Ketika pertama kali datang ke Desa Tamanprijek sebagai mahasiswa KKN-02 STAIM Karangasem Paciran, yang ada dalam pikiran kami adalah bagaimana seluruh program kerja dapat terlaksana dengan baik.
Ada banyak rencana yang telah disusun, jadwal yang harus dipersiapkan, serta berbagai target yang ingin dicapai selama satu bulan pengabdian.
Namun, semakin hari kami tinggal di Tamanprijek, semakin kami menyadari bahwa KKN tidak sesederhana menjalankan program kerja lalu kembali ke kampus.
Ada sesuatu yang jauh lebih besar yang kami temukan di dalamnya. KKN perlahan menjadi ruang untuk belajar tentang kehidupan, tentang masyarakat, tentang kebersamaan, bahkan tentang diri kami sendiri.
Tamanprijek, Ruang Belajar yang Tidak Ada di Ruang Kelas
Selama berada di Tamanprijek, kami bertemu dengan banyak karakter dan cerita. Kami belajar berkomunikasi dengan perangkat desa, Ketua RT, pemuda Karang Taruna, guru, pengelola TPQ, hingga masyarakat dari berbagai latar belakang.
Setiap pertemuan memberikan pelajaran yang berbeda. Kami belajar bahwa masyarakat memiliki kebiasaan, kebutuhan, dan cara pandang yang tidak selalu sama dengan apa yang kami bayangkan. Karena itu, pengabdian tidak cukup hanya dengan membawa konsep dari kampus.
Kami harus mau mendengar, memahami, kemudian menyesuaikan apa yang kami miliki dengan kondisi yang ada di lapangan.
Dari sanalah kami memahami bahwa desa bukan sekadar tempat pelaksanaan KKN. Desa adalah ruang belajar yang sesungguhnya.
KKN Tidak Selalu Tentang Kegiatan Besar
Kehidupan KKN juga tidak selalu dipenuhi kegiatan besar dan dokumentasi yang terlihat menarik.
Ada pagi yang dimulai dengan mengajar di TPQ. Ada siang yang dihabiskan di sekolah. Ada sore yang kembali digunakan untuk mendampingi anak-anak.
Ada pertemuan dengan masyarakat dan pemuda. Ada pula malam yang seharusnya menjadi waktu istirahat, tetapi justru dipenuhi diskusi untuk mempersiapkan kegiatan keesokan harinya.
Terkadang kami lelah, terkadang ada perbedaan pendapat. Kadang kegiatan yang sudah direncanakan harus berubah karena kondisi di lapangan.
Dan kadang kami harus belajar menerima bahwa tidak semua hal dapat berjalan sesuai dengan apa yang telah kami susun.
Namun, justru keadaan-keadaan seperti itulah yang membuat kami belajar tentang arti tanggung jawab.
Ketika Program Kerja Bertemu dengan Kehidupan Masyarakat
Semakin lama berada di Tamanprijek, kami semakin memahami bahwa program kerja bukanlah satu-satunya ukuran sebuah pengabdian.
Ada banyak hal yang tidak pernah tertulis dalam proposal, tetapi justru menjadi bagian paling berkesan selama KKN.
Duduk bersama warga.
Berbincang dengan pemuda.
Mendengarkan cerita masyarakat.
Membantu kegiatan desa.
Menemani anak-anak belajar.
Bercanda bersama mereka.
Hal-hal sederhana tersebut perlahan membangun kedekatan. Kami yang pada awalnya datang sebagai orang asing, sedikit demi sedikit mulai dikenal dan diterima sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.
Anak-Anak yang Mengajarkan Arti Kehadiran
Salah satu hal yang paling terasa selama berada di Tamanprijek adalah interaksi bersama anak-anak.
Mengajar di sekolah, mendampingi kegiatan kreativitas, memberikan edukasi, mengajarkan public speaking, hingga menemani mereka mengaji menjadi pengalaman yang memiliki kesan tersendiri.
Ada kebahagiaan sederhana ketika anak-anak mulai mengenal nama kami.
Ada rasa haru ketika mereka menunggu kedatangan kami.
Ada senyum yang terkadang menjadi alasan mengapa rasa lelah setelah menjalankan kegiatan terasa tidak terlalu berarti.
Dari mereka kami belajar bahwa terkadang seseorang tidak membutuhkan sesuatu yang besar. Cukup hadir, mendengarkan, dan memberikan perhatian, sudah bisa menjadi sesuatu yang berarti.
Masyarakat Tidak Hanya Menerima, tetapi Juga Mengajarkan
Selama ini mungkin mahasiswa sering merasa bahwa KKN adalah kesempatan untuk memberikan ilmu kepada masyarakat.
Tetapi setelah menjalaninya, saya justru merasakan hal yang berbeda.





0 Tanggapan
Empty Comments