” lanjut pria yang sejak kecil mengaku jamaah masjid Bahagia tersebut.
Hasil uji DNA ternyata cukup mengejutkan. Uji DNA pada tulang di Sumur Jobong membuktikan bahwa kerangka tersebut adalah leluhur dari warga setempat. Dari berbagai aspek yang disandingkan, ternyata hasilnya identik. Kecocokannya mencapai angka 96 – 97 persen dengan warga stempat.
Hasil tes itu menunjukkan bahwa Pandean memang kampung lama yang sudah dihuni sejak Majapahit. Lebih daripada itu, hasil ini juga menunjukkan keunikan sendiri untuk sebuah kawasan di perkotaan. Sebab, selama kurang lebih 6 abad, para keturunan leluhur belum terpencar jauh.





0 Tanggapan
Empty Comments