Perundungan di lingkungan sekolah tidak selalu bermula dari tindakan besar. Olok-olokan, menjambak, hingga mendorong teman yang kerap dianggap sebagai perilaku usil atau jahil juga dapat menjadi bagian dari perundungan.
Persoalan itu ditemukan mahasiswa KKN Berdampak Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Kelompok 150 saat melakukan observasi di SD Negeri 1 Sumberbendo dan SD Negeri 2 Sumberbendo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri.
Temuan tersebut kemudian mendorong mahasiswa menggelar edukasi anti-perundungan bagi siswa kelas 4, 5, dan 6 pada 8 Agustus 2026.
Berdasarkan hasil pengamatan, bentuk perundungan yang ditemukan didominasi perilaku verbal dan fisik. Olok-olokan menjadi tindakan yang paling sering dijumpai, sementara beberapa siswa juga terlihat saling menjambak dan mendorong.
Rafael Gading Margono, salah satu mahasiswa peserta KKN, mengatakan edukasi tersebut berangkat dari persoalan yang ditemukan mahasiswa selama berada di lingkungan sekolah.

“Di SD, marak terjadi perundungan, paling sering berupa olok-olokan verbal. Untuk perundungan fisik, saat observasi kami melihat mereka saling jambak dan dorong,” ujarnya.
Materi yang diberikan mencakup empat bentuk perundungan, yakni fisik, verbal, sosial, dan cyberperundungan. Mahasiswa juga memberikan contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari para siswa.
Tidak hanya memberikan pemahaman mengenai bentuk-bentuk perundungan, mahasiswa juga menggunakan metode Butterfly Hug dalam kegiatan tersebut.
Teknik itu dilakukan dengan menyilangkan kedua tangan di depan dada, kemudian memberikan tepukan secara bergantian. Metode tersebut digunakan untuk membantu siswa mengenali dan merefleksikan emosi.
“Tujuannya agar terasa seperti memeluk diri sendiri dan mempermudah mereka merefleksikan emosi,” jelas Rafael.
Dalam sesi lainnya, para siswa diajak saling berpelukan dan memberikan kata-kata positif kepada teman. Interaksi tersebut dirancang untuk menumbuhkan empati sekaligus membangun sikap saling mendukung di antara siswa.
Menurut Rafael, pola perundungan yang ditemukan lebih banyak terjadi di lingkungan sekolah. Pelaku maupun sasaran cenderung merupakan orang yang sama dan tindakan tersebut berlangsung berulang.
Setelah mendapatkan materi, perubahan pemahaman mulai terlihat. Siswa mulai mengenali bahwa tindakan yang sebelumnya dianggap sekadar usil atau jahil juga dapat termasuk dalam bentuk perundungan.
“Setelah diberi materi, mereka mulai berani menegur temannya yang usil dengan berkata, ‘Hayo, gak boleh jail atau usil.’ Mereka jadi paham bahwa tindakan usil kecil itu termasuk jenis perundungan,” katanya.
Rafael menjelaskan, siswa kelas 4 hingga 6 sebenarnya telah mampu mengenali dan merefleksikan emosi. Namun, istilah perundungan belum tentu familier bagi mereka.
Edukasi tersebut menjadi sarana bagi siswa untuk memahami batas antara candaan dan perilaku yang berpotensi menyakiti orang lain.
Kegiatan itu juga membuka ruang bagi siswa untuk menyampaikan pengalaman dan perasaan mereka. Salah seorang siswa bahkan mengungkapkan pengalaman emosional setelah mengikuti sesi interaksi positif bersama mahasiswa.
“Aku enggak pernah dipeluk sehangat ini di rumah, tapi di sini dapat,” ungkapnya.
Rafael berharap pemahaman yang diperoleh siswa tidak berhenti pada kemampuan mengenali jenis-jenis perundungan. Lebih dari itu, mereka diharapkan dapat saling menghargai, berani menegur tindakan perundungan, serta memberikan dukungan kepada teman.
“Kami berharap mereka mengerti materinya, tahu contoh-contoh perundungan, dan bisa saling bersikap suportif,” pungkasnya.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments