Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pengamat Keuangan: Ini Dampak Kenaikan Dolar ke Petani dan Nelayan Desa

Iklan Landscape Smamda
Pengamat Keuangan: Ini Dampak Kenaikan Dolar ke Petani dan Nelayan Desa
Pengamat keuangan dari Universitas Muhammadiyah Surabaya, Dr. Dedy Surahman, SE., M.M. (Foto: Yusdwiya/PWMU.CO)
pwmu.co -

Nilai tukar rupiah terus merosot hingga menembus angka Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Jika tidak dibarengi kebijakan fiskal yang benar, kenaikan dolar ini punya dampak negatif cukup banyak ke petani dan nelayan desa.

Penguatan mata uang AS yang cukup drastis ini dinilai bakal menjadi ujian yang sangat serius bagi ketahanan ekonomi nasional. Tentu jika tidak segera diantisipasi dengan kebijakan fiskal yang matang. Demikian sorotan tajam dari pengamat keuangan, Dr. Dedy Surahman, SE., M.M.

“Ya kalau ditanya dampaknya, ini jelas ujian serius buat kita. Di satu sisi, oke lah, ini bisa jadi momentum buat kita mandiri, pakai produk lokal, kuatkan sektor desa,” jelas dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) ini.

“Tapi ya itu, optimisme begitu bisa langsung jadi pesimisme kalau kebijakan fiskal kita nggak komprehensif, nggak jalan beneran,” ujar pria yang juga di Lembaga Pengawasan dan Pembinaan Keuangan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya itu.

Menurut Dedy, efek domino dari lonjakan dolar ini tidak main-main karena pasti merembet sampai ke tingkat desa dan menekan masyarakat kecil.

“Jangan dikira dolar naik cuma urusan orang kota atau industri besar aja. Ini merembet sampai desa. Banyak itu peternak, petani, nelayan, sampai pelaku usaha mikro kita yang bahannya, pupuknya, atau pakan dan obat-obatan itu masih nyangkut sama pasar internasional.”

“Begitu dolar tembus Rp18.000, ya biaya produksi mereka otomatis naik. Sehingga margin keuntungan mereka ya makin kegencet, kasihan,” tambahnya dengan nada berekspresi serius.

Kemandirian ekonomi lokal, tambah Dedy, memang cita-cita yang bagus. Tapi, jika cuma modal optimisme tanpa ada strategi fiskal yang matang, tentu tidak asuk akal.

SMPM 5 Pucang SBY

“Tantangan kita sekarang bukan seberapa tinggi dolar menguat. Melainkan seberapa siap kebijakan pemerintah mengubah tekanan global ini jadi peluang nyata.”

Karena itu, Dedy mendesak pemerintah agar instrumen fiskal segera diarahkan untuk menyangga sektor riil secara konkret. Bukan sekadar menjaga angka makro di atas kertas. Pemerintah harus memastikan adanya subsidi yang tepat sasaran, insentif UMKM, serta penguatan koperasi agar daya beli tidak jeblok. Tanpa intervensi itu, semangat kemandirian ekonomi lokal hanya akan jadi jargon kosong.

“Lha kalau nggak ada intervensi fiskal yang pas, ya ambruk semua itu usaha di desa. Operasional naik tapi pendapatan segitu-gitu aja, bagaimana mau berkembang atau bikin lapangan kerja?”

Kondisi ini jika dibiarkan, ujung-ujungnya adalah inflasi. Harga kebutuhan pokok naik, daya beli masyarakat turun. “Lantas siapa yang mau beli produk lokal? Jadi ya tantangannya bukan cuma soal produksi, tapi pasarnya juga ikut hilang nanti.”

Menurutnya, pemerintah jangan cuma modal optimisme tanpa strategi fiskal yang matang. Nanti justru malah menjadi beban baru buat masyarakat. Intinya seberapa siap kebijakan pemerintah mengubah tekanan global ini jadi peluang.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 05/06/2026 19:17
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu