Tanpa bimbingan belajar khusus dan persiapan intensif, Naufal Raafi Sanjaya berhasil membuktikan kemampuannya di bidang sejarah. Siswa International Class X-5A SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita) ini meraih medali perunggu (bronze medal) dalam Olimpiade Sains Pelajar Indonesia (OPINI) 2026 bidang Sejarah tingkat Provinsi Jawa Timur.
Prestasi tersebut diraih Naufal setelah bersaing dengan sekitar 500 peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur. Kompetisi yang diselenggarakan Gemanesia itu berlangsung pada Rabu (4/11/2026).
Pencapaian ini terasa istimewa karena Naufal tidak menjalani persiapan khusus melalui bimbingan belajar ataupun program pembinaan intensif. Ia lebih banyak mengandalkan belajar mandiri serta pengetahuan yang diperoleh selama mengikuti pembelajaran di sekolah.
Menariknya, Naufal mengaku tidak memasang ekspektasi tinggi saat mengikuti kompetisi tersebut. Baginya, Opini 2026 merupakan kesempatan untuk mencoba tantangan baru sekaligus mengukur sejauh mana pemahamannya terhadap materi sejarah.
“Saya merasa sangat senang ketika mengetahui berhasil meraih medali perunggu. Hasil ini sebenarnya di luar ekspektasi saya karena sebelumnya saya tidak memiliki persiapan khusus,” ungkapnya.
Hadapi 70 Soal dalam 60 Menit
Dalam kompetisi tersebut, Naufal harus mengerjakan 70 soal hanya dalam waktu 60 menit. Soal terdiri atas pilihan ganda dan uraian. Seluruh proses pengerjaan dilakukan secara daring melalui aplikasi Puskanas.
Durasi yang terbatas menuntutnya mampu mengatur waktu sekaligus menjaga konsentrasi. Ia harus membaca soal dengan cermat, memahami konteks peristiwa sejarah, dan menentukan jawaban secara tepat dalam waktu singkat.
“Dalam kompetisi ini, saya harus mengerjakan 70 soal selama 60 menit. Salah satu kendala yang saya alami adalah adanya beberapa soal yang pilihan jawabannya tidak tersedia,” jelasnya.
Kondisi tersebut membutuhkan ketenangan dan kemampuan berpikir cepat. Meski demikian, Naufal tetap berusaha menyelesaikan soal demi soal dengan mengandalkan pengetahuan dan kemampuan yang dimilikinya.
Ia tidak menjadikan kendala maupun tingkat kesulitan soal sebagai alasan untuk menyerah. Sebaliknya, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses belajar yang memberinya gambaran tentang tantangan dalam kompetisi akademik.
Belajar Mandiri Menjadi Modal Utama
Hal lain yang membuat prestasi Naufal menarik adalah proses persiapannya. Ia mengaku tidak mengikuti bimbingan khusus untuk menghadapi Opini 2026. Keikutsertaannya dalam kompetisi tersebut lebih banyak mengandalkan pembelajaran mandiri.
Bagi Naufal, belajar tidak selalu harus dilakukan melalui program pembinaan khusus. Kemauan memahami materi, memperluas wawasan, dan mencoba berbagai tantangan akademik merupakan bagian penting dalam mengembangkan kemampuan diri.
Melalui kompetisi ini, ia juga mendapatkan pengalaman baru dalam menghadapi soal-soal sejarah dengan tingkat kesulitan dan pola pengerjaan yang berbeda dari pembelajaran sehari-hari di kelas.
“Mengikuti olimpiade bukan hanya sebatas memperoleh medali. Saya rasa lebih dari itu. Kompetisi menjadi ruang bagi saya untuk mengetahui kemampuan yang dimiliki, mengenali kekurangan, hingga mendapatkan pengalaman yang dapat dijadikan bekal untuk menghadapi tantangan berikutnya,” tuturnya.
Informasi hasil kompetisi dapat diakses melalui aplikasi Puskanas. Saat mengetahui namanya tercantum sebagai salah satu peraih medali perunggu, Naufal merasa bersyukur sekaligus semakin termotivasi untuk meningkatkan kemampuannya.
Jadikan Medali sebagai Motivasi untuk Terus Berkembang
Bagi Naufal, medali perunggu yang diraih bukanlah akhir perjalanan. Justru, pencapaian tersebut menjadi pengingat bahwa usaha dan keberanian untuk mencoba dapat membuka peluang meraih prestasi yang lebih tinggi.
Ia berharap pengalaman mengikuti OPINI 2026 menjadi bekal untuk menghadapi kompetisi akademik lainnya. Ia juga bertekad memperbaiki persiapan, memperdalam pemahaman materi, serta berusaha lebih maksimal pada kesempatan berikutnya.
“Harapan saya, ke depannya saya bisa berusaha lebih keras lagi agar mendapatkan hasil yang lebih baik dan maksimal,” tuturnya.
Prestasi Naufal menjadi bukti bahwa kesempatan untuk berprestasi terbuka bagi setiap siswa yang memiliki kemauan untuk terus belajar dan mengembangkan potensi diri. Persiapan yang sempurna bukan satu-satunya jalan menuju keberhasilan. Keberanian mengambil kesempatan dan kesungguhan dalam belajar juga menjadi modal penting.
Dari belajar mandiri hingga meraih medali perunggu Olimpiade Sejarah tingkat Jawa Timur, Naufal menunjukkan bahwa prestasi bukan sekadar tentang hasil akhir, melainkan juga keberanian mencoba, ketekunan menghadapi tantangan, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments