Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dari Ensiklopedia Sastra Daring, Siswa Mamsaka Menyelami Jejak Para Sastrawan Indonesia

Iklan Landscape Smamda
Dari Ensiklopedia Sastra Daring, Siswa Mamsaka Menyelami Jejak Para Sastrawan Indonesia
Siswa kelas 12 Madrasah Aliyah Muhammadiyah 1 Karangasem (Mamsaka) usai menyusuri jejak para sastrawan Indonesia melalui Ensiklopedia Sastra Indonesia Daring, Senin (27/7/2026). (Wahidul Qohar/PWMU.CO).
pwmu.co -

Layar-layar laptop siswa kelas 12 Madrasah Aliyah Muhammadiyah 1 Karangasem (Mamsaka) pagi itu menampilkan wajah-wajah yang mungkin tak lagi akrab bagi sebagian generasi muda.

Ada Pramoedya Ananta Toer, Ahmad Mustofa Bisri, Andrea Hirata, Abdul Moeis, hingga Ali Akbar Navis.

Mereka bukan sedang berselancar di media sosial, melainkan menyusuri jejak para sastrawan Indonesia melalui Ensiklopedia Sastra Indonesia Daring, Senin (27/7/2026).

Mengkritisi Informasi Sastrawan Indonesia

Suasana kelas terasa berbeda. Di setiap sudut, siswa membaca dengan saksama, mencatat informasi penting, lalu berdiskusi dengan anggota kelompoknya.

Sesekali terdengar percakapan tentang perjalanan hidup seorang sastrawan, karya yang pernah ditulis, hingga sumbangsihnya terhadap perkembangan sastra Indonesia.

Melalui kegiatan mengkritisi informasi tentang tokoh sastrawan Indonesia, guru Bahasa Indonesia menghadirkan pengalaman belajar yang tidak hanya mengandalkan buku paket.

Seluruh informasi yang digunakan bersumber dari Ensiklopedia Sastra Indonesia Daring, sehingga peserta didik memperoleh referensi yang terstruktur dan kredibel.

Tokoh yang dipelajari pun beragam, mulai dari Abu Hanifah, Pramoedya Ananta Toer, Ahmad Hadi WM, Ahmad Mustofa Bisri, Andrea Hirata, Abdul Moeis, Acep Zamzam Noor, Ali Akbar Navis, hingga Amal Hamzah.

Masing-masing kelompok mendalami satu tokoh untuk memahami perjalanan hidup, karya, serta kontribusinya dalam khazanah sastra Indonesia.

Setelah menelaah informasi yang tersedia, setiap kelompok menuangkan hasil kajiannya ke dalam sebuah infografik.

Berbagai data yang semula tersaji dalam bentuk teks panjang diringkas menjadi poin-poin penting, kemudian dipadukan dengan ilustrasi dan tata letak yang menarik.

SMPM 5 Pucang SBY

Dari proses itu, siswa belajar memilih informasi yang esensial sekaligus menyajikannya dalam bentuk visual yang komunikatif.

Infografik Sastrawan 

Infografik yang telah selesai kemudian dipresentasikan di depan kelas. Secara bergantian, setiap kelompok memaparkan hasil kajiannya, menjelaskan tokoh yang dipelajari beserta gagasan-gagasan penting yang berhasil mereka rangkum dari ensiklopedia.

Presentasi tersebut menjadi bagian dari proses belajar yang melatih kepercayaan diri sekaligus kemampuan menyampaikan informasi secara runtut dan mudah dipahami.

Kepala MA Muhammadiyah 1 Karangasem, Purwanto MPd mengapresiasi pembelajaran yang menggabungkan literasi, kreativitas, dan keterampilan berkomunikasi tersebut.

“Sastra tidak hanya mengajarkan keindahan bahasa, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai kehidupan. Melalui pembelajaran seperti ini, siswa belajar mencari informasi dari sumber yang kredibel, mengolahnya menjadi karya yang menarik, lalu menyampaikannya dengan baik. Itu adalah bekal penting bagi mereka di era digital” ujarnya.

Bagi Mamsaka, mengenalkan sastra kepada peserta didik tidak cukup hanya dengan membaca karya atau menghafal nama pengarang.

Yang lebih penting adalah mengajak mereka memahami perjalanan para sastrawan, menghargai pemikirannya, dan menumbuhkan budaya literasi melalui pengalaman belajar yang aktif.

Dari sebuah ensiklopedia digital lahirlah infografik-infografik sederhana yang menjadi bukti bahwa membaca, memahami, dan menyampaikan kembali informasi merupakan keterampilan yang terus relevan bagi generasi masa kini.

Revisi Oleh:
  • Danar Trivasya Fikri - 28/07/2026 01:27
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu