Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Anak Mudah Terdistraksi Gadget, MI Megah Bekali Orang Tua Strategi Mengatur Gawai Tanpa Konflik

Iklan Landscape Smamda
Anak Mudah Terdistraksi Gadget, MI Megah Bekali Orang Tua Strategi Mengatur Gawai Tanpa Konflik
Anak Mudah Terdistraksi Gadget, MI Megah Bekali Orang Tua Strategi Mengatur Gawai Tanpa Konflik
pwmu.co -

Mengapa anak begitu mudah terdistraksi gadget? Mengapa ketika diminta berhenti bermain gawai, anak justru mudah marah atau bahkan tantrum?

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu bahasan dalam Parenting Charity Roadshow yang digelar MI MEGAH (Muhammadiyah Gedeg Al Hafidz) Mojokerto, Jawa Timur, Sabtu (12/9/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB ini mengangkat tema “Mendidik Anak Bijak di Era Digital: Strategi Mengatur Gadget Tanpa Konflik”. Acara menghadirkan Muh. M. Indrayana, S.H., Manager Griya Zakat Indonesia sekaligus Founder Dravee, sebagai narasumber.

Di hadapan para peserta parenting, Muh. M. Indrayana mengajak orang tua melihat persoalan gadget tidak hanya dari sisi durasi penggunaannya, tetapi juga dampaknya terhadap fokus, emosi, kebiasaan, dan karakter anak.

Salah satu materi yang ditampilkan dalam presentasi bertajuk “Mengapa Anak Begitu Mudah Terdistraksi Gadget?” menjelaskan bahwa algoritma gawai dapat menjadi pencuri fokus dan emosi.

Paparan terhadap konten yang cepat berganti dan memberikan rangsangan instan dapat memengaruhi rentang perhatian (attention span) anak. Anak terbiasa mendapatkan stimulus secara cepat sehingga aktivitas yang membutuhkan kesabaran dan konsentrasi lebih panjang dapat terasa membosankan.

Materi tersebut juga mengaitkan penggunaan gawai dengan lonjakan dopamin instan yang dapat membuat anak lebih mudah mencari rangsangan berikutnya.

Dampaknya bukan hanya pada fokus.

Ketika kebiasaan menggunakan gadget sudah sangat kuat, pembatasan atau penghentian secara tiba-tiba bisa memunculkan respons emosional seperti marah, rewel, atau tantrum.

Karena itu, persoalan gadget tidak cukup diselesaikan dengan kalimat, “Sudah, matikan HP!”

Orang tua membutuhkan strategi.

Poin lain yang menjadi sorotan adalah krisis keteladanan.

Anak, dalam banyak hal, belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari. Jika anak sering melihat orang tua memegang HP dalam berbagai situasi, pesan untuk membatasi penggunaan gadget menjadi kurang kuat ketika tidak disertai contoh nyata.

Materi yang disampaikan narasumber menekankan bahwa anak dapat meniru kebiasaan orang tua memegang HP, bukan sekadar mendengarkan nasihat tentang penggunaan gadget.

Dengan demikian, pertanyaan pentingnya bukan hanya:

“Berapa lama anak menggunakan HP?”

Tetapi juga:

“Berapa lama orang tua meletakkan HP dan benar-benar hadir bersama anak?”

Inilah tantangan pengasuhan di era digital.

Muh. M. Indrayana mengajak orang tua untuk tidak melihat gadget semata-mata sebagai musuh.

Gadget memiliki manfaat jika digunakan secara tepat. Anak dapat memanfaatkannya untuk belajar, mencari informasi, mengembangkan kreativitas, dan berkomunikasi.

Namun, penggunaan tanpa kendali dapat membuat teknologi justru mengambil alih waktu, perhatian, bahkan interaksi anak dengan lingkungan sekitarnya.

Karena itu, yang diperlukan bukan sekadar pelarangan, tetapi pendampingan dan pembentukan kebiasaan.

Orang tua perlu membuat batasan yang jelas, konsisten, dan disepakati bersama anak.

SMPM 5 Pucang SBY

Aturan tersebut dapat mencakup kapan gadget boleh digunakan, kapan harus disimpan, serta aktivitas apa yang harus menjadi prioritas.

Parenting ini juga mengingatkan bahwa anak membutuhkan lebih dari sekadar pengawasan. Mereka membutuhkan kehadiran orang tua.

Ketika anak mulai bosan tanpa gadget, orang tua perlu menghadirkan alternatif kegiatan: bermain bersama, membaca, berolahraga, berkegiatan di luar rumah, atau sekadar berbincang tanpa gangguan layar.

Sebab, apabila gadget diambil tetapi tidak ada aktivitas pengganti, anak akan kembali mencari gawai.

Di sinilah kreativitas orang tua diuji.

Mengatur gadget bukan hanya tentang mengurangi waktu layar, tetapi juga tentang memperbanyak waktu berkualitas bersama keluarga.

Kegiatan Parenting Charity Roadshow MI MEGAH menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara madrasah dan orang tua.

Pendidikan anak tidak berhenti di ruang kelas. Setelah pulang dari madrasah, anak kembali ke lingkungan keluarga. Di sanalah berbagai kebiasaan dibentuk dan karakter terus tumbuh.

Karena itu, apa yang dilakukan madrasah perlu mendapatkan penguatan di rumah. Sebaliknya, keluarga juga membutuhkan dukungan dan wawasan agar mampu menghadapi tantangan pendidikan yang terus berubah.

Melalui kegiatan ini, MI MEGAH menunjukkan komitmennya untuk tidak hanya mendidik siswa agar unggul dalam pembelajaran, tetapi juga membangun ekosistem pendidikan yang melibatkan orang tua.

Pada akhirnya, anak-anak masa kini tidak mungkin sepenuhnya dipisahkan dari dunia digital.

Mereka akan hidup bersama teknologi.

Maka, tugas orang tua bukan menciptakan anak yang anti-gadget, melainkan anak yang mampu mengendalikan penggunaan gadget.

Bukan gadget yang menentukan kapan anak belajar.

Bukan gadget yang menentukan kapan anak tidur.

Bukan gadget yang menentukan kapan anak berinteraksi dengan keluarga.

Dan bukan gadget yang menentukan bagaimana anak mengelola emosinya.

Teknologi harus tetap menjadi alat. Manusialah yang memegang kendali.

Parenting Charity Roadshow MI MEGAH pun menjadi pengingat bahwa mendidik anak di era digital membutuhkan lebih dari sekadar aturan.

Dibutuhkan komunikasi, konsistensi, pendampingan, dan terutama keteladanan.

Sebab, sebelum meminta anak meletakkan gadget, mungkin orang tua perlu bertanya kepada dirinya sendiri:

“Sudahkah saya memberikan contoh dengan meletakkan gadget terlebih dahulu?”

Revisi Oleh:
  • Satria - 12/09/2026 19:41
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu