Investasi terbesar untuk menumbuhkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul adalah melalui jalur pendidikan.
Hal tersebut ditegaskan oleh Anggota Dewan Pendidikan Bojonegoro sekaligus Wakil Ketua I STIT Muhammadiyah Bojonegoro, Assoc Prof Dr Ibnu Habibi MPdI.
Hal tersebut disampaikan saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional Milad ke-40 STIT Muhammadiyah Bojonegoro di Pendopo Malowopati, Senin (29/6/2026).
Tantangan Terbesar Pendidikan
Ibnu Habibi mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dunia pendidikan di era digital saat ini adalah masifnya penggunaan kecerdasan buatan Artificial Intelligence (AI) seperti ChatGPT.
Kehadiran teknologi ini kerap kali membuat siswa memilih jalan instan dalam menyelesaikan tugas akademik, termasuk skripsi, yang berpotensi mengikis kemampuan berpikir kritis mereka.
Selain itu, paparan media sosial seperti Instagram dan TikTok turut memicu pergeseran perilaku serta tren pamer kemewahan di kalangan generasi muda.
Di tingkat lokal, Kabupaten Bojonegoro masih dihadapkan pada sejumlah persoalan krusial. Berdasarkan data yang dipaparkan Bupati Bojonegoro saat pelantikan Dewan Pendidikan baru-baru ini, tercatat masih ada sekitar 4.500 anak tidak sekolah atau putus sekolah di tahun 2026.
Tantangan ini sangat kompleks dengan angka kemiskinan yang berada di kisaran 11 persen dari total 1,37 juta penduduk, serta tingginya angka pernikahan dini yang mencapai 325 kasus.
Menyikapi problematika tersebut, Ibnu Habibi menekankan pentingnya implementasi pendidikan berbasis masyarakat.
Strategi ini menuntut penguatan kolaborasi antara tiga elemen utama (Tri Pusat Pendidikan), yaitu sekolah, orang tua, dan lingkungan masyarakat.
Orang tua diimbau tidak lagi bersikap pasrah dan melimpahkan seluruh tanggung jawab pengasuhan hanya kepada pihak sekolah.
”Sebagai langkah konkret, diperlukan optimalisasi program kunjungan ke rumah (home visit) bagi siswa yang berisiko putus sekolah. Selain itu, keterlibatan tokoh komunitas, organisasi kemasyarakatan, dan karang taruna sangat diperlukan untuk membangun “Kampung Literasi” serta memaksimalkan fungsi masjid sebagai pusat penguatan karakter dan pendidikan Islam” ujarnya.
Pemetaan Strategi Implementasi Karakter
Lebih lanjut, ia juga memetakan strategi implementasi karakter yang harus diterapkan oleh para guru berdasarkan jenjang usia anak didik.
Pada tingkat Sekolah Dasar (SD/MI), fokus utama terletak pada pembiasaan etika dasar dan keteladanan nyata dari guru, serta mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dalam setiap mata pelajaran.
Sementara di tingkat SMP/MTs, pembelajaran harus diarahkan pada pengembangan berpikir kritis, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial lewat diskusi kelompok maupun pembelajaran berbasis proyek.
Adapun pada jenjang SMA/SMK/MA, guru bertugas matang untuk mempersiapkan mental peserta didik dalam menghadapi dunia perkuliahan dan dunia kerja.
”Kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri dengan ego masing-masing institusi. Visi sekolah harus selaras dengan keinginan orang tua di rumah serta didukung iklim lingkungan masyarakat yang positif” terang Ibnu.
“Melalui sinergi ini, kita sedang mempersiapkan generasi yang tangguh dan siap hidup di tengah masyarakat yang maju 25 hingga 35 tahun ke depan demi menyongsong Indonesia Emas 2045,” tutupnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments