Siswa kelas 4 SD Muhammadiyah 2 Bojonegoro belajar tentang empati dan antiperundungan melalui kegiatan field trip di Pacet Mini Park, Mojokerto, Sabtu-Ahad (7–8/11/2026).
Kegiatan selama dua hari satu malam ini diikuti 118 siswa dan 13 guru pendamping. Mengusung tema Connect with Nature, Create the Future, kegiatan dirancang untuk menanamkan nilai kemandirian, kekompakan, dan sikap saling menghormati.
Sebelum keberangkatan, Kepala SD Muhammadiyah 2 Bojonegoro, Nurul Hidayah, mengingatkan siswa bahwa field trip bukan sekadar rekreasi, melainkan kesempatan belajar di luar kelas. Ia juga berpesan agar guru menghubungkan pengalaman lapangan dengan pembelajaran di sekolah serta memastikan keselamatan, kedisiplinan, dan kebersihan selama kegiatan.
Belajar Lewat Permainan dan Kekompakan
Pagi hingga sore hari, siswa mengikuti berbagai permainan outbound, mulai dari flying fox, estafet air, hingga permainan pipa bocor. Aktivitas tersebut melatih keberanian, kerja sama, dan kemampuan menyelesaikan tantangan secara berkelompok.
Melalui permainan, siswa belajar saling memberi semangat dan membantu teman. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari pembelajaran kemandirian dan kekompakan yang ingin ditanamkan sekolah.
Dalam sesi Pohon Kebaikan atau Pohon Cinta, fasilitator Bambang mengajak siswa memahami pentingnya menyayangi orang tua, menghormati guru, dan menjaga hubungan baik dengan teman.
Ia mengingatkan siswa agar berbicara dengan lemah lembut, tidak membentak atau berkata kasar, serta membiasakan diri mendoakan orang tua, guru, dan teman.

Apel Merah Jadi Media Edukasi Antiperundungan
Suasana kegiatan semakin menyentuh ketika malam tiba. Di bawah cahaya api unggun, Bambang, fasilitator ESQ dari Pacet Mini Park, mengajak siswa duduk bersama. Ia membawa dua buah apel merah sebagai media untuk menyampaikan pesan tentang dampak perundungan.
Satu apel dipukul-pukul, sedangkan apel lainnya diperlakukan dengan lembut. Setelah itu, Bambang membelah keduanya untuk memperlihatkan perbedaan kondisi di dalamnya.
“Anak-anak, bagaimana hasil dari dua buah apel ini? Apakah kalian ingin merusak fisik dan pikiran teman-teman dan membully?” tanya Bambang.
Serentak para siswa menjawab, “Tidak, Pak.”
“Itulah hati. Jika kita membully teman, mengejek, dan mengucilkan, hatinya seperti apel ini. Sekalipun kita minta maaf, bekas pukulannya tetap ada dan membekas,” jelasnya.
Sejumlah siswa terlihat terdiam dan berkaca-kaca saat mengikuti penjelasan tersebut. Melalui analogi apel, Bambang mengajak mereka memahami bahwa ejekan, pengucilan, dan perundungan dapat menyakiti perasaan teman.
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi siswa untuk saling menghargai, menjaga perasaan orang lain, dan membangun lingkungan pertemanan yang aman serta penuh kepedulian.
Ditutup dengan Janji Bersama
Kegiatan yang merupakan agenda rutin tahunan SD Muhammadiyah 2 Bojonegoro ini ditutup dengan pentas seni, tukar kado, dan janji bersama untuk menciptakan lingkungan sekolah yang ramah.
Para siswa diajak untuk saling menyayangi, menghormati, tidak membiarkan teman merasa sendiri, serta menolak segala bentuk perundungan.
Pembelajaran juga direncanakan berlanjut setelah siswa kembali ke Bojonegoro. Setiap kelas 4 akan menggelar sesi refleksi untuk menguatkan nilai saling menghormati dan antiperundungan dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di rumah.
Melalui kegiatan ini, SD Muhammadiyah 2 Bojonegoro berharap pengalaman belajar di alam terbuka dapat menjadi bekal bagi siswa untuk tumbuh mandiri, berempati, dan membangun pertemanan yang sehat. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments