Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kecewa Berdampak Marah dan Cara Penyembuhannya

Iklan Landscape Smamda
Kecewa Berdampak Marah dan Cara Penyembuhannya
Kecewa Berdampak Marah dan Cara Penyembuhannya
pwmu.co -

Dalam sejarah dan kehidupan manusia banyak pelajaran yang diperoleh tentang orang-orang yang mengalami kecewa dan kekecewaan dalam hidupnya. Ada yang berhasil mengendalikan diri. Mereka tidak marah dan benci. Namun, tidak jarang yang bersikap sebaliknya. Kecewa dan kekecewaan disebabkan berbagai faktor. Beberapa faktor yang dapat menimbulkan kekecewaan adalah sebagai berikut:

Pertama, ajakannya ditolak

Hal ini pernah terjadi, sebagaimana dialami oleh Zulaikha dan Nabi Yusuf As. Saat itu Zulaikha merayu Yusuf untuk mendekatinya pada saat mereka berdua berada dalam suatu ruangan. Sedang semua pintu dalam ruangan itu sudah ditutup dan dikunci. (QS. Yusuf: 23).

Nabi Yusuf As sempat terpengaruh. Namun, karena dirinya dilindungi oleh Allah Azza wa Jalla, akhirnya ia berusaha menghindar dan menolak ajakannya. (QS. Yusuf: 24).

Zulaikha kecewa dan marah kepada Nabi Yusuf As. Saat dia berada di hadapan suaminya, dia pun meminta agar Nabi Yusuf dipenjara. Peristiwa ini disebutkan dalam firman Allah Azza wa Jalla:

“Dan keduanya berlomba menuju pintu dan perempuan itu menarik baju gamisnya (Yusuf) dari belakang hingga koyak dan keduanya mendapati suami perempuan itu di depan pintu. Dia (perempuan itu) berkata, ‘Apakah balasan terhadap orang yang bermaksud buruk terhadap istrimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan siksa yang pedih?’” (QS. Yusuf: 25).

Nabi Yusuf As akhirnya memilih, lebih baik dipenjara daripada tinggal di rumah majikannya. Justru saat dipenjara Yusuf As mulai menjalankan misi kenabiannya. (QS. Yusuf: 33–35).

Saat itu Yusuf As berdakwah dalam menanamkan tauhid kepada dua orang pemuda yang bersamanya di penjara. Dakwah dilakukan saat beliau diminta mentakwilkan mimpi kedua pemuda itu. (QS. Yusuf: 36–41).

Kedua, cintanya ditolak

Tentu tidak hanya wanita saja yang kecewa pada laki-laki karena rayuannya ditolak. Laki-laki pun tidak jarang yang kecewa pada perempuan, terutama mereka yang menolak cintanya.

Tidak jarang kekecewaan itu berdampak pada kemarahan dan kebencian seumur hidup. Marah dan benci ini bisa pula berujung kepada tindakan kejahatan dan kekerasan.

Di antaranya mereka meminta bantuan setan guna menyalurkan kemarahan dan kebenciannya. Lalu mereka menggunakan sihir atau pelet melalui setan untuk membalas kekecewaannya. Padahal, sihir itu perbuatan syirik. (QS. Al-Baqarah: 102).

Rasulullah Saw juga melarang dengan tegas:

“Sesungguhnya mantera-mantera, jimat-jimat dan pelet adalah syirik.” (HR. Abu Daud No. 3883, Ibnu Majah No. 3530 dan Ahmad 1:381. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih).

Rasulullah Saw sendiri pernah mengalami, cintanya ditolak sebanyak dua kali oleh Ummu Hani (Fakhitah binti Abu Thalib), sepupunya.

Pertama, ditolak oleh Abu Thalib, pamannya sendiri. Karena putrinya mau dinikahkan dengan Hubairah, putra saudara ibunya, saudagar kaya dan baik hati. Kedua, cintanya ditolak langsung oleh Ummu Hani, setelah suaminya wafat dan dia masuk Islam. Sebab dia ingin mengurus anak-anaknya.

Namun, Rasulullah Saw tidak merasa kecewa, apalagi sampai marah dan membencinya. Beliau malah memuji Ummu Hani dalam sabdanya:

“Sebaik-baik wanita kaum Quraisy adalah yang paling lembut dan simpati pada anak-anak di masa kecilnya, dan paling bisa menjaga harta suaminya.” (HR. Bukhari No. 4692).

Ketiga, kurbannya ditolak

Hal ini dialami oleh putera Nabi Adam As. Qabil berharap kurbannya diterima oleh Allah Swt. Namun, kenyataannya kurbannya ditolak. Ia merasa kecewa pada Allah Azza wa Jalla.

Namun, Qabil menyalurkan kemarahan dan kebenciannya justru pada Habil, adik kandungnya sendiri. Sebab, kurban adiknya yang telah diterima oleh Allah Azza wa Jalla. (QS. Al-Maidah: 27).

Kemarahan dan kebenciannya yang dilandasi hawa nafsu setan telah membuat dirinya melakukan tindakan kekerasan. Qabil pun membunuh Habil, yang menyebabkan dia menjadi ahli neraka. (QS. Al-Maidah: 27–31).

Dalam suatu hadis, Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:

“Tidak ada jiwa yang dibunuh secara zalim melainkan (dari) sebagian tanggung jawab atas darahnya terletak pada anak pertama Adam (Qabil), karena dialah pertama kali menetapkan preseden pembunuhan.” (HR. Bukhari No. 3335 dan Muslim No. 1677).

Keempat, kalah berdebat

Kecewa dan kekecewaan juga terjadi pada orang-orang yang kalah berdebat. Terutama orang-orang yang merasa kuasa, kuat dan tinggi kedudukannya.

Hal ini dialami oleh Raja Namrud ketika berdebat dengan Nabi Ibrahim As. Perdebatan itu disebutkan dalam firman Allah Azza wa Jalla:

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: ‘Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,’ orang itu berkata: ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrahim (lalu) berkata: ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,’ lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 258).

Sebab itu Namrud kecewa berat karena kalah berdebat. Ia marah dan memerintahkan Ibrahim As ditangkap dan dibakar hidup-hidup. Namun, Allah Swt memberikan perlindungan. Api yang panas itu tidaklah dapat membakar hangus dirinya. (QS. Al-Anbiya: 68–69).

Kelima, berbuat kemusyrikan

Kekecewaan yang timbul karena kaumnya diajak kepada kemusyrikan dialami oleh Nabi Musa As kepada Samiri, salah satu pengikutnya.

Waktu itu beliau sedang pergi meninggalkan kaumnya karena ingin menjumpai Allah Azza wa Jalla. Beliau telah memberikan tugas kepada Nabi Harun, saudaranya seibu. (QS. Al-A’raf: 143).

Ketika Nabi Musa As kembali, didapati kaumnya dalam keadaan menyembah sapi. Beliau pun marah besar karena kecewa bercampur sedih.

Hingga Nabi Musa As pun segera melempar lauh-lauh (lembaran) yang berisi Taurat itu dari tangannya. Lalu beliau mendatangi Harun As, saudaranya. Beliau pun memegang kepala dan janggutnya sambil menariknya dan berkata:

SMPM 5 Pucang SBY

“Wahai Harun! Apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, sehingga kamu tidak mengikuti Aku? Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku?” (QS. Thaha: 92–93).

Nabi Harun As pun lalu berkata:

“Wahai putera ibuku! Janganlah kamu memegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku. Sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), ‘Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku.’” (QS. Thaha: 94).

Saat itu juga Nabi Harun As memberitahukan Nabi Musa As bahwa kaumnya hampir saja membunuhnya. (QS. Al-A’raf: 150).

Lalu Nabi Musa As marah kepada Samiri, orang yang membuat patung sapi itu. Beliau bertanya tentang alasannya. Samiri memberi alasannya.

Musa As makin marah. Beliau pun membakar patung itu hingga habis dan sesudah itu membuang ampasnya ke laut. Samiri pun lalu diusir dan tidak diakui lagi sebagai pengikut dan kaumnya (Bani Israil). (QS. Thaha: 97).

Setelah kekecewaan dan kemarahan pada kaumnya yang telah berbuat syirik mereda, Nabi Musa As bersikap dan berkata baik-baik kepada mereka. (QS. Al-Baqarah: 54).

Cara Penyembuhan Kecewa

Dalam Islam, penyakit kecewa itu ada obatnya. Islam tidak mengajarkan umatnya kecewa seumur hidup atau kecewa sampai mati. Kecewa harus segera diobati, disembuhkan dan dipulihkan dalam diri manusia.

Penyembuhan kecewa dalam Islam bermacam-macam bentuknya. Di antaranya sebagai berikut:

Pertama, berjiwa besar dan berlapang dada

Sikap berjiwa besar dan berlapang dada ini telah diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah Saw yang sudah dua kali ditolak cintanya oleh Ummu Hani binti Abu Thalib, sepupunya. Beliau malah memujinya yang disebutkan dalam hadis di bawah ini:

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Saw bersabda: ‘Sebaik-baik wanita adalah yang dapat mengendarai unta. Sebaik-baik wanita Quraisy adalah yang paling lembut dan simpati pada anak-anak di masa kecilnya, dan paling bisa menjaga harta suaminya.’”

Wal akhir, jodoh adalah urusan Allah. (HR. Bukhari No. 4692).

Kedua, sabar dan bersabar

Agar kecewa dan kekecewaan yang muncul di dalam jiwa dan hati manusia tidak bersemi lama, hadapi hal yang menjadi sebab dan latar belakang timbulnya penyakit itu dengan sikap sabar dan kesabaran.

Pandanglah hal-hal yang menimbulkan rasa kecewa dan kekecewaan itu sebagai musibah yang menimpa dirinya. Karena itu hadapi musibah itu dengan sabar dan penuh kesabaran. Seperti disebutkan dalam firman Allah Azza wa Jalla:

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155).

Ketiga, maaf dan memaafkan

Sikap maaf dan memaafkan pada orang yang menimbulkan rasa kecewa dan kekecewaan juga diperlukan. Kecuali bagi orang yang melakukan perbuatan atau mengajak berbuat syirik.

Memberi maaf dan memaafkan merupakan sikap mulia dan balasan yang terpuji. Artinya, tidak memberikan balasan yang setimpal walau dibenarkan.

Maaf itu pun menjadi obat mujarab dalam menyembuhkan dan menghilangkan rasa kecewa ataupun kekecewaan terhadap perlakuan buruk orang lain. Sesuai firman Allah Azza wa Jalla:

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim.” (QS. Asy-Syura: 40).

Keempat, bertakwa

Sikap takwa dan bertakwa juga menjadi cara mujarab dalam menyembuhkan kecewa dan kekecewaan pada sesama. Sebab, bagi orang bertakwa itu memiliki karakter pemurah, tidak pemarah dan pemaaf terhadap manusia. Sesuai firman Allah Azza wa Jalla:

“…orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 133–134).

Kelima, berbuat kebaikan

Kecewa dan kekecewaan tidak perlu ditunjukkan dengan kemarahan dan kebencian pada orang lain. Kemarahan dan kebencian hanya akan menambah parah penyakit hati dan jiwa manusia.

Cara mengobati dan menyembuhkannya antara lain dengan berbuat baik dan melakukan kebaikan pada orang yang telah membuat dirinya kecewa dan menimbulkan kekecewaan.

Dengan berbuat baik dan melakukan kebaikan ini tidak akan menimbulkan rasa dendam, marah dan benci kepada mereka. Sebab Allah Azza wa Jalla telah memerintahkan:

“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fushilat: 34).

Manusia sebagai makhluk yang lemah dan biasa berubah-ubah hati dan imannya pasti akan mengalami rasa kecewa dan kekecewaan dalam hidupnya.

Namun, agar rasa kecewa dan kekecewaan itu tidak menimbulkan kemarahan dan kebencian pada sesama, maka perlu segera diatasi dan diobati dengan cara mujarab sesuai tuntunan Allah Azza wa Jalla dan Sunnah Rasulullah Saw di atas. (*)

Revisi Oleh:
  • Tanwirul Huda - 25/08/2026 19:04
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu