Pengajian Ahad ketiga yang digelar Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) dan Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Sidoarjo di Masjid An-Nur, Ahad (17/5/2026), menghadirkan Sekretaris Jenderal PP Pemuda Muhammadiyah, Najih Prasetyo, S.H.I., M.H. sebagai pemateri.
Dalam kajian yang mengangkat tema “Anak Muda Hebat: Pewaris Nilai, Penggerak Perubahan” ia mengajak warga Muhammadiyah untuk menyiapkan generasi yang kuat, tidak hanya dalam aspek ilmu agama, tetapi juga spiritualitas, akhlak, dan ekonomi.
Di hadapan jemaah, Najih menegaskan bahwa masa depan yang baik tidak dapat dibangun dengan meninggalkan generasi yang lemah. Ia mengutip pesan dalam Al-Qur’an, khususnya Surah An-Nisa ayat 9, yang mengingatkan pentingnya menyiapkan generasi yang tangguh.
“Allah melarang kita meninggalkan generasi yang lemah. Lemah bukan hanya dalam ekonomi, tetapi juga dalam ilmu, adab, dan spiritualitas,” ungkapnya.
Menurutnya, kekuatan generasi masa depan harus dibangun di atas tiga pilar utama, yaitu ilmu yang benar, ilmu yang bermanfaat, dan amal saleh.
Ketua Umum DPP IMM 2018-2020 itu menjelaskan bahwa ilmu yang benar (ilman shahihan) bukan sekadar pengetahuan, melainkan ilmu yang sesuai dengan tuntunan syariat. Ia mengingatkan pentingnya melakukan evaluasi terhadap kualitas ibadah yang dijalankan.
“Kita sering merasa sudah bekerja keras, rajin beribadah, shalat tahajud dan dhuha, tetapi masih bertanya mengapa belum mendapatkan hasil yang diharapkan. Bisa jadi ada hal yang perlu dikoreksi dalam cara ibadah kita,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya (ilman nafi’an) atau ilmu yang melahirkan akhlak dan adab dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, kebiasaan kecil yang dibiarkan sejak dini dapat membentuk karakter seseorang. Ia mencontohkan bagaimana etika berbicara, menghormati orang lain, serta menyampaikan pendapat dengan baik harus dibangun sejak dari dalam keluarga.
Dalam kesempatan itu, Najih juga menyoroti fenomena derasnya arus informasi di era digital. Ia mengingatkan warga Muhammadiyah agar lebih berhati-hati terhadap informasi yang belum jelas sumbernya, termasuk potensi hoaks yang berkembang melalui kecerdasan buatan (artificial intelligence).
“Kita harus melakukan tabayun terlebih dahulu. Jangan mudah memvonis seseorang hanya berdasarkan informasi media sosial. Konfirmasi langsung kepada pihak yang bersangkutan merupakan langkah yang lebih tepat,” tegasnya.
Tak hanya itu, Najih mengingatkan pentingnya adab dalam menyampaikan kritik kepada pemerintah atau pemimpin. Menurutnya, kritik merupakan bagian penting dari kontrol sosial, namun harus dilakukan dengan cara yang santun dan konstruktif.
“Kritik itu penting, tetapi perlu disampaikan dengan adab yang baik agar bisa diterima dan memberikan manfaat,” katanya.
Dalam aspek ekonomi, ia mengajak warga Muhammadiyah untuk membangun kemandirian umat. Menurutnya, kekuatan ekonomi menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun peradaban. Ia menekankan bahwa Islam tidak melarang umatnya menjadi kaya, selama kekayaan tersebut digunakan untuk kemaslahatan melalui zakat, infak, sedekah, dan penguatan gerakan sosial.
Menutup kajiannya, Najih menyampaikan optimismenya terhadap generasi muda Muhammadiyah di masa depan.
“Saya yakin generasi muda Muhammadiyah akan menjadi generasi yang mampu menjawab tantangan zaman, menjadi pencerah peradaban, serta memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan umat,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments