
PWMU.CO – Suasana aula lantai 3 SMA Muhammadiyah 3 (Smamuga) Tulangan, Sidoarjo, Selasa (29/4/2025) pagi, tampak berbeda dari biasanya. Empat puluh siswa kelas XII duduk dengan tenang, bukan untuk mengikuti pelajaran seperti biasa, melainkan untuk menyambut panggilan hati yakni menjadi guru al-Quran.
Mereka bukan sekadar siswa biasa. Mereka adalah remaja pilihan yang telah melewati ujian tashih, membuktikan kelayakan mereka dalam membaca al-Quran dengan tartil. Pagi itu, mereka melangkah ke gerbang baru yakni mengikuti seminar sertifikasi guru al-Quran metode Ummi bersama Ketua Umum UMMI Foundation Sidoarjo, Iswahyudi SS.
“Menjadi guru al-Quran itu bukan hanya tentang bisa mengajar, tapi tentang bagaimana Allah memilih kita untuk menjaga cahaya-Nya,” ujar Ustadz Iswahyudi saat membuka materi dengan suara tenang dan penuh wibawa.
Ia tidak sekadar menyampaikan teori. Ia bercerita, menyentuh hati, dan mengajak untuk berpikir.
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Wahyudi juga menyampaikan betapa mulianya orang yang berinteraksi dengan al-Quran. Malaikat Jibril dimuliakan sebagai pemimpin para malaikat karena membawa wahyu. Nabi Muhammad SAW menjadi pemimpin para nabi karena menerima al-Quran. Bahkan malam Lailatul Qadar menjadi lebih baik daripada seribu bulan karena pada malam itulah al-Quran diturunkan.
“Kalau kamu belajar dan mengajar al-Quran, berarti kamu sedang berada di jalan yang sama,” tuturnya sambil menatap wajah-wajah muda di hadapannya.
Pada sesi berikutnya, ia mengajak para peserta menyelami makna mendalam dari profesi seorang guru. Semua nabi, katanya, memiliki profesi sebagai guru. Seorang guru bukan sekadar pengajar, tetapi juga penjaga tradisi, penyambung sanad, dan pembentuk peradaban.
Salah satu kisah yang membuat para peserta terdiam adalah kisah tentang seorang Bupati Sidoarjo, Jawa Timur. Suatu hari, saat masih menjabat, ia melihat guru ngajinya berdiri di pinggir jalan. Ia pun menghentikan mobil, turun, memeluk sang guru, dan memberinya sebuah amplop. Pertemuan yang mengharukan itu kemudian melahirkan kebijakan pemberian insentif bagi para guru ngaji di daerahnya, yang dananya diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Kadang, satu pelukan dari seorang guru bisa mengubah arah kebijakan negara,” ungkap Iswahyudi. Beberapa siswa kemudian tampak mengangguk pelan, seolah menemukan alasan baru untuk terus belajar dan mengabdi.
Kegiatan ini tidak hanya diisi dengan ceramah. Para peserta juga dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk berdiskusi tentang karakter seorang guru al-Quran. Mereka menyebutkan nilai-nilai seperti disiplin, ikhlas, amanah, jujur, sabar, dan istiqamah. Semua itu merupakan karakter yang bukan hanya penting bagi seorang guru, tetapi juga bagi siapa pun yang ingin menjalani hidup yang bermakna.
“Kalau kamu mengajar al-Quran hanya karena ingin dibayar, kamu akan cepat lelah. Tapi kalau niatmu karena Allah, kamu akan terus kuat bahkan dalam diam,” pesan Iswahyudi.
Sebagai penutup, siswa diminta mempraktikkan pengajaran metode Ummi melalui micro teaching. Praktik ini bukan sekadar latihan, tapi awal dari perjalanan panjang menuju dakwah al-Quran.
Di akhir acara, seorang siswa dengan mata sedikit berkaca-kaca, berbisik kepada temannya, “Aku baru sadar, jadi guru al-Quran itu bukan cita-cita biasa. Ini jalan hidup.”
Dari ruang aula Smamuga hari itu, lahirlah secercah cahaya. Bukan hanya hafalan, tapi tekad. Bukan hanya suara, tapi niat tulus untuk menjadi penjaga kalam Ilahi di tengah zaman yang penuh tantangan.
Mungkin mereka belum sepenuhnya menjadi guru hari ini, namun semangat itu sudah tumbuh. Seperti halnya al-Quran yang terus terjaga, semoga mereka pun kelak tetap istiqamah (*)
Penulis Zulkifli Editor Ni’matul Faizah






0 Tanggapan
Empty Comments