Dalam khazanah pendidikan Islam dan budaya timur, terdapat sebuah pepatah bijak yang sangat masyhur: “Al-Adabu Fauqol ‘Ilmi“ yang artinya “Adab itu lebih tinggi daripada Ilmu.”
Frasa ini bukan sekadar ungkapan puitis, melainkan sebuah prinsip fundamental. Sebagai hal yang wajib untuk mendahulukan etika, moral, dan perilaku mulia sebagai fondasi utama sebelum menuntut ilmu.
Ilmu pengetahuan yang tinggi tanpa imbangan adab yang baik ibarat “api tanpa kayu bakar”—ia tidak akan menyala, tidak bermanfaat, bahkan bisa menjadi bumerang berbahaya.
Ilmu adalah Alat, Adab adalah Pengendali
Ilmu pada hakikatnya adalah sebuah kekuatan (power). Manusia bisa menggunakan untuk membangun maupun menghancurkan. Di sinilah peran vital adab sebagai pengendali (governor) penggunaan ilmu tersebut.
Jika seseorang berilmu tinggi tetapi beradab rendah, ilmunya bisa menjadi alat untuk menipu atau merendahkan orang lain. Sebaliknya, ilmu yang dibalut adab akan menjadi cahaya yang membawa berkah, manfaat, dan kedamaian.
Ilmu tanpa adab tidak memiliki roh, ia kering dan tidak bermakna.
“Ilmu tanpa adab bagaikan pohon yang tidak berbuah, atau bahkan pohon yang buahnya beracun.”
Oleh karena itu, menuntut ilmu tanpa memperbaiki akhlak sama saja dengan membangun istana di atas pasir yang rapuh.
Fenomena di Lingkungan Sekolah dan Realita di Dunia Pesantren
Di dunia pendidikan formal, prinsip “Adab di atas Ilmu” sering kali menjadi tolok ukur keberhasilan. Namun, realitas di lapangan terkadang memperlihatkan hal yang kontras.
Kita sering menjumpai siswa berprestasi akademis tinggi yang sombong, meremehkan teman, hingga tidak menghormati guru. Di sisi lain, ada siswa dengan nilai pas-pasan namun memiliki adab luar biasa: sopan, suka menolong, jujur, dan bertanggung jawab.
Dalam pandangan Al-Adabu Fauqol ‘Ilmi, siswa kedua inilah yang sesungguhnya lebih berpotensi sukses di masa depan.
Sekolah yang hanya mengejar nilai akademis tanpa menanamkan karakter ibarat pabrik mesin canggih tanpa operator. Lulusannya mungkin cerdas secara otak, namun “buta” hati dan perasaannya. Mereka rentan menjadi pemimpin yang otoriter atau pekerja yang korup akibat tidak adanya pagar moral.
Berbeda dengan sekolah formal, lembaga pesantren menempatkan adab sebagai prioritas utama sejak awal berdiri. Sebelum santri mempelajari kitab kuning yang rumit, mereka mendapatkan latihan terkait adab kepada guru, teman, saat duduk, makan, hingga berbicara.
Namun, tantangan zaman juga menguji prinsip ini. Terkadang muncul fenomena santri atau alumni yang hafal banyak kitab dan khatam Al-Qur’an, namun bersikap angkuh dan merasa paling benar.
Mereka meremehkan orang lain karena merasa ilmunya sudah banyak.
Padahal, para ulama mengajarkan bahwa semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin rendah hatinya. Jika ilmu tidak membuat seseorang menjadi lebih baik akhlaknya, maka ilmu tersebut belum meresap dengan benar.
Pesantren yang berhasil adalah yang mampu mencetak lulusan yang pandai menjaga lisan dan tingkah laku.
Dinamika di Masyarakat
Di lingkungan masyarakat, dampak prinsip ini sangat terasa. Kita sering melihat orang berpendidikan tinggi, seperti sarjana bahkan profesor, namun perilakunya tidak mencerminkan kesopanan.
Sebaliknya, banyak orang dengan latar belakang pendidikan rendah yang adab dan etikanya sangat terjaga. Mereka jujur dalam berdagang dan suka tolong-menolong. Dalam interaksi sosial, orang-orang beradab inilah yang justru lebih dihormati dan disegani.
Fenomena ini membuktikan bahwa gelar dan ijazah tidak menjamin kebaikan perilaku. Ilmu yang tinggi tanpa adab akan membuat seseorang ditakuti karena kekuasaannya, bukan dicintai karena akhlaknya.
Tujuan utama pendidikan bukanlah sekadar mencetak orang pintar, tetapi mencetak manusia yang bermanusiawi. Prinsip adab lebih tinggi dari ilmu mengajarkan kita tiga hal:
- Arah Nyata: Ilmu memberi kita kemampuan, tetapi adab memberi kita arah.
- Daya Tahan: Kecerdasan membuat kita bisa bersaing, tetapi akhlak membuat kita bisa bertahan dan diterima.
- Proses Bentukan: Memperoleh ilmu bisa dari buku, tetapi membentuk adab harus melalui latihan, kesadaran, dan keteladanan sejak dini.
Mari kita kembalikan urutan yang benar. Jangan sampai kita mengejar setinggi-tingginya gelar, namun melupakan sopan santun dan kemanusiaan. Manusia akan diingat bukan karena seberapa banyak ilmu yang ia miliki, tetapi seberapa besar kebaikan yang ia tinggalkan.
“Barangsiapa tidak memiliki adab, maka sedikitlah ilmunya. Dan barangsiapa sedikit ilmunya, maka batallah amalnya.” ***





0 Tanggapan
Empty Comments