Ada kisah menggetarkan tentang seorang sahabat Rasulullah saw yang belum sempat menunaikan satu rakaat salat pun setelah memeluk Islam. Namun, Rasulullah saw justru bersaksi bahwa ia termasuk penghuni surga.
Ia adalah Amru bin Tsabit bin Waqsy, yang dikenal dengan julukan Al-Ushairim, seorang lelaki dari Bani Abdul Ashal.
Kisahnya menjadi pelajaran tentang hidayah, ketulusan iman, dan betapa manusia tidak pernah tahu kapan Allah SWT membuka pintu hatinya.
Sebelum masuk Islam, Amru bin Tsabit dikenal sebagai orang yang keras menolak dakwah Islam.
Berkali-kali kaumnya mengajaknya memeluk Islam. Namun, berkali-kali pula ia menolak.
Hidayah ternyata datang pada waktu yang tidak disangka-sangka.
Ketika Perang Uhud berkecamuk, hati Amru bin Tsabit tiba-tiba terbuka. Ia memilih beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
Tanpa banyak menunggu, ia mengambil pedangnya dan bergegas menuju medan perang untuk bergabung bersama kaum Muslimin.
Berperang Setelah Memeluk Islam
Di tengah dahsyatnya pertempuran, Amru bin Tsabit bertempur dengan gagah berani.
Ia akhirnya mengalami luka parah akibat sabetan pedang dan tusukan senjata.
Setelah perang mereda, orang-orang dari Bani Abdul Ashal mencari korban dari kalangan mereka. Mereka kemudian menemukan Amru bin Tsabit dalam kondisi bersimbah darah.
Mereka terkejut.
“Demi Allah, ini Al-Ushairim! Apa yang membawanya ke sini? Padahal sebelumnya ia sangat membenci agama ini,” kata mereka.
Mereka pun mendekatinya dan bertanya, “Wahai Amru, apa yang membuatmu datang ke sini? Apakah karena membela kaummu atau karena kecintaanmu kepada Islam?”
Dengan tubuh yang sudah lemah, Amru menjawab bahwa ia datang karena kecintaannya kepada Islam.
“Aku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian aku mengambil pedangku dan berperang bersama Rasulullah ﷺ hingga aku mengalami apa yang kalian lihat sekarang.”
Tak lama setelah itu, Amru bin Tsabit mengembuskan napas terakhirnya.
Rasulullah saw Bersaksi tentangnya
Kabar tentang Amru bin Tsabit kemudian sampai kepada Rasulullah saw.
Mendengar kisah lelaki yang baru saja memeluk Islam, kemudian langsung ikut berperang dan gugur di medan Uhud, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya ia termasuk penghuni surga.”
Kisah ini kemudian sering diceritakan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
Ia bahkan pernah mengajukan pertanyaan kepada orang-orang:
“Ceritakan kepadaku tentang seseorang yang masuk surga, padahal ia belum pernah melakukan salat satu kali pun.”
Ketika orang-orang tidak mengetahui jawabannya, Abu Hurairah menjelaskan bahwa orang tersebut adalah Al-Ushairim, Amru bin Tsabit.
Bukan Alasan Meninggalkan Salat
Kisah Amru bin Tsabit tentu bukan pembenaran bahwa seseorang boleh meninggalkan salat.
Justru sebaliknya. Ia adalah kisah tentang hidayah yang datang pada detik-detik terakhir kehidupan, tentang seseorang yang begitu cepat merespons kebenaran ketika iman telah memenuhi hatinya.
Amru bin Tsabit belum sempat menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim dalam waktu panjang. Ia belum sempat menunaikan salat setelah keislamannya.
Namun, begitu hatinya menerima iman, ia langsung menunjukkan keteguhan dengan memilih berada di barisan kaum Muslimin.
Kita tidak pernah tahu kapan hidayah menyapa hati seseorang. Kita juga tidak pernah tahu kapan kehidupan berakhir.
Karena itu, pelajaran terbesarnya bukanlah tentang “belum pernah salat”, melainkan tentang jangan pernah menunda menerima kebenaran dan jangan pernah menunda berbuat baik ketika kesempatan itu datang.
Amru bin Tsabit hanya memiliki waktu yang sangat singkat setelah memeluk Islam.
Namun, waktu yang singkat itu diisinya dengan iman dan pengorbanan.
Dan Rasulullah saw memberikan kesaksian yang begitu mulia:
Ia termasuk penghuni surga. (*)
Referensi:
Musnad Ahmad, No. 23634.
Al-Isabah fi Tamyiz as-Sahabah, karya Ibnu Hajar al-Asqalani, biografi Amru bin Tsabit bin Waqsy.
Siyar A’lam an-Nubala, karya Imam Adz-Dzahabi.
Al-Bidayah wan Nihayah, karya Ibnu Katsir, pembahasan Perang Uhud.
Zadul Ma’ad, karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.





0 Tanggapan
Empty Comments