Kegiatan pembelajaran kreatif kembali terlihat di ruang kelas SD Muhammadiyah Kompleks Gresik (SD Mugres) Kampus A, khususnya di kelas 3. Para murid mengikuti kegiatan kokurikuler bertema “Membuat Lukisan dari Bubur Kertas Bekas”.
Berbeda dari pembelajaran biasa, tidak ada buku pelajaran yang terbuka di atas meja. Sebagai gantinya, terlihat tumpukan koran bekas, wadah plastik, serta ember berisi rendaman kertas.
Para murid tampak antusias mengikuti kegiatan prakarya membuat kolase dari bubur kertas. Proses dimulai dari tahap persiapan yang melibatkan kerja sama tim.
Murid dibagi menjadi dua kelompok, yaitu laki-laki dan perempuan, untuk memotong kertas bekas menjadi bagian kecil. Kertas kemudian direndam hingga seratnya hancur.
Tahap ini memberikan pengalaman sensorik langsung bagi murid, terutama saat memeras air dari bubur kertas. Mereka dapat memahami perubahan bentuk benda dari padat menjadi lunak.
Setelah bubur kertas siap, murid memerasnya hingga kering, lalu mencampurkannya dengan lem sebagai perekat.
Pada tahap ini, ketelitian sangat dibutuhkan. Murid harus memastikan komposisi bubur kertas dan lem seimbang agar dapat menempel sempurna pada media karton atau kertas tebal yang telah diberi sketsa.
Selanjutnya, murid menambahkan pewarna sesuai keinginan dan menempelkannya pada pola gambar burung kakatua. Mereka bebas berkreasi dalam memilih dan mencampur warna.
Proses menempel dilakukan secara perlahan mengikuti garis sketsa. Selain melatih motorik halus, kegiatan ini juga mengajarkan kesabaran dan ketekunan.
Salah satu aspek penting dari kegiatan ini adalah pengenalan tekstur. Murid dapat merasakan perubahan permukaan kertas yang semula rata menjadi timbul dan berdimensi.
Koordinator kelas 3 SD Mugres Kampus A, Bintari Eka Permani, S.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini.
“Kegiatan ini dapat mengasah kreativitas murid. Anak-anak biasanya membuang kertas yang sudah tidak terpakai, sehingga melalui kegiatan ini mereka memahami bahwa kertas bekas masih bisa dimanfaatkan untuk berbagai kerajinan,” tutur Bintari.
Sementara itu, wali kelas 3, Zahara Choirunnisa, S.Hum., juga menilai kegiatan ini sangat bermanfaat.
“Kegiatan kokurikuler ini sangat baik untuk anak-anak. Selain melatih kreativitas, kegiatan ini juga membantu mengembangkan kemampuan sensorik dan fokus,” ujarnya.
Setelah selesai ditempel sesuai sketsa, karya murid dijemur di bawah sinar matahari hingga mengeras.
Hasil akhirnya berupa karya seni kolase tiga dimensi yang unik, dengan tekstur khas dari serat kertas yang memberikan nilai artistik berbeda dibandingkan lukisan dua dimensi pada umumnya.






0 Tanggapan
Empty Comments