Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Buku Menembus Benteng Tradisi – 81

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Buku Menembus Benteng Tradisi – 81
Cover Buku Menembus Benteng Tradisi (foto: satria/PWMU.CO)

Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab VI berjudul “Kepemimpinan Wilayah Muhammadiyah”, halaman 249 s/d sebagian 162.

Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 80

***

Halaman 249

Konsul Daerah Madura pertama kali dijabat Notоamidarmo (1930-1933), dilanjutkan Hasbullah pada 1933-1937, yang dibantu oleh Abdul Karim dan Wiryotruno sebagai anggota Majelis Konsul. Sedangkan sejak 1938 Konsul Daerah Madura adalah Mohammad Syafi’i, dibantu Marzuki, Ronggodanukusumo, R. Mohammad Ali, dan Abdul Hamid Mudhary. Jabatan Muhammad Syafi’i sebagai Konsul berakhir sampai jabatan tersebut dihapus dari struktur organisasi, digantikan dengan struktur pimpinan daerah di tingkat kabupaten pada 1959.

Untuk Daerah Besuki, Konsul Daerah dijabat pertama kali oleh Suyono (1933-1937), dan digantikan M. Lukman pada 1937. Selama periode 1938-1940, Konsul Daerah Besuki adalah Ki Thahiruddin, dengan beberapa anggota Majelis Konsul, yaitu A. Gani (sekretaris), Sosroseputro, Budiman, R. Moch Asyrah, dan Notoadikusumo sebagai anggota. Pada periode 1941-1943, Konsul Besuki tetap dijabat oleh Ki Thahiruddin, dibantu Secoprawiro (sekretaris), Sosroseputro dan Kyai Mohammad Fanan (anggota).²

Untuk mengkaji perkembangan organisasi dan amal usaha di tingkat propinsi, diadakan forum pertemuan yang disebut Konperensi Majelis Konsul Daerah Jawa Timur, pada 23-24 Juli 1937, bertempat di Madrasah Aisyiyah Peneleh Surabaya. Konperensi ini dihadiri para konsul atau perwakilan konsul daerah dari seluruh Jawa Timur dan perwakilan Pimpinan Cabang yang diundang.

Tokoh-tokoh yang hadir dalam Konperensi Wilayah Jawa Timur itu adalah: K.H. Mas Mansur, K.H. Fakih Usman, Ajarsunyoto (semuanya anggota Majelis Konsul Surabaya); M. Lukman (Konsul Besuki); Hasbullah, Abdul Karim, Wiryotruno (Majelis Konsul Madura); Atmonotorejo, Hasbullah (Majelis Konsul Pasuruan); Rajab Gani, Beja Dermalaksana (Cabang Malang); M. Saleh, Sudiroatmojo (Cabang Surabaya); Sumowodigdo, Masruhi (Cabang Kediri); Siswoprawiro, Tegil (Cabang Lumajang); Partosoebroto, Muhajir (Cabang Blitar); Prawirodipuro (Cabang Bangkalan); H. Muchtar, M. Junus Anies (Hoofdbestuur – Pengurus Besar).³

 

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Halaman 250

Konperensi itu memutuskan antara lain: a. Membentuk Daerah Baru, yaitu Daerah Kediri yang wilayahnya meliputi Blitar, Tulungagung, Kediri, Pare, Nganjuk Kertosono; b. Cabang Lumajang dengan seluruh ranting-ranting dalam wilayahnya dimasukkan ke Daerah Pasuruan.⁴

Kegiatan Muhammadiyah dalam skala nasional yang diselenggarakan di Jawa Timur pada masa pertumbuhan antara lain Kongres ke-15 pada 1926 di Surabaya, Kongres ke-27 pada 1938 di Malang, dan Sidang Majelis Tanwir pada 1941 di Surabaya.

Keputusan penting Kongres ke-27 di Malang yang berkaitan dengan organisasi ialah penguatan Majelis Tanwir sebagai majelis yang mengkaji dan mempelajari berbagai persoalan yang berhubungan dengan maksud al-Qur’an surat al-A’raf ayat 156, sebagaimana tertuang dalam Anggaran Dasar pasal VII (hal Hoofdbestuur), ayat 6, alinea b. Penguatan Tanwir juga ditetapkan dalam Kongres berikutnya di Medan pada 1939, dan dinyatakan bahwa Sidang Majelis Tanwir adalah rapat-rapat yang dihadiri oleh Hoofdbestuur dan konsul-konsul daerah di seluruh Indonesia.⁵

***

Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 12/10/2026 22:56
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu